Kegiatan

on 07 Mei 2019
  • Message of the Director

Renungan Hari ke-2 Ramadhan 1440 H

Seorang polisi sangat kaget melihat pencuri yang ditangkapnya shalat di dalam tahanan.

Dia bertanya ke pencuri "bapak kok shalat padahal pencuri?" Apa jawaban pencuri

"shalat itu ibadah mencuri itu pekerjaan".

Apa yang aneh dari jawaban pencuri itu? Dia merasa wajar saja karena dia memisahkan antara ibadah dan pekerjaan. Pekerjaan boleh apa saja baik halal atau haram yang penting jangan lupa shalat. Urusan pekerjaan tidak ada hubungan dengan Allah. Jadi kerja dan ibadah sesuatu yang terpisah.

Cerita di atas mungkin kita anggap hanya fiktif dan tidak mungkin terjadi. Anda salah. Ini banyak terjadi dalam kehidupan kita. Seorang teman bercerita saat temannya mengurus ijin usaha ke sebuah instansi terjadi negosiasi pembayaran sogokan dengan salah seorang pejabatnya. Tiba-tiba terdengar adzan. Si pejabat berkata "kita shalat dulu pak. Setelah shalat kita lanjutkan".

Mereka pun menuju masjid untuk shalat dan setelah selesai lanjut lagi negosiasinya. Si pengusaha ini bingung juga. Kok bisa ya orangnya rajin shalat tapi juga suka terima sogokan. Suka korupsi. Pemahaman si pejabat mirip dengan si pencuri. Bahwa shalat itu ibadah, negosiasi sogokan itu pekerjaan.

Seolah-olah ruang dan waktu kehidupan kita tersekat. Saat di ruang rapat secara terbuka kita membahas rencana manipulasi dan tindakan yang tidak sesuai ajaran agama. Tidak masalah yang penting menguntungkan. 

Saat di masjid tiba-tiba kita berubah menjadi sangat khusyu dalam zikir dan shalat, membaca Al Qur'an, menyimak ceramah. Apalagi di bulan ramadhan. Orang yang melihat kita di masjid tidak akan menyangka kalau di ruang rapat kita membahas rencana yang tidak sesuai ajaran agama.


Apa akar masalah dari berbagai perilaku seperti di atas? Itu karena kita belum secara utuh 'meletakkan' Allah dalam kehidupan kita. Allah hanya ada di masjid, atau tempat shalat,  tidak ada di kantor. Padahal Allah ada di mana saja ruang dan waktu kehidupan kita. Di mana saja dan kapan saja Allah Maha Menyaksikan apa yang kita lakukan.

Selanjutnya itu terjadi karena kita memaknai ibadah hanya ibadah khusus seperti shalat. Sehingga di luar itu bukan ibadah. Padahal tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk beribadah. Jadi seluruh aktivitas kita baik shalat, bekerja, makan, tidur dan lainnya harus bernilai ibadah.

Bulan Ramadhan dengan ibadah puasa selama sekitar 13,5 jam melatih kita untuk merasakan keberadaan Allah di luar waktu shalat. Kita berada dalam keadaan beribadah puasa sambil melakukan pekerjaan sehari-hari. 

Harapannya terjadi penyatuan antara pekerjaan dan ibadah. Tumbuh rasa takut untuk berbuat salah di aktivitas pekerjaan karena sedang beribadah puasa. Semoga itu terus terbawa di luar bulan Ramadhan.