Kegiatan

on 22 September 2021
  • Kegiatan
  • SMP Kajaolalido

Penulis : Rini Budiarti, S.Pd.,M.Pd. (Guru IPA SMP Islam Athirah 1 Makassar)

Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan merupakan daya dan upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelektual) ,dan tubuh anak agar dapat mamajukan kesempurnaan hidup, yaitu kehidupan anak yang sesuai dengan dunianya. Hal ini bermakna bahwa sangat penting untuk menyelaraskan cipta, rasa dan karsa, atau dengan istilah yang lebih popular yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Tujuan mendidik bukan sekedar untuk membuat anak menjadi pintar dan sehat, namun yang terpenting adalah membuat anak menjadi baik dan mencapai kesejahteraan psikologis.

Kesejahteraan psikologis kerap disebut dengan istilah wellbeing. Wellbeing merupakan kondisi sejahtera yang mencakup emosi dan suasana hati yang positif, tidak adanya emosi negatif, kepuasan dengan kehidupan, serta kemampuan menilai hidup secara positif dan merasa baik. Untuk mencapai wellbeing, setiap orang harus memiliki 5 kompetensi social emosional, diantaranya kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan sosial, serta pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Kesadaran diri murid dapat dilatih dengan pembiasaan guru menanyakan suasana hati murid di awal pelajaran.

Kompetensi sosial emosional berikutnya adalah pengelolaan diri. Pengelolaan diri terkait dengan pengelolaan emosi. Pengelolaan emosi menjadi bagian terpenting ketika kita sudah mengenal emosi yang telah terjadi pada diri kita. Pengelolaan emosi dapat dilatih dengan cara sederhana yaitu dengan latihan pernafasan dengan cara rileks. Dimulai dengan menghentikan terlebih dahulu semua aktifitas yang sedang dilakukan, lalu fokus merasakan udara yang masuk dan keluar serta mengamati apa yang terjadi pada tubuh kita. Setelah itu amati berbagai pilihan yang dapat dilakukan dengan didasari keinginan belajar dan kebaikan. Latihan pengelolaan emosi terbukti dapat mengembalikan fokus dan mood dalam belajar.

Kompetensi sosial emosional yang ketiga adalah kesadaran sosial. Kesadaran sosial berarti kesadaran untuk merasakan apa yang terjadi di sekitar kita, atau dengan bahasa sederhana yakni kemampuan berempati. Empati dapat dilatih melalui pembiasaan, baik di rumah maupun di sekolah. Contoh kegiatan yang dapatmembangun empati di antaranya yaitu membaca inspiratif tokoh yang berhasil bangkit dari keterpurukan, membaca berita, atau menonton video tentang orang-orang yang tidak beruntung dengan berbagai kekurangan, dan sebagainya. Bagian terpenting dari kegiatan ini adalalah menjawab pertanyaan yang dapat menumbuhkan empati yaitu apa yang dirasakan orang tersebut? Apa yang mungkin akan dia lakukan? dan apa yang saya rasakan jika mengalami kejadian yang sama?

Kompetensi sosial emosional berikutnya adalah keterampilan sosial atau dengan istilah lain resiliensi. Apa yang dimaksud resiliensi? Resiliensi atau daya lenting adalah kemampuan individu untuk merespon tantangan atau tauma yang dihadapi dengan cara-cara sehat yang produktif (Reivivich dan Shattle, 2002). Adakalanya seseorang mengalami masalah hubungan sosial yang membuatnya down. Masalah yang timbul bisa disebabkan oleh banyak faktor, namun yang terpenting untuk menyikapinya kita harus memiliki 3 prinsip I, yaitu I have, I am, dan I can. I have bermakna saya memiliki dukungan dari orang-orang di sekitar. I am berarti saya adalah seseorang yang memiliki potensi tersendiri, dan I can artinya saya dapat melakukan usaha untuk menyelesaikan masalah. 

Kompetensi sosial emosional yang terakhir adalah pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Dalam mengambil suatu keputusan yang bertanggung jawab atas suatu permasalahan, perlu ditelaah terlebih dahulu masalah yang sesungguhnya terjadi. Suatu hal atau kejadian dikatakan masalah jika terdapat gap antara harapan dan kenyataaan. Setelah mengenali masalah, langkah berikutnya adalah mencari alternatif pemecahan masalah. Biasanya akan muncul beberapa opsi dalam mengambil keputusan penyelesaian masalah. Setiap opsi pasti memiliki konsekuensi. Apakah kita siap dan bisa menerika konsekuensi dari opsi tersebut? Kesiapan kita dalam menerima konsekuensi akan menentukan apakah kita termasuk seseorang yang bertanggung jawab atas keputusan yang diambil atau bukan.

 Editor : Hasniwati Ajis (Tim Web SMP Islam Athirah 1 Makassar)