Kegiatan

on 23 Juni 2021
  • Kegiatan
  • SD Bukit Baruga

“Guru Stres akan Berdampak pada Siswa”, begitulah judul salah satu berita media online. Di dalamnya dibahas bahwa guru yang stres berpotensi dapat berpengaruh pada pengalaman belajar siswanya. Memang dunia dan segala aspeknya mengalami stuck yang hampir sama dalam kurun waktu satu tahun ini. Tak lepas dari dampak pandemi, pemerintah Indonesia pun menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Harapan tahun baru, tahun 2021, agar hilangnya pandemi pada semester genap ini yang akan mengantarkan siswa kembali ke sekolah, seakan hanya sebuah harapan yang tak tahu kapan terwujud. 

Tak sedikit orang tua yang mulai memberikan saran agar sekolah lekas memulai pembelajaran offline. Bagaimana tidak, dalam International Journal of Science and Society, “The Parents Stress Level in Facing Children Study From Home in the Early of Covid-19 Pandemic in Indonesia”, diketahui bahwa 10,31 persen orang tua mengalami stres tinggi, 75,34 persen mengalami stres sedang, 10,31 persen mengalami tingkat stres rendah. Tidak hanya orang tua, menurut survei yang diadakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) terhadap lebih dari 3.200 anak SD hingga SMA pada Juli 2020 lalu, sebanyak 13% responden mengalami gejalagejala yang mengarah pada gangguan stres ringan hingga berat selama masa PJJ. Innalillah. 

Stres tidak hanya dialami oleh orang tua dan siswa, guru pun sebagai pendidik siswa di sekolah memiliki tantangan tersendiri dalam pembelajaran saat ini. Tak jarang timbul rasa stres dan bertanya kapan bisa mengajar siswanya secara langsung. Hal itu tentu menjadi salah satu hal yang memengaruhi kebahagiaan guru. Padahal guru sebagai pendidik, seharusnya bahagia. Guru yang bahagia, tentu akan menyalurkan dampak kebahagiannya kepada siswa. Seperti itu pula stres berpotensi dapat berpengaruh pada pengalaman belajar siswanya. 

Ada banyak studi literatur yang telah mengurai indikator kebahagiaan seseorang. Dalam jurnal “Indikator Kebahagiaan (Al-Sa’adah) dalam Perspektif Alquran dan Hadis” mengurai ada 17 indikator kebahagiaan dalam perspektif Alquran dan hadis, yaitu iman dan takwa (50 ayat), berpegang teguh pada agama (2 ayat), berbuat baik (23 ayat), sabar (7 ayat), syukur (7 ayat), penyucian jiwa (2 ayat), menyeru pada kebaikan dan melarang kemungkaran/perbuatan buruk (3 ayat), berjuang di jalan Allah (5 ayat), mencari dan mendapat rida Allah (10 ayat), mengingat Allah (3 ayat), mendapat karunia/rahmat Allah (28 ayat), memperbaiki diri (7 ayat), memberi teladan (2 ayat), mencari perlindungan Allah (2 ayat), berserah diri (3 ayat), menolak kejahatan dengan kebaikan (3 ayat) serta menjaga lisan dan perbuatan (5 ayat). 

 Menariknya, ternyata indikator terbanyak terdapat dalam 50 ayat yang mengaitkan kebahagiaan dengan iman dan takwa. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kebahagiaan di dalam Islam sangat erat kaitannya dengan iman dan takwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Apa itu iman dan takwa? Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Iman itu meliputi perkataan dan perbuatan. Dia bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambah dengan sebab ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.” Sedangkan takwa adalah menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sikap dasar seorang muslim itu 'kami dengar dan kami patuh' (sami'na wa atho'na) atas perintah dan larangan Allah Subhanahu wa ta’ala. Sikap dasar ini menjadi sumber utama kebahagiaan. 

 Apa saja hal yang dapat dilakukan guru untuk menjaga bahagia dengan meningkatkan iman dan takwa di masa pandemi? Selain bersungguh-sungguh dalam beramal shaleh dan menjauhi sebab-sebab yang mengurangi keimanan, guru juga bisa terus berupaya mempelajari ilmu yang bermanfaat, membaca Alquran dan mentadabburinya, mengikuti kelas tahsin tahfiz online, serta membaca sirah. Seperti yang diterapkan oleh guru SD Islam Athirah 2 Makassar, guru-gurunya secara aktif mengikuti kelas tahsin tahfiz secara online. Tidak hanya itu, guru-guru juga senantiasa meningkatkan keimanan dan mengisi laporan aktivitas yang terangkum pada Jalan Kalla. Di dalam Jalan Kalla terdapat aktivitas tadabbur Alquran, puasa serta mendengarkan kajian islami.  

Kajian ayat-ayat kauniyah Allah juga merupakan upaya meningkatkan iman dan takwa. Ayat kauniyah memberikan tanda bahwa Allah itu ada, baik seperti yang tercatat dalam kitab Allah maupun melalui tanda yang ditunjukkan makhluk ciptaan-Nya. Kajian ayat kauniyah Allah salah satunya dapat kita terapkan dalam spiritualisasi pembelajaran. Misalnya, ketika guru akan mengajarkan cuaca, guru dapat mengawalinya dengan mengkaji ayat tentang penciptaan langit dan bumi serta perputaran siang dan malam yang salah satunya terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 164. Atau ketika akan memulai pelajaran tentang satuan waktu, kita bisa memberikan penjelasan tentang makna waktu seperti yang terdapat dalam QS. Al-Ashr. Mengkaji ayat Allah akan senantiasa membuat kita mengingat Allah yang mengantarkan pada ketenangan hati. Hati yang tenang membuahkan kebahagiaan tidak hanya pada yang menerima pelajaran, tapi juga yang mengajarkan yaitu guru.  

Korelasinya adalah guru yang memilih bahagia dengan senantiasa meningkatkan iman dan takwa dapat dengan mudah melakukan kebaikan atas izin Allah. Guru yang bahagia akan mudah menebarkan kebahagiaan kepada siswanya. Guru yang bahagia diharapkan menjadi role model bagi siswanya. Dalam jurnal “Happiness Level of Teachers and Analyzing its Relation with Some Variables” menyimpulkan bahwa guru memiliki peran penting dalam meningkatkan kebahagiaan dalam sistem pembelajaran. Seperti kata Syamril, S.T., M.Pd., Direktur Sekolah Islam Athirah, bahwa mendidik itu membahagiakan. Mari mengisi pembelajaran di masa pandemi dengan kebahagiaan! Guru bahagia, siswa bahagia. InsyaAllah.

 Penulis : Insana Pertiwi, S.Pd.,M.Pd. (Guru SD Islam Athirah 2 Makassar)