Kegiatan

on 18 September 2020
  • Message of the Director

Pada era modern ini menurut Prof. Dr. Tobroni, M.Si pada buku Spiritual Leadership, ada 3S sebagai penyakit manusia yaitu Stress, Stroke dan Stop. Beratnya beban kerja dan masalah kehidupan membuat manusia mudah stress.

Jika tidak dikelola dengan baik dapat jadi stroke sampai akhirnya mati atau stop. Tentu kita tidak ingin mengalami 3S di atas. Kita inginnya dalam bekerja bisa PSBB yaitu Poduktif, Sejahtera, Bahagia, Bersama.

Sejahtera dan Bahagia adalah dambaan tiap insan yang bekerja. Apakah semua orang bisa meraih itu. Tidak juga. Ada orang yang sejahtera tapi tidak bahagia. Ini terjadi karena apa yang diperolehnya tidak disyukuri dengan baik. Masih ada iri dan dengki kepada orang lain. Akhirnya selalu merasa tidak cukup. Bisa juga karena gaya hidupnya yang boros. Menuruti keinginan bukan kebutuhan. Akibatnya jumlah yang banyak juga tidak pernah cukup.

Bisa juga sejahtera tapi tidak bahagia karena tidak menikmati pekerjaannya. Apa yang dikerjakan tidak sesuai dengan passion, bakat dan suara hati. Bekerja dengan terpaksa karena tidak ada lagi pilihan. Capaian kinerja yang bagus diraih dalam kondisi penuh tekanan, keterpaksaan dan persaingan. Akibatnya stress jadi menu hidup sehari-hari.

Bisa juga terjadi karena tidak mampu mengelola masalah dan emosi diri dengan baik. Bekerja bersama orang lain pasti selalu ada masalah. Tidak selalu sesuai harapan. Jika tidak mampu mengelola emosi diri dengan baik maka interaksi serta relasi dengan atasan dan rekan kerja jadi kurang harmonis. Itu membuat suasana tidak nyaman dan akhirnya tidak bahagia.

Di sinilah perlunya kecerdasan emosi dan manajemen stress.  Dibutuhkan kemampuan untuk memahami, menggunakan dan mengelola emosi dengam cara yang positif . Dampaknya akan dapat menghilangkan stress, komunikasi secara efektif, berempati dengan orang lain, mengatasi tantangan dan meredakan konflik. Jika itu dapat dilakukan maka produktif, sejahtera dan bahagia dapat diraih.

Bagaimana cara mengelola emosi secara cerdas? Fauziah Zulfitri Direktur Insight Indonesia pada webinar Manajemen Strees di Sekolah Islam Athirah memberikan 5 strategi mengelola emosi dengan cerdas yaitu pendekatan spiritual, mindfullness atau fokus hidup pada saat ini, positif imagery atau berbaik sangka, positif self talk atau berkata positif kepada diri sendiri, dan menuliskan isi hati.

Secara praktis dapat dilakukan dengan membuat jurnal bersyukur harian. Tuliskan setiap hari apa saja nikmat yang dirasakan. Ini melatih fokus pada kebaikan dan membangun perasaan positif. Juga menuliskan perasaan yang dialami setiap hari seperti takut, cinta, senang, marah dan sedih. Hal ini membantu untuk mengurai emosi negatif melalui katarsis dan menyimpan emosi positif untuk disyukuri.

Apa tujuan itu semua? Untuk mengurangi beban pikiran dan emosi negatif serta melapangkan dada menghadapi segala keadaan. Hal ini sejalan dengan rumus fisika tentang tekanan (P) = Gaya (F)/Luas (A). Agar tekanan atau stress turun maka caranya gaya atau beban diperkecil dan luas bidang tekan diperbesar. Artinya kurangi beban hidup dan luaskan atau lapangkan dana untuk menerima segala keadaan.

Ajaran agama Islam mengajarkan pendekatan spiritual untuk dapat melapangkan dada. Ada 5 hal yang harus dimiliki dan disingkat dalam akronim ISTRI yaitu iman, sabar, tawakkal, ridha dan ikhlas. Yakini segalnya dari Allah, milik Allah dan kembali kepada Allah. Semoga jadi mudah untuk bersabar dan tawakkal kepada Allah. Akhirnya dapat ridha menerima segala keadaan dengan penuh keikhlasan.

Semoga kita dapat mengelola emosi secara cerdas agar terhindar dari stress karena beban masalah dan pekerjaan. Dampaknya tetap produktif dan bahagia di kondisi apapun. Selamat mencoba.