2 Tim SMP Islam Athirah Makassar Wakili Sulsel di OPSI 2026
MAKASSAR – Dunia riset pelajar Sulawesi Selatan kembali menempatkan SMP Islam Athirah Makassar di panggung nasional. Dua tim penelitian sekolah tersebut berhasil lolos ke tingkat nasional dalam ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) SMP 2026.
Capaian ini sekaligus menjadikan SMP Islam Athirah Makassar sebagai sekolah dengan jumlah tim terbanyak yang lolos dari Sulawesi Selatan. Tahun ini, terdapat empat tim dari Sulawesi Selatan yang berhasil menembus tahap nasional, dua di antaranya berasal dari Kota Makassar dan seluruhnya merupakan tim SMP Islam Athirah Makassar.
Pada tahap awal, SMP Islam Athirah Makassar mendaftarkan lima tim penelitian. Empat tim kemudian berhasil lolos ke tahap proposal dan penelitian. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, dua tim akhirnya masuk dalam jajaran 20 tim terbaik nasional pada masing-masing bidang penelitian.
Persaingan tersebut melibatkan 1.088 tim bidang IPA dan 1.037 tim bidang IPS dari berbagai daerah di Indonesia. Dari jumlah tersebut, hanya 20 tim terbaik pada masing-masing bidang yang berhak melaju ke tingkat nasional.
Dua tim SMP Islam Athirah Makassar yang lolos mengusung penelitian dengan isu yang berbeda, tetapi sama-sama berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Pada bidang IPA, tim yang terdiri atas Bening Faratika Ayuni dan Adil Kusuma Ramadhan mengembangkan penelitian berjudul “Hydrocool: Smart Bio-based Hydrogel Cooling Case Berbasis Biopolimer-CaCl₂ sebagai Sistem Pendingin Pasif Terintegrasi dalam Mengatasi Overheating pada Smartphone.”
Penelitian tersebut mengangkat gagasan pemanfaatan material berbasis biopolimer sebagai solusi pendinginan pasif untuk mengatasi persoalan overheating pada perangkat smartphone.
Sementara itu, pada bidang IPS, Andi Aila Putri Nafeeza dan Muhammad Alfath Abrisam Ahza mengangkat penelitian berjudul “EPIC-AI (Epistemic Protection and Information Control Toward Artificial Intelligence): Analisis Ketahanan Epistemik Remaja terhadap Misinformasi sebagai Cerminan Kesiapan Literasi Artificial Intelligence.”
Penelitian ini menyoroti kemampuan remaja dalam menghadapi misinformasi di tengah perkembangan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), sekaligus melihat kesiapan literasi AI dari perspektif ketahanan epistemik.
Kepala SMP Islam Athirah Makassar, Nilamartini menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini merupakan hasil dari proses panjang yang dijalani siswa bersama guru pembimbing.
“Bersyukur kepada Allah SWT atas perkenaan-Nya. Kami bahagia dan bangga atas pencapaian ini. Terima kasih kepada guru pembimbing dan anak-anak yang sudah berikhtiar luar biasa, bergelut dengan penelitian selama berbulan-bulan,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak yang terlibat dalam proses penelitian, termasuk mitra dari perguruan tinggi yang membantu pengembangan riset siswa.
“Selanjutnya kami akan menyiapkan diri semaksimal mungkin, kemudian berserah kepada-Nya. Kami berdoa semoga di tingkat nasional anak-anak kembali dianugerahi rezeki kemenangan dan pulang membawa medali,” katanya.
Lebih dari sekadar mengejar prestasi, keterlibatan dalam OPSI dinilai menjadi bagian dari proses pembelajaran riset sejak dini. Siswa dilatih untuk berpikir kritis, analitik, dan sistematis, sekaligus mengembangkan kemampuan menulis ilmiah, berkolaborasi, dan berkomunikasi.
“Dengan keikutsertaan dalam OPSI, kami ingin memperkenalkan dunia riset sejak dini. Jika kemudian berprestasi, capaian itu juga menjadi portofolio atau rekam jejak prestasi yang luar biasa bagi anak-anak,” lanjutnya.
Bagi Aila, lolos ke tingkat nasional tidak membuat proses belajar berhenti. Ia dan tim justru memperkuat persiapan dengan terus membaca kembali laporan penelitian dan naskah presentasi.
“Kami berlatih sungguh-sungguh, menyiapkan niat yang tulus, serta senantiasa berdoa dan berikhtiar kepada Allah SWT. Kami selalu membaca laporan penelitian dan naskah presentasi. Kami juga belajar untuk tidak terlalu puas dengan hasil latihan, tetapi terus berkembang menjadi lebih baik,” ujar Aila.
Persiapan juga diarahkan pada kemampuan menyampaikan hasil penelitian. Latihan dilakukan secara berulang, terutama dalam public speaking, pemilihan kata, hingga pengaturan nada saat presentasi.
Sementara itu, Alfath mengaku bangga mendapat kesempatan membawa nama Sulawesi Selatan ke panggung nasional OPSI.
“Sebagai salah satu perwakilan provinsi, saya merasa bangga dan bersyukur telah diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di panggung nasional OPSI. Tentunya hal ini berkat dukungan orang tua, bimbingan guru-guru, serta pihak SMP Islam Athirah Makassar,” tuturnya.
Lolosnya dua tim tersebut menjadi bagian dari perjalanan riset siswa SMP Islam Athirah Makassar yang tidak berhenti pada pencapaian kompetisi. Di balik penelitian yang mereka kembangkan, terdapat proses panjang untuk membangun kebiasaan bertanya, mengolah informasi, menguji gagasan, bekerja dalam tim, dan mempertanggungjawabkan temuan secara ilmiah.
Selanjutnya, kedua tim akan mempersiapkan diri menghadapi tahap nasional dengan memperkuat penelitian sekaligus mematangkan presentasi. Mereka akan membawa dua gagasan dari Sulawesi Selatan untuk bersaing bersama tim-tim terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
Laporan : Hasniwati Ajis
