Kegiatan

on 18 Oktober 2018
  • Message of the Director

Biasanya di awal tahun banyak ‘pejabat’ baru diangkat. Banyak karyawan baru yang mendapatkan promosi ke posisi yang lebih tinggi. Sebelumnya staff menjadi supervisor atau section head. Sebelumnya section head,

sekarang diangkat menjadi manager. 

Promosi ke posisi yang lebih tinggi artinya mendapatkan kepercayaan untuk mengemban amanah yang lebih besar. Artinya terbuka kesempatan untuk berbuat lebih banyak. Namun di balik amanah, jangan lupa ada pertanggungjawaban. 

Imam Al Ghazali sekitar 1000 tahun yang lalu pernah bertanya kepada muridnya “apa yang paling berat?”. Ternyata yang paling berat bukan benda yang berat jenisnya besar seperti besi, baja dan sebagainya atau ukurannya besar seperti bumi, matahari dan lainnya. 

Tetapi kata Al Ghazali yang paling berat adalah amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan. Hanya manusia saja yang diberi amanah dan harus dipertanggungjawabkan. Binatang dan tumbuhan tidak. 

Apakah amanah itu? Secara bahasa, amanah dapat diartikan sesuatu yang dipercayakan atau kepercayaan. Amanah juga berarti titipan (al-wadi‘ah). Amanah adalah lawan dari khianat. Amanah terjadi di atas ketaatan, ibadah, al-wadi’ah (titipan), dan ats-tsiqah (kepercayaan). 

Orang yang diberi titipan dan mampu menyampaikan titipan tersebut kepada yang berhak disebut orang yang amanah. 

Dalam Al Qur’an Surat An-Nisa 58 : 

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan Amanat kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat “

Dari ayat tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa prinsip dalam suatu organisasi dan kepemimpinan adalah Amanah dan Adil. 

Rasulullah SAW dalam haditsnya telah memperingatkan akan kekacauan suatu negeri yang digambarkan dengan kiamat apabila negeri tsb dipimpin oleh orang yang tidak amanah.

 “Jika amanah telah disia-siakan maka tunggulah kiamat, lalu sahabat bertanya bagaimanakah amanah yang disia-siakan itu? Lalu Rasulullah SAW menjawab, apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya...” 

Makna sederhana lain dari amanah yaitu jabatan. Kebanyakan manusia sangat senang dengan amanah dalam bentuk jabatan dan posisi sehingga mengadakan syukuran karena mendapatkannya. Saat naik pangkat dan jabatan orang mengucap “Alhamdulillah” karena senang. 

Jarang manusia yang mendapat amanah jadi takut, sedih, menangis dan mengucap “innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un” seperti yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz saat diangkat menjadi khalifah. Padahal jabatan sebagai amanah jika diselewengkan berarti mengkhianatinya akan menjadi jalan ke neraka. 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (Q.S. Al Anfaal : 27)

Menjadi orang yang amanah dengan mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya memang sangat berat. Wajar saja salah satu golongan yang sangat diistimewakan di hari akhir yaitu pemimpin yang amanah. 

 “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, ….. Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya, (Q.S. Al Mu’minuun : 1,8).

Langkah sederhana agar dapat menjadi orang yang amanah yaitu jangan lupa diri. Harus selalu sadar semuanya sementara, titipan, bukan milik kita sehingga kelak harus dikembalikan kepada yang punya dan dipertanggungjawabkan. 

Bayangkan dari sekarang saat hari pertanggungjawaban tiba. Mampukah, luluskah dan dapatkah kita mempertanggungjawabkan semua amanah yang Allah berikan kepada kita? Semoga dengan demikian kita menjadi manusia yang berhati-hati dalam berucap, bersikap dan bertindak. 

Selanjutnya, pahami batas-batas dari amanah tersebut. Mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Jika tidak boleh, batas itu jangan dilanggar. Kenapa orang melanggar batas? Biasanya karena orang lebih mengutamakan kehidupan dunia. Padahal semua ada batas waktunya. Semua kelak ada balasannya.

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (Q.S. An Naazi’at : 37-41) 

Semoga Allah memberikan kekuatan dan hidayah kepada kita agar dapat menjadi orang yang amanah meniru salah satu sifat utama Rasulullah sehingga beliau digelari Al Amin, orang yang dapat dipercaya.