Kegiatan

on 01 April 2019
  • Message of the Director

Mulai hari ini siswa SMA se Indonesia mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer. Ini adalah fase UN yang terus diperbaiki oleh pemerintah. Dengan UNBK tidak ada lagi cetak soal oleh pusat yang kemudian disebar ke sekolah. Dahulu untuk memastikan tidak ada kebocoran maka dikawal oleh polisi. Sekarang sudah tidak ada lagi.


UNBK dengan teknologi komputer maka soal disiapkan di server lalu didownload oleh sekolah. Jadi bukan online yang realtime karena pasti sulit dan server bisa down. Meskipun sudah di-download oleh sekolah beberapa hari sebelum tes namun tapi belum bisa dibuka sebelum dapat pin khusus di saat menjelang ujian.

Penggunaan teknologi pada Ujian Nasional dampaknya sangat efektif dan efisien. Efektif karena tes dapat berlangsung dengan objektif tanpa ada kebocoran soal sebelum ujian. Efisien karena tidak ada lagi biaya cetak soal, pengantaran, pengawalan dan pengiriman jawaban ke panitia untuk diperiksa. Jawaban siswa secara realtime via online langsung terkirim ke server pusat di saat ujian.  

Selain itu pengawasnya juga disilang dari sekolah lain. Ini dari zaman dahulu sudah berlaku. Jika pengawas dari guru sendiri ada kemungkinan terjadi conflict of interest. Kepala Sekolah ingin nilai siswanya bagus karena menentukan reputasi sekolah. Akhirnya guru bisa diinstruksikan membantu dalam pengerjaan soal. 

Memang masih ada celah kecurangan jika antar sekolah saling kongkalikong atau sekolah di wilayah tertentu diinstruksikan oleh pejabat terkait untuk membantu siswa di wilayahnya agar nilainya bagus. Terkadang pejabat ingin menghibur diri dengan keberhasilan semu yang bukan nilai sebenarnya. Hanya ingin menyenangkan atasannya saja.

Agar hal tersebut tidak terjadi maka pejabat terkait, manajemen sekolah dan orang tua harus menyadari bahwa nilai UN bukanlah faktor utama penentu keberhasilan anak di masa datang.

Menurut penelitian faktor utama penentu keberhasilan di masa depan yaitu kejujuran, disiplin diri, kerja keras, kerja sama, komunikasi, berfikir kritis dan kreatif. Semuanya terkait dengan karakter dan kompetensi generik. 

Membangun karakter dan kompetensi generik ini melalui proses belajar. Dibutuhkan scientific approach yang memberi kesempatan siswa untuk mengamati, menduga, meneliti, berdiskusi, mengambil kesimpulan.

Dibutuhkan collaborative and active learning yang mendorong siswa bekerja sama dalam sebuah learning project dan dapat aktif belajar dan menemukan sendiri pemahamannya. Guru berperan sebagai fasilitator dan mentor.

Membangun karakter juga dapat dilakukan saat siswa menjalani ujian. Ketegasan sekolah menegakkan SOP ujian dan menjaga ujian berlangsung  dengan fair dan jujur akan menjadi pembelajaran bagi siswa untuk juga jujur,  disiplin dan percaya diri. 

Jika sekolah memberi contoh melanggar aturan, membantu peserta ujian maka siswa juga belajar untuk menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan. Juga akan membangun ketidakjujuran dan rasa tidak percaya diri siswa. Saat dia dewasa dan menjadi pejabat di masyarakat maka berpotensi untuk korupsi, kolusi dan nepotisme.

Oleh karena itu mari bersama jadikan Ujian Nasional Berbasis Komputer tahun ini sebagai wahana pendidikan karakter siswa. Pendidikan bukan hanya melahirkan orang pintar. Tapi yang utama adalah melahirkan manusia yang berkarakter baik dan kuat. Selamat Ujian Nasional.