Berita

on -
  • Message of the Director

Yth. 

Alhamdulillahirabbilalamiin

Allahummashalli ala Muhammad wa ala alih Muhammad

Pertama” marilah kita memuji kebesaran Allah SWT yang Maha perkasa, pemilik dan penguasa jagad raya,

yang telah merahmati perjuangan Bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari kaum penjajah, kemudian mengantarkan rakyat Indonesia menuju pada yang kehidupan yang merdeka, Bersatu, berdaulat, adil, dan Makmur, seperti yang telah kita rasakan sekarang ini.

Jika kita memaknai kemerdekaan sebagai “kebebasan”, maka pada masa sekarang ini, saat ini, sejak kurang-lebih 6 bulan terakhir, kebebasan itu terasa hampa atas kehadiran pandemic covid-19 yang telah membelenggu kebebasan ruang gerak kita. yaa, dengan ancaman bahaya yang akan ditimbulkan, maka kita kemudian ikhlas lebih memilih untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah aja. 

Namun demikian semangat kemerdekaan harus senantiasa terpatri dan berkobar dalam jiwa, kita mengambil hikmah dari musibah pandemic covid-19 ini. Disadari atau tidak disadari, bahwa musibah covid-19 ini, telah mengokohkan rasa persatuan, rasa cinta tanah air, dan semangat rela berkorban di antara kita. Social distancing, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan tidak berjabat tangan, adalah bentuk kewaspadaan atau tindakan preventif yang dengan sadar kita lakukan untuk menghindari bahaya yang ditimbulkan oleh penyebaran virus covid-19, yang telah menelan korban jutaan jiwa manusia.

Ancaman dis-integrasi atau perpecahan pada bangsa kita atas isu “Neo-komunisme” di mana sebagian besar  rakyat Indonesia, bersatu menyatakan menolak kehadiran kembali paham komunisme di tanah air tercinta kita ini, karena paham komunisme ini telah meninggalkan noda hitam yang kelam dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Dan itupun sebagai wujud rasa cinta rakyat terhadap  tanah air ini, agar tidak terjadi perpecahan, sebagaimana yang terjadi pada beberapa negara di belahan dunia ini.  "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."- Ir. Soekarno.

Kemerdekaan hendaknya kita maknai juga sebagai kebebasan berliterasi, berkreasi, berekspresi, adanya hak dan kewajiban yang sama sebagai anak negeri, yang berarti pula tidak boleh terjadi penjajahan di antara kita, di mana yang kuat menindas yang lemah, yang kaya meremehkan yang miskin. Tidak boleh ada perilaku bullying, melainkan yang harus dibangun bersama adalah persatuan dan saling membantu di antara kita.

Kalian dan kita semua sebagai generasi pelanjut cita-cita bangsa, seyogyanya memiliki jiwa patriotisme, semangat persatuan dan kerjasama, sikap berani dan bertanggungjawab, mandiri dan tidak cengeng, kreatif dan inovatif, pandai menghargai dan menyikapi perbedaan, dan mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan globalisasi dengan bersungguh-sungguh belajar, melek teknologi-informasi digital yang menjadi ciri dari peradaban dunia saat ini. Mari kita simak kata Bung Karno, “Apabila dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”. Ir. Soekarno.

Visi Indonesia maju yang diusung pemerintahan kita saat ini, tentu tidaklah gampang meraihnya di tengah krisis dunia tentang kesehatan dan perekonomian. Konon kondisi perekonomian negara kita saat ini mengalami tingkat inflasi minus 5,3% padahal sebelum wabah covid-19 melanda, pernah mengalami pertumbuhan positif di atas 6%, sehingga pemerintah kita pada waktu itu dapat melakukan pembangunan secara lebih leluasa diberbagai sektor kehidupan. Sebagai pelajar, masalah social seperti ini perlu juga dipahami dan dicermati. Pada kondisi seperti ini, berarti perlu dijalankan pola hidup sederhana, hidup hemat, tetapi tetap produktif dalam keterbatasan. Selain itu harus mengutamakan keamanan dan keselamatan jiwa. Karena itu taatilah protocol Kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah, karena itu untuk kebaikan 

bersama, saya, anda, dia, dan kita semua.

Dirgahayu Kemerdekaan RI ke-75, maju dan jayalah selalu!!!

Billahi fii sabililhaq, Wassalam…… merdeka!

Makassar, 17 Agustus 2020; H.M. Ridwan Karim, M.Pd.