Kegiatan

on 14 November 2018
  • Message of the Director

Apakah Syukur Itu?

Cerita 1 :

Seorang ibu yang memiliki rumah type 21 melihat tetangganya yang rumahnya type 36. “Alangkah bahagianya kalau punya rumah type 36, jadinya tidak berdesak-desakan seperti sekarang”, gumamnya.

Pemilik rumah type 36 ternyata juga melihat tetangganya yang rumahnya type 64.

“Alangkah bahagianya kalau punya rumah type 64, tiap anak punya kamar”.

Eh ternyata pemilik rumah type 64 juga melihat tetangganya yang rumahnya type 100. “Alangkah bahagianya kalau punya rumah type 100. tiap anak punya kamar dan barang-barang juga punya tempat Kalau adakan arisan bisa leluasa di dalam rumah.

Ternyata pemilik rumah type 100 juga melihat tetangganya yang rumah type 21. “Alangkah bahagianya pemilik rumah 21 itu. Rumahnya ramai dengan tawa dan canda, tidak seperti saya yang tinggal sendirian karena suami dan anak-anak super sibuk belum pulang sampai jam 9 malam”.

Dari kisah di atas, pertanyaannya siapakah yang bahagia? Ternyata orang lainlah yang berbahagia, dirinya tidak bahagia. Menurut masing-masing semua berbahagia, tetapi menurut diri masing-masing tidak ada yang bahagia.

Kenapa terjadi seperti itu? Hal ini terjadi karena tiap orang fokus pada yang tidak ada (milik orang lain), bukan fokus pada yang ada (milik sendiri). Jika saja mereka bisa fokus pada yang ada (milik sendiri), bukan yang tidak ada (milik orang lain) maka semua akan bahagia.

Jadi kata kunci yang bisa membuat mereka bahagia adalah : fokus pada yang ada, bukan yang tidak ada. Itulah Syukur. Dengan bersyukur manusia akan bahagia.

“Barang siapa yang tidak mensyukuri (pemberian) yang sedikit, dia tidak akan mensyukuri (pemberian) yang banyak.” (HR. Ahmad Baihaqi dan Abid-Dunya).

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (Q.S. Ibrahim : 34)

Nikmat Allah yang Harus Disyukuri 
Nikmat Allah terbagi atas tiga bagian, yaitu :
1. Nikmat kesehatan dan kehidupan

“Ambillah kesempatan yang lima sebelum datangnya yang lima, yaitu masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, hidupmu sebelum matimu dan waktu senggangmu sebelum waktu sibukmu.” (H.R. Hakim dan Baihaqi)

“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya serta baik pula amal perbuatannya.” (HR Tirmidzi)

2. Nikmat akal (kemampuan berpikir)
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (Q.S. At Tiin : 4)

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Q.S. An Nahl : 78)

3. Nikmat hidayah beragama 
Ini merupakan anugerah yang tak terhingga karena tidak sedikit orang yang merasa gelisah saat beribadah kepada Allah SWT. Berbahagialah orang-orang yang mampu merasakan nikmatnya beribadah kepada Allah karena merekalah orang-orang yang telah diberi hidayah oleh Allah SWT.

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (Q.S. Al Insan : 3)

Terkait dengan nikmat kehidupan khususnya harta benda, agar pandai bersyukur kita diminta untuk melihat ke bawah, berjiwa qana’ah (merasa cukup) dan jauh dari iri hati dan dengki.

Tapi nikmat akal dan hidayah kita diminta melihat ke atas sehingga terpacu untuk selalu belajar, dan memperbaiki diri serta meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah. Kita diperbolehkan untuk iri kepada orang lain yang lebih berilmu dan beramal.

Bagaimana Cara Syukur Nikmat?
Cerita 2 :

“Seorang direktur yang baru pulang dari Mekkah memberikan oleh-oleh peci dan sorban kepada sopir pribadinya. Dengan sangat senang, si sopir menerimanya dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang.

Hadiah yang istimewa, dibeli di Mekkah. Sang direktur pun sangat senang karena ucapan terima kasih si sopir. Sampai akhirnya suatu hari Pak Direktur datang ke rumah pak sopir karena ada acara nikahan anaknya.

Alangkah kagetnya Pak Direktur karena ternyata sorban yang diberikan dijadikan keset kaki serta peci dijadikan lap meja oleh pak sopir”.

Kalau Anda menjadi Pak Direktur bagaimana perasaan Anda? Apakah di saat lain Anda masih mau memberikan hadiah ke sopir Anda?

Syukur adalah menggunakan nikmat Allah secara proporsional. Dengan kata lain, nikmat yang kita terima harus dimanfaatkan sesuai dengan tujuan yang dikehendaki Allah sebagai Pemberi nikmat.

Jadi syukur mempunyai makna yang sangat luas, tidak sekadar getaran terima kasih yang terungkap dalam hati, mengucapkan dengan lidah atau mengadakan syukuran.

Hal terpenting adalah memanfaatkan semua karunia Allah pada jalan yang diridhai-Nya. Misalnya, akal digunakan untuk berpikir, mempelajari hingga mampu membuahkan pemikiran-pemikiran yang baik dan benar.

Anggota tubuh dimanfaatkan untuk ibadah dan melakukan hal-hal yang berguna bagi kesejahteraan hidup.

Imam Al Ghazali mengatakan ada tiga bersyukur kepada Allah yaitu :
1. Bersyukur dengan hati, yaitu mengakui dan menyadari segala nikmat itu dari Allah.

2. Bersyukur dengan lidah, yaitu mengungkapkan rasa syukur dengan banyak membaca Alhamdulillah.

3. Bersyukur dengan amal perbuatan, yaitu menggunakan dan memanfaatkan seluruh anggota tubuh untuk beribadah kepada-Nya.

Apakah Pak Sopir tadi sudah bersyukur? Ternyata belum. Dia hanya bersyukur dengan lidah. Tapi amal perbuatannya tidak. Akibat dari perbuatannya itu, bisa jadi atasannya akan marah sehingga di saat lain atasannya tidak akan memberinya lagi hadiah.

Demikian pula dengan Allah yang telah memberikan kepada kita nikmat yang banyak. Jika digunakan untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan peruntukannya maka Allah akan marah kepada kita. Tapi kalau digunakan dengan baik di jalan yang diridhai Allah, maka Allah akan menambah nikmat-Nya kepada kita.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih". (Q.S. Ibrahim : 7)