Kegiatan

on 28 Agustus 2019
  • Message of the Director

Teknologi internet telah merubah banyak hal. Ia mengubah cara kita belajar. Tidak lagi melalui instruksi tapi mencari (searching ar googling). Suka unduh dan unggah.  Cara bergaul juga berubah.

Senang berinteraksi di media sosial namun suka menyendiri juga.

Menurut para ahli internet dibuat bukan untuk anak-anak tapi pengguna internet terbesar adalah anak anak. Bahkan orang tua jika anaknya yang masih bayi atau balita menangis untuk mendiamkannya diberi gadget dan akses internet. 

Akibatnya terjadilah kecanduan smartphone dan internet di kalangan anak-anak. Mereka sulit lepas dari gadget apalagi jika sudah berkenalan dengan game online. Jika kuotanya habis atau tidak ada jaringan maka ia menangis dan marah. Media massa pernah mengabarkan seorang anak yang mengamuk karena saat mudik ke kampung orang tuanya di desa tidak ada jaringan internet.

Bagaimana menghadapi itu semua? Cahyadi Takariawan pada seminar parenting di LAN Makassar 25 Agustus 2019 lalu mengatakan bahwa kunci pertama adalah orang tua tidak boleh berdiam diri dan hanya pasrah serta menyalahkan keadaan. Orang tua harus mengambil tanggung jawab. 

Agama mengajarkan bahwa anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah suci. Orang tualah yang memberinya warna kebaikan atau keburukan. Juga anak adalah amanah yang di akhirat kelak akan diminta pertanggung jawabannya. 

Bagaimana menjalankan tanggung jawab itu? Terapkan rumus TEGA. Apa itu? Tegas menerapkan aturan, Edukasi sepanjang hari, Gemarkan membaca dan berkegiatan kreatif, Ajak bersosialisasi.

Buat aturan misalnya sehari hanya boleh 2 jam. Atau hanya boleh di akhir pekan. Aturan itu harus dijalankan dengan konsisten. Jangan sampai orang tua 'mengalah'. Tapi ingat bukan semata aturan perlu ada edukasi dampak negatifnya. Serta beri alternatif kegiatan positif lain seperti membaca, olahraga dan berteman.

Anak-anak harus dibatasi menggunakan gadget dan orang tua harus tega. Jika anak menangis sampai berguling-guling karena tidak bersama gadget biarkan saja. Jangan jadi kasihan tapi nantinya karena kecanduan jadi masalah di masa depannya.

Pada akhirnya jangan lupa setelah berusaha juga berdoa kepada Allah. Anak-anak kita hanya titipan dari Allah bukan milik orang tua. Allah yang menguasai hati dan jiwa manusia. Semoga anak kita pun juga dapat dijaga dari dampak negatif teknologi.