Berita

on 20 Februari 2018
  • Message of the Director
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia 'open the front door' memiliki arti
'(mem)buka pintu depan'. Klausa (mungkin pula kalimat perintah) ini mungkin pernah teman-teman baca dalam buku Quantum Teaching terbitan Kaifa untuk versi bahasa Indonesia. Saya tiba-tiba saja teringat saat tadi mendampingi AEP ( Athirah Eduparents Program ) sesi open mind dari Pak Syamril yang menyoal tentang otak kiri-kanan dan otak 'triune' (reptilia, mamalia dan neokorteks----yang banyak dibahas dalam buku Quantum Learning larya Bobby de Potter).

Open the front door ini juga dulu sering kami bahas di Athirah Bone tahun-tahun 2012 atau 2013. Seperti maknanya, open the front door ini adalah tehnik yang bagus dalam membuka komunikasi yang topiknya cenderung rumit, semisal hendak menegur perilaku yang kurang sesuai, atau menyampaikan keinginan agar orang lain memperbaiki sikap maupun kinerjanya secara smooth sehingga tidak membuat lawan bicara kita sakit hati, menyangkal bahkan menolak (resisten).

Nah, apa yang menarik dari open the front door ini? Mari kita perhatikan masing-masing huruf awal pada klausa/kalimat tersebut, akan kita dapatkan huruf O, T, F, dan D. Huruf O adalah singkatan dari kata Observation (pengamatan), huruf T-nya adalah Thought (pikiran), huruf F adalah Feeling (perasaan) dan huruf D adalah singkatan untuk kata Desire (keinginan). OTFD ini adalah sebuah formula.

Saat hendak menegur atau menyampaikan keinginan kita pada orang lain, pintu pertama yang harus kita lewati adalah menyampaikan pengamatan kita, paparkan data dan fakta empiris bukan persepsi, dengan begitu lawan bicara kita tidak akan menyangkal. Kedua, sampaikan pikiran kita dengan jelas dan tenang, selanjutnya kita sudah bisa mengungkapkan perasaan kita atas hal/kejadian tersebut, terakhir bisa ditutup dengan menyatakan keinginan kita tentang apa yang harus orang tersebut lakukan sebagai tindakan perbaikan.

Biar lebih jelas, mari kita menyimak contoh berikut: Saya lihat sudah empat hari ini kamu telat datang ke kantor. Saya juga sudah mendapatkan data-data absen melalui print out mesin kehadiran fingerprint. Tidak biasanya seperti ini.------ Observation

Saya pikir hal ini serius karena sudah mempengaruhi kinerja kamu juga. Padahal di kantor sedang banyak pekerjaan yang membutuhkan ketepatan waktu.------ Thought

Saya merasa sedikit kecewa dengan keterlambatan kamu ini. Sebagai atasan kamu, saya merasa ikut bertanggung jawab, apalagi sebentar lagi kita akan penilaian kinerja, aspek kedisiplinan sangat berpengaruh.------- Feeling

Saya ingin kamu bisa menemukan cara agar kamu bisa datang tepat waktu mulai besok. Saya yakin kamu bisa menyelesaiakan ini, atau kita bisa mendiskusikannya. Kamu ada komentar tentang hal ini?-------Desire

Kira-kira demikianlah cara memformulasikannya dalam contoh sederhana di atas. Ini adalah salah satu tehnik dari begitu banyak tehnik yang ada dalam berkomunikasi dengan orang lain. Namanya tehnik kadang cocok kadang tidak, kadang efektif pada situasi tertentu kadang tidak efektif pada situasi lainnya. Tapi tak ada salahnya mencoba.

Apakah teman-teman tertarik mempraktekkannya? Kalau tidak, mungkin cara saya menjelaskan yang kurang menarik atau kurang lengkap. So monggo atuh dibaca aja langsung buku Quantum Teachingnya, kali aja terinspirasi.