Kegiatan

on 23 Mei 2019
  • Message of the Director

Renungan 16 Ramadhan 1440 H

Pagi ini Rabu 22 Mei 2019 / 16 Ramadhan 1440 kami melayat ke rumah duka Pak Arif,

Tata Usaha SD Baruga yang meninggal dunia selasa malam di Rumah Sakit Faisal Makassar. Kepergiannya begitu mengagetkan karena tidak ada kabar sebelumnya jika beliau punya penyakit berat. 

Saat di rumah duka itulah kejadiannya jadi jelas. "Sebelum masuk rumah sakit, pak Arif tabrakan dengan bentor. Tidak ada luka luar. Cuma terasa sakit di dada. Dianggap biasa saja sampai mulai ada sesak nafas. Maka diperiksalah ke dokter dan ada luka dalam di paru-paru", demikian kisah bu Wati kakak Pak Arif yang juga karyawan Athirah. 

Maka dirujuklah untuk dirawat di rumah sakit Faisal. Setelah lima hari rawat inap Allah memanggilnya untuk kembali ke haribaan-Nya. Selasa malam kejadiannya. Tak ada yang menduga, kakaknya yang menjaganya juga kaget. Sore hari saat dijenguk sama rekan kerja pak Arif masih bisa bercanda sebagaimana kebiasannya.  

"Setelah mengucap kata Laa Ilaaha Illallah wajah pak Arif berubah pucat. Saya panik panggil perawat. Diperiksa ternyata sudah tiada", Bu Wati mengisahkan saat-saat akhir hayat adiknya. Sungguh akhir hayat yang indah, husnul khotimah. Dapat mengucapkan kalimat tauhid di ujung kehidupannya. Rasulullah menjamin siapa yang dapat mengucapkan kalimat tauhid di akhir hayatnya maka akan masuk surga. 

Meninggal di bulan Ramadhan saat pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup rapat. Sepulang dari melayat saya merenungi apa kelebihan pak Arif sehingga dapat anugrah seperti itu? Saya menemukan ada 3 hal positif yang menjadi ciri beliau. 

Pertama, ibadahnya terjaga. Ciri khas pak Arif selalu pakai peci di sekolah. Saat waktu shalat tiba beliau ke masjid shalat berjamaah. Hablum minallah terjaga dengan baik. 

Kedua, komentar dari rekan kerja dan orang tua  kesannya sama yaitu pak Arif sangat ramah. Tidak pernah marah. Malah suka bercanda. Tidak punya 'musuh'. Jadi hubungan dengan sesama manusia atau hablum minannas sangat baik. 

Ketiga, bekerja tuntas, memuaskan dan sepenuh hati. Beberapa orang tua menceritakan pengalamannya saat ada urusan anaknya di tata usaha. Pak Arif melayaninya dengan ramah dan mengerjakannya dengan cepat dan baik. Orang tua puas dengan hasil kerjanya. Jadi sikap kerja dan profesionalismenya luar biasa. 

Kesimpulannya pak Arif ini orang yang baik sehingga akhir hayatnya pun juga baik (husnul khotimah). Jika ingin meninggal dengan cara yang baik maka jalanilah hidup dengan baik. Jika menjalani hidup dengan buruk, maka besar kemungkinan meninggal dengan cara yang buruk pula (su'ul khotimah). 

Jika dikaitkan dengan Jalan Kalla maka pak Arif telah mengamalkan dengan baik Kerja Ibadah, Apresiasi Pelanggan, Lebih Cepat Lebih Baik, Aktif Bersama. Hubungan yang baik dengan Allah, manusia dan profesional dalam bekerja. 

Semoga kejadian ini menjadi contoh, ibrah dan pelajaran bagi kita semua khususnya Keluarga Besar Athirah. Kita semua ingin kembali kepada Allah dalam keadaan akhir yang baik (husnul khotimah),  jiwa yang tenang (nafsul muthmainnah).   

Bulan Ramadhan dengan puasa, shalat dan tilawah serta amal saleh lainnya melatih diri kita untuk senantiasa menjadi orang baik. Jika itu dilakukan ikhlas karena Allah maka iman dan amal sebagai ciri orang yang tidak merugi telah kita miliki. Jika itu terus kita jalani secara istiqamah dalam kehidupan, insyaallah kita bisa meraih husnul khotimah.