Kegiatan

on 23 Desember 2020
  • Message of the Director

Hampir sepekan Makassar terus diguyur hujan. Sinar matahari terkadang seharian tidak tampak karena tertutup awan tebal. Hujan deras turun di pagi, siang, sore, malam dan dini hari. Air yang turun mengalir ke tempat yang lebih rendah.

Seharusnya terus mencari tempat lebih rendah yaitu ke laut setelah melalui sungai yang muaranya di lautan luas. 

Namun ternyata tidak seperti itu. Mungkin karena drainase dan jalur menuju sungai tidak lancar akhirnya air tergenang di daratan. Bisa juga karena volume air yang sangat besar sehingga tidak bisa ditampung oleh sungai. Akibatnya banjir pun terjadi. Luapan air dari sungai masuk ke kawasan perumahan dan hunian manusia.

Banjir di Kota Makassar sudah menjadi rutinitas tahunan. Hampir di tiap bulan Desember saat curah hujan tinggi, selalu terjadi banjir. Dampaknya sangat besar bagi masyarakat. Kerugian material karena air masuk ke dalam rumah akan merusak barang-barang yang ada di dalamnya. Kesehatan juga terganggu karena sanitasi dan air bersih yang kurang. 

Jika air semakin tinggi maka warga juga harus mengungsi ke tempat lain yang lebih tinggi. Maka kita pun saksikan beberapa masjid dan bangunan umum menjadi tempat pengungsian. Muncul masalah baru karena terjadi kerumunan di masa pandemi Covid-19. Saat sekarang kasus positif covid semakin tinggi, kondisi ini bisa menaikkan jumlah kasus baru jika tidak diterapkan protokol kesehatan dengan baik.

Menghadapi banjir tahunan perlu langkah responsif dan antisipatif. Responsif bersifat jangka pendek yaitu keselamatan dan kesehatan masyarakat. Bagaimana masyarakat memiliki tempat tinggal sementara yang aman dan tersedia kebutuhan makanan pokok sehari-hari. Untuk itu perlu bahu membahu antara pemerintah, masyarakat dan lembaga sosial kemanusiaan.

Penyediaan dapur umum membutuhkan biaya. Selain dana dari pemerintah bisa juga dari penggalangan dana masyarakat yang tidak terkena dampak banjir. Ini untuk memupuk solidaritas dan gotong royong warga.

Perusahaan juga bisa turut membantu melalui dana CSR. Ada langkah bagus oleh Kalla Group yang bisa dicontoh oleh perusahaan lain. Selain bantuan dari CSR perusahaan juga ada pengumpulan dana meals card karyawan. Berhubung karyawan banyak bekerja dari rumah maka uang makan di meals card banyak tidak terpakai. Maka Relawan Kalla membuka open donation bagi karyawan dengan menyumbangkan dana makan yang belum dipakai.

Selanjutnya perlu langkah antisipatif agar kejadian ini tidak terjadi setiap tahun. Pemerintah Kota perlu bermitra dengan Perguruan Tinggi untuk mencari akar masalah banjir ini. Apakah karena perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan sehingga drainase tersumbat serta aliran sungai tidak lancar? 

Mungkin juga karena pembangunan perumahan yang menggunakan lahan yang tidak sesuai peruntukannya sehingga daerah resapan berkurang? Atau karena erosi di daerah pegunungan yang menyebabkan pendangkalan sungai?Atau mungkin juga sebenarnya pemerintah sudah tahu akar masalahnya. Hanya saja sulit mengeksekusinya karena kendala tertentu?

Masa sekarang adalah saat yang tepat untuk memikirkan langkah yang tepat untuk mengatasi masalah banjir tahunan ini. Jika masalah ini lintas sektoral dan lintas wilayah maka perlu sinergi dan kerja sama serta leadership yang kuat dari Provinsi agar eksekusi bisa berjalan dengan baik. Semoga dengan langkah yang tepat dan cepat dari seluruh pihak, masalah banjir segera teratasi dan tidak terjadi lagi di masa datang.