Kegiatan

on 21 Mei 2019
  • Message of the Director

Renungan 14 Ramadhan 1440 H

Prof. dr. Budu Dekan Fakultas Kedokteran Unhas menceritakan pengalamannya saat masih dokter muda.

Beliau beberapa kali mendampingi pasien di saat akhir hayatnya atau sakaratul maut. Ada beragam kejadian yang bisa jadi pelajaran. 

Suatu saat ada pemuda korban kecelakaan yang kondisinya kritis. Saat akan diambil tindakan dalam keadaan tidak sadar pemuda itu masih bisa mengucapkan kata yang tidak sopan "sund*la" sambil mengacungkan jari telunjuk ke dokter. 

Sampai akhirnya tiba bapak dari pemuda itu. "Ada apa ini pak, kok anak bapak seperti ini?" Prof. Budu bertanya kepada orang tua pemuda itu. "Memang begitu kesehariannya. Kalau minta sesuatu dan tidak dipenuhi dia tunjuk kita dan teriak kata sund*la". Jawab orang tuanya. "Biarkan saja mati. Sudah pusing saya melihatnya", lanjut bapaknya.

Kisah di atas adalah contoh akhir hayat yang buruk atau su'ul khotimah. Apa yang diucapkan di akhir hayatnya merupakan kebiasaan dia yang lama dan berulang. Masuk ke dalam otak dan jiwa sehingga di saat yang sangat menentukan kata-kata itu keluar secara otomatis. 

Tentu kita tidak ingin mengalami hal seperti itu. Kita ingin akhir yang baik atau husnul khotimah. Kita ingin di akhir hayat kita bisa mengucapkan "laa ilaaha Illallah" atau kalimah thayyibah lainnya. Jika itu bisa kita lakukan maka Allah menjamin akan masuk ke dalam surga.

Menurut Prof. dr. Budu ada 2 cara yang bisa dilakukan. Pertama membiasakan diri mengucapkan kalimah thayyibah dalam keseharian. Bisa dalam bentuk aktivitas dzikir rutin pagi dan petang atau di saat senggang maupun sibuk tetap dalam aktivitas berzikir. Sering kita lihat ada orang yang membawa tasbih atau counter digital. Tiap saat terus berzikir. 

Apakah cukup dengan itu? Tentu tidak. Bisa jadi itu hanya di lisan saja belum masuk ke dalam hati. Oleh karena itu menurut Prof. Budu perlu langkah kedua yaitu menghadirkan hati dengan menghayati apa yang diucapkan. Zikir dengan memahami apa yang diucapkan lalu direnungi dan diresapi ke dalam jiwa. 

Lebih lanjut juga harus dibarengi dengan kebersihan jiwa dan raga dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh ketakwaan kepada Allah. Kalimah thayyibah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Memurnikan niat dalam segala aktivitas semata-mata karena Allah, senantiasa bersyukur dengan segala nikmat dari Allah, berusaha sungguh-sungguh melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, ridha dan sabar dengan segala ketetapan Allah.

Semoga dengan itu semua maka kalimah thayyibah itu mendarah daging dalam raga dan diresapi ke dalam jiwa dengan penuh rasa iman kepada Allah. Hadir dalam setiap nafas dan denyutan jantung kehidupan sehingga bisa hadir di alam bawah sadar.

Semoga bulan Ramadhan dengan puasa, shalat dan tilawah serta amal saleh lainnya melatih diri kita untuk senantiasa dzikrullah, ingat kepada Allah. Jika itu masuk ke dalam alam bawah sadar dan menjadi darah daging kehidupan, insyaallah kita bisa meraih husnul khotimah.