Leadership Blueprint di Era AI
Era sekarang teknologi semakin dominan dengan munculnya Artificial Intelligence yang masuk ke seluruh bidang kehidupan. Kehadiran AI tidak hanya menambah tapi juga mengubah cara manusia bekerja dan berinteraksi dengan orang lain. Tentu berpengaruh juga pada leadership di organisasi. Hal ini menjadi salah satu topik kajian pada acara Makassar Leadership Summit yang diadakan pada 7 Oktober 2026 di Hotel Claro Makassar.
Isdar dari Mercer pada paparannya yang berjudul "New Leadership Blueprint in the Age of AI" menyoroti tentang perubahan yang cepat di tempat kerja. Dari survey yang dilakukan secara global dunia terjadi penurunan karyawan yang merasa bertumbuh di tempat kerja. Pada tahun 2024 sebanyak 66%, turun menjadi 44% di tahun 2026. Tingkat kepuasan juga turun dari 56% menjadi 34%. Sangat tidak puas naik dari 4% menjadi 12%.
Dampak lebih lanjut dari ketidakpuasan yaitu tidak betah di tempat kerja. Perlu diketahui lebih lanjut apa yang membuat karyawan betah. Dari hasil studi MARSH ditemukan 6 faktor utama yaitu positive and respectful culture, workplace flexibility, fair play, inspiring leadership, job security dan my manager.
Dari data MARSH 2026 tersebut dapat disimpulkan bahwa orang sekarang bertahan bukan karena gaji atau takut dipecat. Mereka betah dan bertahan karena budaya kerja yang positif & saling menghargai (56%). Kemudian fleksibilitas kerja (40%), boleh atur sendiri kapan & dimana kerjanya. Gaji yang adil (38%) masih penting, tapi bukan nomor satu lagi. Intinya jika budaya toxic, atasan tidak inspiratif, dan tidak diberi fleksibilitas, karyawan akan keluar meski gaji bagus dan pekerjaannya aman.
Data MARSH 2026 juga menunjukkan adanya gap besar antara yang dianggap penting oleh executives (atasan) dan employees (karyawan). Menurut atasan, hal paling penting agar sukses menjadi leader di organisasi yaitu Risk awareness and resilience - 72% (IQ), Strategic planning and execution - 66% (IQ), Accountability and trustworthiness - 66% (EQ). Atasan memandang leadership itu soal IQ: strategi, mitigasi risiko, problem solving.
Menurut karyawan hal yang paling penting untuk menjadi great leader yaitu Communication skills - 70% (EQ), Empathy - 67% (EQ),
Integrity and honesty - 64% (EQ). Karyawan memandang leadership itu terkait EQ: komunikasi, empati, dan jujur. Aspirasi karyawan tetap terkait dengan hubungan sebagai sesama manusia. Di tengah perkembangan teknologi AI yang semakin pesat, sisi kemanusiaan tetap penting dan menjadi perhatian.
Lebih lanjut studi MARSH menemukan 78% level Direksi sepakat, untuk menjadi leader yang efektif di 2026, harus bisa mengelola paradoks, menyeimbangkan dua hal yang bertolak belakang secara bersamaan.
Ada 5 paradoks yang harus diseimbangkan yaitu directive vs empowering (tegas tapi juga memberdayakan tim, bukan micro-manage). Individualistic vs Synergetic (kebebasan individual, tapi juga kolaborasi tim). Task vs People (target, tapi juga peduli). Stability vs Adaptability (stabil & aman, tapi juga adaptif dan berubah cepat) . Strategy vs Execution (strategi jangka panjang, tapi juga harus bisa eksekusi di lapangan).
Kesimpulannya, organisasi tidak akan mampu menghadapi era kerja sama Manusia + AI jika pemimpinnya tidak mampu menginspirasi dan memimpin perubahan dengan Human Center Leadership. Adanya perkembangan teknologi membutuhkan Digital Quitiont (DQ) selain IQ dan EQ. Dengan itu semua pemimpin akan mampu mengelola dan menyeimbangkan 5 paradoks di atas.
Makassar, 12 Oktober 2026
