Berita

on 09 September 2017
  • Message of the Director

Globalisasi dan modernisasi merupakan produk masyarakat barat yang diskenario untuk memengaruhi pola hidup generasi muda Islam. Globalisasi adalah jalur yang didesain masyarakat barat untuk melancarkan misi mereka dalam menyalurkan modernisasi, memang benar globalisasi dan modernisasi memiliki dampak positif, tetapi lebih tepat jika globalisasi dan modernisasi memiliki banyak dampak negatif jika masyarakat kita belum siap menghadapinya. Dunia kini mengalami perubahan yang sangat cepat dan bahkan tidak mengenal batas wilayah yang tentunya sangat dipengaruhi oleh modernisasi baik dalam bidang industri, teknologi, maupun informasi sehingga kenyataan seperti ini akan berdampak langsung pada berbagai bidang kehidupan politik, ekonomi, budaya dan agama serta dapat menciptakan budaya “Koloni Baru” dengan konsep negara menjadi bertekuk lutut pada kekuatan kapitalisme pasar. Hal tersebut sudah menjadi sesuatu yang lumrah dalam Globalisasi. Seperti yang dikemukakan Anthoy Giddens dalam Runaway World (2001), bahwa globalisasi telah menciptakan sebuah kampung dunia dengan tatanan yang beroperasi di dalamnya membuat dunia semakin “lepas kendali”, kehilangan kontrol dan sebagainya. Menjadikan hubungan tatanan kemanusiaan menjadi kerdil, persahabaatan tidak disekati oleh batas-batas ruang, waktu, bahkan wilayah, membuat berbagai fasilitas hidup yang serba instan sehingga membentuk masyarakat islam yang hedonis. Kenyataan lain, budaya barat yang kita jumpai saat ini adalah banyak perempuan menggugat hak-hak emansipasinya, nilai-nilai etika dan moral dijungkirbalikan hingga perubahan sosial yang cepat, yang kaya bisa cepat miskin dan yang miskin bisa cepat kaya karena derasnya arus persaingan dalam globalisasi bahkan seakan-akan “Hukum Rimba” berlaku. Fenomena-fenomena tersebut tentunya merupakan ancaman yang serius bagi generasi muda muslim jika tidak disikapi secara cerdas dan bijak yang tentunya berlandaskan Al Quran dan Hadist yang merupakan petunjuk hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Saya memandang  bahwa Islam juga merupakan “budaya nusantara” karena sebagian besar konsep-konsep yang diajarkan dalam Islam sudah menjadi budaya nusantara, seperti sikap yang ramah, sopan, sederhana, gotong-royong, kerja keras, saling menghargai, dan musyawarah mufakat. Budaya-budaya tersebut sudah sangat jarang kita lihat di nusantara yang juga mayoritas masyarakatnya muslim. Ada apa? Sadarkah kita budaya nusantara sudah dicekoki oleh budaya barat melalui globalisasi dan modernisasi seperti, budaya individualis, hedonis, sekuler, liberal, kapitalis bahkan atheis. Contoh kecil saja bahwa budaya barat telah menjajah kita, ketika kita menggunakan HP Android, kita tidak tahu siapa di sekitar kita yang dengan mudah mengakses tontonan-tontonan dari barat yang mendoktrin kita untuk meyakini budaya mereka. Oleh karena itu mari kita kembalikan budaya nusantara dengan prinsip Think Globally and Act Locally (Berpikir Global dan Bertindak Lokal) sebagai manifestasi dari ajaran Islam.