Umroh di Suasana Perang
Suasana Timur Tengah kembali panas. Perang Iran dan AS belum selesai. Muncul lagi perang Arab Saudi dan Houthi Yaman. Milisi Houthi menyerang kota-kota di Arab Saudi selain Mekkah dan Medinah. Bandara di Riyadh diserang. Menimbulkan korban jiwa dan mengganggu jadwal penerbangan.
Hal ini juga berdampak pada penerbangan jamaah umroh dari berbagai negara. Ada yang penerbangannya dibatalkan, dijadwal ulang, atau dialihkan ke bandara lain. Bandara di Jeddah banyak mendapat pengalihan. Akibatnya kepadatan tinggi di bandara berdampak pada jadwal penerbangan.
Meskipun kondisi penerbangan banyak gangguan, semangat umat Islam untuk menunaikan ibadah umroh di kota suci Mekkah tidak surut. Kami yang sedang berada di Mekkah pada Jumat 23 Oktober 2026, jamaah shalat Jumat sangat padat. Diperkirakan lebih dari sejuta jamaah memadati Masjidil Haram. Demikian pula kondisi kota Medinah. Hingga hari ini senin 26 Oktober 2026 masjid Nabawi juga penuh sesak.
Itulah keajaiban dua kota suci Mekkah dan Medinah. Ketakutan dan kekhawatiran tidak menghalangi kerinduan. Seluruh ummat Islam yang punya iman di dadanya, ada kerinduan mengunjungi Mekkah dan Medinah. Kondisi apapun tidak bisa menghalangi. Ibarat syair lagu orang yang jatuh cinta. Siap mendaki gunung dan menyeberangi lautan demi bertemu pujaan hati.
Selain kerinduan, memang juga ada panggilan spiritual dari Sang Pencipta. Panggilan yang disampaikan Nabi Ibrahim a.s ribuan tahun lalu. Panggilan yang masuk dan hidup dalam sanubari orang yang beriman. Kekuatan iman yang dahsyat siap menghadapi ancaman, ketidakamanan dan ketakutan.
Berbekal kekuatan iman tersebut saya menyaksikan berbagai keajaiban dari para jamaah. Meskipun panas, berdesak-desakan, jutaan manusia yang berbagai negara, bahasa yang berbeda, kulit beraneka warna, tetap dalam kondisi senang dan tenang. Tidak ada pertengkaran karena gesekan dan saling mendorong. Yang banyak terlihat adalah saling menolong dan berbagi.
Faktor yang menentukan juga niat atau tujuan. Datang ke tanah suci niatnya untuk ibadah kepada Allah. Mengorbankan harta yang tidak sedikit untuk biaya umroh. Jamaah Indonesia untuk paket 10-15 hari rata-rata biaya antar 30 - 40 juta rupiah. Juga waktu dan tenaga terkuras saat ibadah umroh. Perlu waktu 2-3 jam untuk thawaf dan sa'i. Tenaga juga terkuras karena terus bergerak dan berjalan. Hitungan kami sekitar 15.000 langkah.
Pengorbanan tersebut bukan untuk mendapatkan keuntungan duniawi. Jamaah mencari pahala, ampunan, syafaat dan rahmat dari Allah. Mencari bekal akhirat karena yakin adanya kehidupan setelah kematian. Berharap meraih bahagia dunia dan juga akhirat yang abadi.
Ternyata para jamaah juga meraih ketenangan hati dan charge kembali iman. Juga refreshing karena wisata religi. Pikiran dan jiwa kembali segar. Harapannya saat kembali ke tanah air menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat. Semoga perang segera berakhir agar ibadah umroh berjalan dengan tenang dan tentram.
