Kegiatan

on 08 Oktober 2018
  • Message of the Director

Allah menganugerahkan kepada kita manusia mulia yaitu Rasulullah Muhammad SAW. Kemuliaan beliau Allah akui dalam Al Qur’an bukan karena keturunan dan hartanya, tapi karena akhlaknya sebagaimana ayat Al Qur’an berikut : 


Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung (Q.S. Al Qolam : 4)

Budi pekerti atau karakter dibentuk oleh keyakinan, pengetahuan dan keterampilan. Semuanya tergambar pada perilaku. Apa beda perilaku Rasulullah dengan kita ummatnya. Ternyata bedanya cuma sedikit. Kalau Rasulullah tidurnya sedikit, kita umatnya sedikit-sedikit tidur. Rasulullah makannya sedikit, kita sedikit-sedikit makan. Rasulullah sedikit marahnya, kita sedikit-sedikit marah. Rasulullah sedikit-sedikit baca al Qur’an, kita baca al Qur’annya sedikit. Kita sedikit-sedikit ngegosip, Rasulullah tidak pernah. Kita sedikit-sedikit nonton, Rasulullah tidak pernah. Kita sedikit-sedikit buka hand phone, rasulullah tidak pernah (ya iyalah, zaman dulu belum ada HP dan TV).

Sebenarnya hal pertama yang perlu kita renungi adalah efektivitas kehidupan kita. Ada dua nikmat yang sering disia-siakan yaitu kesehatan dan waktu luang.  Apa maksudnya? Jika dalam kondisi normal kita merasa kesehatan itu biasa saja. Tapi jika kita dalam keadaan sakit, barulah terasa berharganya nikmat kesehatan. 

Coba bayangkan Anda tidak bisa bernafas dengan baik sehingga harus menggunakan alat bantu nafas berupa tabung oksigen. Berapa biaya yang harus Anda keluarkan dalam sebulan atau setahun? Ternyata biaya paling murah yaitu seribu rupiah per menit. Berarti sejam enam puluh ribu. Sepuluh jam enam ratus ribu. Sehari Rp. 1.440.000. Jika sebulan tiga puluh hari maka biayanya 43,2 juta rupiah. Jika setahun 365 hari maka biayanya 525,6 juta. Belum termasuk biaya kamar rumah sakit dan perawatan dokter dan lainnya. 

Sehari-hari Allah memberikan oksigen yang berlimpah dan tak perlu dibeli. Alangkah Maha Pengasih dan Penyayangnya Allah. Nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? 

Demikian pula dengan waktu luang. Biasanya tanpa sadar sering disia-siakan. Baru terasa sangat berharga jika ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan dan waktu yang ada sangat terbatas. Kita pun berharap agar sehari itu bukan 24 jam tapi 30 jam. Padahal waktu itu nikmat yang selalu bergerak maju dan tidak akan bisa dikembalikan. Jika sudah pergi maka hilanglah ia. 

Kalau uang hilang kita masih bisa mencarinya. Tapi waktu yang sudah berlalu tidak bisa kembali lagi. Padahal saat waktu telah berlalu maka usia kita hidup di dunia semakin singkat. Sebentar lagi waktu terhenti. Ibarat pulsa yang tak bisa diisi ulang, jika sudah dipakai maka yang tersisa tinggal sedikit sampai akhirnya habis.  

Allah memberikan nikmat kesehatan dan waktu luang kepada kita agar manusia mensyukurinya. Caranya yaitu memanfaatkan nikmat tersebut sebaik-baiknya untuk kebaikan yang berdampak pada diri sendiri dan orang lain. Bukan digunakan untuk hal-hal yang tak berguna dan sia-sia.

 Allah mengingatkan dalam Al Qur’an bahwa salah satu ciri orang beriman yang meraih kemenangan yaitu : “dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna”, (Q.S. Al Mukminuun : 3)