Kegiatan

on 05 September 2017
  • Message of the Director

Saat umat Islam sedang menyambut Idul Adha dan jutaan kaum muslimin sedang berkumpul di tanah suci Mekkah, dunia dikejutkan dengan berita pembantaian kaum muslim Rohingya di Myanmar. Beredar video dan foto yang menunjukkan kebiadaban dan hilangnya perikemanusiaan.

Sungguh ironi. Di era modern yang menjunjung HAM ternyata masih ada manusia yang berperilaku biadab seperti itu. Apalagi dilakukan atas nama negara dan memakai simbol agama. Junta militer Myanmar terlibat bersama biksu radikal. Lebih ironi lagi diamnya sang penerima Nobel dari Myanmar.

Ada apa dengan Rohingya? Sungguh ironi lagi karena dunia seakan bisu tanpa suara. Berbeda jika itu terjadi di negara Eropa atau Amerika. Satu jiwa yang jadi korban suara seluruh dunia memberi kutukan. Di Rohingya ribuan jadi korban tapi hanya Indonesia dan beberapa negara muslim yang bersuara.

Suara negara dan dunia sulit kita pengaruhi atau kendalikan. Suara kita masing-masinglah yang bisa dikendalikan. Agama mengajarkan jika melihat kemungkaran maka cegahlah dengan tangan, lisan dan hati. Dengan tangan tentu sulit karena butuh kekuasaan.

Mari lakukan dengan lisan melalui suara kepada manusia atau kepada Allah sebagai Raja manusia. Mari di setiap do'a kita setelah shalat ikutkan mereka. Lebih bagus lagi di qunut nazilah secara berjamaah di dalam shalat.

Bagi yang dianugerahi Allah harta mari ikut berpartisipasi menyumbangkan dana kepada lembaga terpercaya. Sekecil apapun akan sangat berguna bagi mereka. Semoga dengan itu semua menunjukkan bahwa kita masih punya nurani kemanusiaan dan peduli kepada sesama sebagai pengamalan agama dan Pancasila.

Mari juga mendukung langkah-langkah pemerintah yang mengambil inisiatif politik secara tepat dan cepat. Semoga dengan itu menjadi langkah yang berarti untuk mewujudkan perdamaian dunia sebagai amanah Pembukaan UUD 1945.

Makassar, 4 September 2017