Pembaca Berdaulat
Infodemic, istilah menarik yang disampaikan oleh Prof. Dr. Sultan pada pengukuhan Guru Besar UNM 30 Juli 2026 lalu. Informasi seolah-olah menjadi wabah seperti pandemi covid dulu. WHO (2021) mendefinisikan infodemic ini sebagai kondisi membanjirnya informasi, baik yang akurat maupun yang menyesatkan, dan volume yang melampaui kapasitas masyarakat untuk menyaring dan memaknainya secara sehat.
Kementerian Komunikasi dan Digital mengidentifikasi 1.890 konten hoaks selama periode Oktober 2024 sampai Desember 2025. Berarti ada 4,58 hoaks menghiasi kehidupan kita setiap hari (Nugraha, 2025). Tentu ini sangat mengkhawatirkan di tengah hasil PISA yang menunjukkan skor literasi siswa Indonesia yang terus menurun. Konsisten berada di peringkat bawah dari 81 negara. Siswa Indonesia memiliki kemampuan yang baik dalam menemukan informasi, tetapi sangat lemah dalam menafsirkan, merefleksi dan mengevaluasi isi teks.
Menghadapi itu semua, Prof. Sultan melemparkan gagasan Pembaca Berdaulat. Pembaca yang tidak mudah menyerahkan pikirannya, tapi berdaulat atas penalarannya sendiri. Mampu berdiri tegak di tengah gempuran disinformasi tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih dan bersikap mandiri. Pembaca berdaulat tidak mudah dikendalikan oleh teks, tetapi memahami cara teks diinterpretasi, dinilai, dan digunakan dalam kehidupan.
Lebih lanjut Prof. Sultan menyampaikan empat karakteristik Pembaca Berdaulat. Pertama, berkesadaran kritis (critical awareness). Pembaca berdaulat mampu melihat apa, mengapa, bagaimana, dan kepentingan apa yang ada pada suatu teks. Pembaca berdaulat berpandangan bahwa teks bukanlah produk yang sepenuhnya netral. Teks dapat membentuk cara pembaca memahami realitas.
Kedua, verifikatif yaitu memiliki kebiasaan menelusuri dan menguji kebenaran informasi sebelum menerima, menggunakan, atau menyebarkannya. Tidak mudah mempercayai informasi hanya karena disajikan secara meyakinkan, disebarkan secara luas, atau berasal dari figur yang populer. Pembaca berdaulat mampu membedakan antara klaim dan bukti, popularitas dan kredibilitas, keyakinan dan kebenaran.
Ketiga, mandiri (autonomy). Memiliki kemandirian dalam menimbang informasi, bukti, dan berbagai sudut pandang sebelum menentukan sikap. Ia tidak mudah terseret oleh opini dominan, otoritas tokoh, popularitas suatu pandangan, ataupun dorongan emosional sesaat. Mampu membedakan fakta, opini, interpretasi, dan propaganda. Menilai relevansi serta kekuatan bukti. Mengenali bias dan kelemahan argumentasi. Mempertimbangkan sudut pandang alternatif secara proporsional.
Keempat, partisipatif yaitu memiliki kesediaan untuk bersikap dan bertindak secara etis berdasarkan informasi yang diperolehnya. Membaca tidak hanya untuk pemahaman dan penilaian. Juga untuk menggunakan, menanggapi, memproduksi, dan menyebarkan informasi secara bertanggung jawab. Memberikan koreksi terhadap informasi yang keliru, menggunakan sumber secara jujur, dan menghasilkan tanggapan atau wacana alternatif yang bermanfaat bagi kehidupan bersama.
Bagaimana cara mewujudkan empat karakteristik di atas? Prof. Sultan mengajukan model pembelajaran literasi kritis. Model ini sudah masuk pada level ketiga literasi. Level pertama yaitu literasi dasar berupa kemampuan mengenali huruf, mengeja, dan memahami makna tersurat. Level kedua yaitu literasi fungsional. Mampu menggunakan keterampilan membaca menulis untuk keperluan praktis sehari hari. Level ketiga yaitu literasi kritis. Kemampuan menembus lapisan ideologi, kepentingan dan relasi kuasa yang membentuk teks.
Model pembelajaran literasi kritis terdiri atas 8 alur tahapan. Agar mudah diingat huruf awalnya membentuk kata LITERASI. Apa saja alurnya? Lacak konteks, Identifikasi klaim, Telusuri sumber, Evaluasi bukti, Rundingkan perspektif, Afirmasi suara yang disenyapkan, Suarakan gagasan, Introspeksi dan refleksi metakognitif. Harapannya dengan alur tersebut pembaca berdaulat memiliki lima kompetensi yaitu mengenali, mempertanyakan, menelusuri dan memverifikasi, memaknai dan mengevaluasi, menyuarakan dan bertindak.
Itulah pokok pikiran Prof. Sultan untuk menghadapi era infodemic. Era paradoks besar peradaban informasi yang melimpah, cepat, mudah diakses, tapi banyak informasi yang menyesatkan. Solusinya dengan membangun pembaca berdaulat yang berkesadaran kritis, verifikatif, mandiri, dan partisipatif. Caranya model pembelajaran literasi kritis di sekolah dan perguruan tinggi. Semoga masyarakat Indonesia dapat menghadapi era infodemic dengan baik.
Makassar, 10 Agustus 2026
