Kegiatan

on 22 Februari 2021
  • Message of the Director

Sudah hampir setahun Indonesia menghadapi Covid-19. Dampaknya telah masuk ke seluruh aspek kehidupan.

Pada bidang kesehatan data pertanggal 15 Feb 2021 jumlah penderita telah mencapai 1,22 juta. Meninggal dunia 33.183 orang. 

Pada bidang ekonomi covid berdampak pada  pertumbuhan negatif ekonomi Indonesia tahun 2020 pada angka -2,07%. Meskipun demikian kita masih bersyukur karena relatif masih lebih baik dibandingkan kondisi ekonomi dunia yang mencapai -4,4%. 

Pada bidang pendidikan juga terasa dengan munculnya loss of learning. Selama setahun belajar dari rumah tentu kurang efektif. Secara kognitif terjadi penurunan daya serap materi pelajaran. Juga pada penguasaan keterampilan karena sangat minim sekali praktik lapangan. Demikian pula pada perilaku dan karakter. Terjadi perubahan pola hidup pelajar dan mahasiswa. Kedisiplinan menurun dan motivasi belajar juga berkurang.

Pada bidang sosial juga muncul gejala stress di masyarakat. Pola hidup yang tidak normal dalam interaksi sosial, dunia hiburan yang terbatas, masalah ekonomi keluarga yang menurun bahkan tugas tambahan orang tua mengajar anaknya di rumah telah memberi tekanan kepada kehidupan sosial masyarakat.

Bagaimana caranya agar dampak covid-19 ini dapat ditangani dengan baik? Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung pada paparannya di depan peserta Pemantapan Nilai-nilai Nasionalisme yang diadakan oleh Lemhannas dan IA ITB pada Senin 15 Feb 2021 menyampaikan agar bangsa ini dapat mengatasi dampak covid-19 maka harus menggunakan energinya secara fokus dan terarah.

Dalam kehidupan bermasyarakat salah satu yang harus digunakan secara fokus yaitu energi sosial. Salah satunya berupa komunikasi masyarakat berupa perbincangan di media sosial yang menggunakan waktu dan pikiran. Bagaimana agar perbincangan bisa fokus secara positif dan konstruktif untuk mengatasi covid-19.

Mari kita cermati apa yang menjadi perbincangan di media sosial kita apakah sudah fokus, positif dan konstruktif? Penelitian Drone Emprit yang memantau perbincangan di medsos menemukan bahwa perbincangan di media sosial belum fokus. Masih banyak terjebak pada isyu yang tidak penting. Bahkan secara spesifik dilihat di media sosial alumni kampus teknik ternama di Indonesia, perbincangan banyak ke bidang politik yang cenderung hoax dan tidak konstruktif.

Salah satu isyu yang ramai dan kurang relevan yaitu tentang radikalisme. Munculnya Gerakan Anti Radikalisme dari alumni ITB yang melaporkan Prof. Dr. Dien Syamsuddin ke KASN dengan tuduhan berpaham radikal. Isyu ini menjadi ramai dan mengundang tokoh Muhammadiyah, NU, MUI, Menteri Agama dan Menkopolhukam untuk membantahnya.

Perbincangan isyu sejenis ini yang menyedot energi sosial bangsa kepada hal yang tidak perlu. Seharusnya alumni Perguruan Tinggi membicarakan topik yang menjadi solusi dan inovasi bagi penanganan covid dan dampaknya. Sebagai kaum terpelajar akan sangat bermanfaat jika menggulirkan ide dan program terkait kesehatan, ekonomi, teknologi, pendidikan untuk membantu masyarakat.

Covid-19 diperkirakan masih perlu waktu 1 - 2 tahun. Mari bersama mengatasinya dengan cara fokuskan energi sosial bangsa pada hal yang positif dan konstruktif. Mari berkontribusi sesuai bidang masing-masing. Kurangi perbincangan yang kurang produktif dan hanya menimbulkan kegaduhan.

Semoga dampak covid dapat teratasi. Penderita semakin berkurang, ekonomi  tumbuh, pendidikan berjalan dan persatuan di masyarakat tetap terjaga. Suasana kehidupan masyarakat juga tenang dan tenteram dalam menghadapi cobaan dan ujian.