Kegiatan

on 02 Desember 2021
  • Kegiatan
  • SMA Boarding School Bone

Salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan dalam ruang lingkup lembaga pendidikan adalah bahasa Indonesia. Mapel ini diajarkan mulai dari tingkatan pendidikan terendah sampai pada tingkatan pendidikan tertinggi. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 57 tahun 2014 tentang Pengembangan, Pembinaan, dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, serta Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia. Atas dasar undang-undang tersebut, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia merumuskan berbagai materi yang berkaitan dengan bahasa Indonesia. Terdapat empat aspek yang menjadi sasaran pembelajaran bahasa Indonesia, yakni kemampuan Membaca, Menulis, Berbicara, dan Menyimak. Keempat aspek itu dikemas dalam bentuk berbagai materi yang sejak tahun 2013 berbasis tekstual. Jika melihat silabus bahasa Indonesia tingkatan SMP dan SMA yang diterbitkan oleh pemerintah, maka akan ditemukan ragam teks yang dijadikan sebagai materi dalam mapel bahasa Indonesia, seperti teks eksposisi, teks ceramah, teks cerpen, teks berita, teks prosedur, dan lain-lain.

 

Salah satu teks yang menurut pandangan subjektif penulis memiliki peran penting dalam kehidupan para siswa adalah teks editorial yang diajarakan pada kelas XII. Teks editorial merupakan teks yang berisikan pendapat seseorang terhadap sebuah permsalahan atau isu yang beredar di kalangan masyarakat. Pendapat tersebut dianggap sebagai pendapat yang dapat mempengaruhi pola pikir, sudut pandang, dan tingkah laku masyarakat dalam merespon sebuah isu. Secara sepintas, teks editorial hampir mirip dengan teks eksposisi yang juga menekankan aspek pendapat sebagai inti materi. Hanya saja, teks editorial memiliki pengaruh yang lebih besar karena melibatkan media massa sebagai validator pendapat sehingga pendapat tersebut cenderung sudah dianggap sebagai pendapat yang benar oleh para pembaca.

 

Pada era modern seperti sekarang ini, penyebaran informasi bukanlah menjadi hal yang sulit. Optimalisasi internet sebagai kebutuhan primer berhasil dijadikan sebagai langkah efektif dalam menyebarkan berbagai informasi. Surat kabar digital pun bermunculan dan berhasil menggeser surat kabar konvensional. Namun sayangnya, informasi palsu atau hoaks juga dengan mudah beredar. Tak jarang masyarakat memiliki pola pikir, sudut pandang, dan perlakuan yang salah akibat menerima informasi yang salah. Untuk itu, para pembaca diharapkan mampu lebih bijak lagi dalam melihat halaman teks editorial

 

Lantas, bagaimana dengan teks editorial yang diajarkan pada siswa? Dalam pembelajaran teks editorial, siswa akan diminta untuk memahami defenisi kongkrit dari teks editorial, termasuk juga ciri-cirinya. Mereka juga nantinya akan diminta untuk membuat teks editorial sesuai dengan pandangan subjektif mereka terhadap sebuah isu.Tak jarang siswa yang merasa ‘greget’ ketika membaca sebuah teks editorial yang ditampilkan oleh guru atau teks editorial yang berhasil mereka temukan di media massa. Berbagai respons pun ditunjukkan oleh para siswa. Ada yang secara tiba-tiba merasa benci dengan sasaran yang dibicarakan oleh penulis editorial, ada yang merasa risih dengan kebijakan pemerintah, ada juga yang mendukung sebuah pernyataan, bahkan ada juga yang merasa marah karena terbawa suasanan dengan pendapat penulis editorial yang dimuat di media massa.

 

Respon dari para siswa dipandang sebagai hal yang normal karena memang teks editorial mengharapkan respons yang sengaja ‘dipancing’ oleh penulis. Akan tetapi, terlepas dari respons para siswa, sangat jarang yang mencoba untuk memastikan kebenaran informasi dan validitas data yang disampaikan penulis editorial. Sebagian besar dari mereka menganggap bahwa pendapat yang terdapat di dalam teks editorial tersebut merupakan sebuah kebenaran absolut. Jika hal tersebut dibiarkan, bisa saja mereka akan menjelma menjadi penyebar informasi yang kemungkinan bersifat hoaks sehingga secara tidak langsung menyebarkan pemicu respons yang salah ke orang lain.

 

Jika dikaitkan dengan fungsi guru dalam memberikan pemahaman intelektual kepada siswa, maka keberhasilan siswa dalam memahami defenisi, ciri, dan membuat teks editorial, sudah dapat dijadikan indikator keberhasilan guru tersebut. Hanya saja, guru juga memiliki peranan lain yang juga tak kalah penting, yakni memberikan pendidikan karakter. Salah satu pendidikan karakter yang diharapkan adalah pembinaan karakter religius.

 

Bagaimana caranya mengajarkan pendidikan intelektual dan karakter religius secara bersamaan? Apakah relevan ketika menghubungkan antara materi teks editorial dengan religiusitas? Penulis yang juga berprofesi sebagai guru bahasa Indonesia mencoba menghubungkan Surah Al-Hujurat ayat 6 dengan teks editorial. Arti dari ayat tersebut sebagai berikut:

Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu


Dalam penggalan surah Al Hujurat di atas mengajarkan tentang konsep Tabayyun (meneliti kebenaran) yang harus selalu diutamakan saat menerima kabar atau sebuah isu. Allah menggunakan kata meneliti yang secara harfiah berbeda dengan kata mencari. Kata meneliti  memiliki penekanan yang lebih dari pada kata mencari. Allah SWT menyampaikan pesan secara tersirat bahwa kebenaran yang berhasil kita temukan harus lebih dipastikan lagi dari berbagai sumber. Manusia seolah diminta untuk sangat berhati-hati ketika menerima atau menyebarka sebuah kabar. Tindakan yang hanya menerima informasi tanpa meneliti terlebih dahulu kebenarannya, dianggap sebagai sebuah kecerobohan yang bisa saja memicu konflik atau masalah yang lebih besar lagi. Bahkan, Allah SWT menekankan bahwa salah satu indikator keimanan dari seorang hamba adalah mengutamakan konsep Tabayyun.

 

Konsep Tabayyun yang ditawarkan dalam surah Al Hujurat ayat 6 tersebut sangat relevan dengan teks editorial yang secara esensial mengabarkan tentang sebuah isu yang diperkenalkan kepada masyarakat umum melalui media massa. Jika konsep Tabayyun mampu disampaikan dengan baik kepada para siswa yang sedang mempelajari tentang teks editorial, maka mereka akan menjelma menjadi seorang pemutus isu hoaks dan seseorang yang memiliki konsep berpendapat yang kritis namun tetap mengedepankan data yang valid agar tak merugikan orang banyak, baik kerugian dalam kesalahan pola pikir, maupun kerugian dalam tingkah laku pasca penyebaran isu. Secara tidak langsung pula, kita telah mengabarkan dan mengajak para siswa untuk menjadi orang beriman sebagaimana yang disampaikan dalam surah Al Hujurat ayat 6, salah satu indikator hamba yang beriman adalah meneliti sebuah kebenaran sebelum diyakini dan disebarkan. Dengan mengombinasikan aspek intelektual dari teks editorial dan aspek religius dari Alquran maka akan melahirkan generasi inteluktual yang berbasis religiusitas. Generasi cerdas antihoaks.

 

Taufiq Irham, S.Pd.