Kegiatan

on 21 Agustus 2017
  • Message of the Director

Ada kejadian menarik saat Pak Bambang konsultan Kalla Group diskusi dengan para Kepsek se Athirah di acara Fine Tuning Strategy Map dan KPI Sekolah hari Jumat 7 Juli 2017. Saat jelaskan tentang contoh KPI market share di perusahaan para Kepsek kurang paham karena memang belum pernah ada di sekolah. Akhirnya melalui penjelasan sederhana bisa paham juga.


Itu contoh saja bahwa apa yang kita kerjakan termasuk di sekolah harus semuanya SMART yaitu Spesific, Measureable, Attainable (menantang), Realistic dan Time bound. Maka terjadilah diskusi seru apa KPI di perspektif Costumer yang nanti diukur. Ditemukanlah KPI indeks karakter, indeks religiusitas, indeks prestasi akademik dan school image rank.

Selanjutnya akan diagendakan pada pertemuan berikutnya untuk menurunkan KPI pada Internal Business Process. Apa saja yang harus dilakukan sebagai proses untuk mencapai KPI di Costumer Perspektif. Semua program yang dijalankan harus bisa diukur kemajuan dan pencapaiannya sehingga dapat terus dipantau dan diperbaiki. Harapannya target untuk costumer dapat tercapai.

Untuk menjalankan itu semua jangan lupakan Learning and Growth serta Finance. Karena ini institusi pendidikan maka Finance bukan sebagai tujuan tapi sebagai pendukung proses. Learning and Growth terkait SDM dan Sistem Informasi. Semuanya harus bisa juga diukur. Misalnya SDM pada aspek kuantitas dan kualitas kompetensi dgn KPI competency fit index.

Setelah semua KPI terdefinisi maka diturunkan ke level wakasek sampai ke guru. Semua orang akan ada KPI individu yang jadi dasar penilaian kinerja. Lalu tentu dikembangkan juga ke strategy initiative yang dirangkum dalam One Year Action Plan (OYAP). Lalu tiap awal bulan diturunkan ke Rencana Kerja Bulanan yang akan dimonitor pada tiap Rapat Awal Pekanan dan diukur progress di PDCA meeting bulanan.

Apa yang coba dilakukan ini di dunia korporasi adalah hal yang biasa. Tapi di dunia pendidikan mungkin hal yang baru. Tentu harapannya bukan menjadikan dunia pendidikan sebagai profit oriented. Tetap pendidikan sebagai benefit oriented. Hanya dengan pendekatan dan pola kerja korporasi. Harapannya benefit dan manfaat yang diberikan dapat maksimal. Bukankah Rasulullah bersabda "yang terbaik diantara kamu adalah yang paling banyak bermanfaat untuk orang lain". Terbaik bukan semata karena prestasi tapi manfaat.

*Update tulisan dengan mengikuti Facebook : Syamril Al Bugisyi