Kegiatan

on 24 September 2018
  • Message of the Director

Semua kita berharap agar kampanye Pilpres dan Pileg yang dimulai 23 September 2018 sampai menjelang pemilu di bulan April 2019 dapat berjalan aman dan damai.

Apa yang harus diperhatikan agar itu dapat terwujud? 

Sebenarnya gampang saja. Kembali ke dasar negara yaitu Pancasila. Jika kelima sila dalam Pancasila dapat menjiwai kampanye maka dijamin pasti aman dan damai. Mari kita lihat satu persatu. 

Sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa menjadi dasar segala aktivitas. Niat kita mengikuti pilpres dan pileg adalah ibadah. Ingin berkontribusi untuk perbaikan bangsa. Jadi bukan pertandingan tapi perlombaan. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Jika niatnya perlombaan maka bukan saling mengalahkan dan menjatuhkan. Tapi mencari yang terbaik dan dapat meyakinkan rakyat siap mengemban amanah berat mengelola bangsa. 

Sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab maknanya melakukan aktivitas kampanye dengan memegang teguh keadilan dan akhlak atau adab. Adil berarti seimbang, tidak berat sebelah. Ini berlaku bagi penyelenggara pemilu yaitu KPU dan Bawaslu. Harus dapat memperlakukan semua peserta tanpa diskriminasi. Terutama Pilpres di mana petahana kembali menjadi peserta. Jangan sampai memberi keistimewaan kepada petahana. Harus berani dan tegas siapapun yang melanggar. 

Beradab berarti memperhatikan akhlakul karimah. Ini berlaku untuk semua peserta. Jauhkan diri dari saling menjatuhkan dengan melakukan kampanye hitam yang penuh kebohongan dan kebencian. Tetaplah santun dalam berucap dan tulisan. Jauhi kata kata kasar dan fitnah. Jangan menghalalkan segala cara. Ingat aturan yang telah ditetapkan KPU dan Bawaslu. 

Sila ketiga Persatuan Indonesia harus selalu diperhatikan. Ingat, Pilpres dan Pileg ini jangka pendek 5 tahunan. Jangka panjangnya yaitu Indonesia sebagai negara harus terus dijaga keberadaannya. NKRI harga mati. Sesama warga harus terus bersatu jiwanya membangun Indonesia meskipun pilihannya berbeda. Jangan biarkan ada provokator yang masuk yang akan membuat permusuhan antar warga negara. 

Sila keempat tentang hikmah dan musyawarah. Ini  menjadi dasar bahwa Pilpres dan Pileg sebagai proses pengambilan keputusan rakyat harus didasari oleh hikmah yaitu ilmu yang mendalam. Menentukan pilihan bukan semata karena fanatisme apalagi karena uang money politic. Tapi harus atas pertimbangan yang memperhatikan akal sehat dan hati nurani. Jika akhirnya berbeda itu tidak masalah. Itulah musyawarah. Kadang kadang sepakat untuk tidak sepakat. 

Sila kelima yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Maknanya bahwa pilpres dan pileg hanya jalan bukan tujuan. Harus selalu diingat bahwa yang akan diperjuangkan adalah terwujudnya kesejahteraan rakyat yang adil dan merata. Seluruh rakyat harus dapat menikmatinya. Bukan hanya penguasa dan kroninya. 

Oleh karena itu jangan silau jika meraih kemenangan. Itu bukan akhir perjuangan. Tapi awal mengemban amanah untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Juga jangan terlalu sedih jika gagal terpilih. Justru bisa jadi perlu bersyukur karena lepas dari amanah yang berat karena pertanggungjawabannya dunia dan akhirat. 

Selamat berpesta demokrasi. Mari luruskan niat untuk ibadah. Penyelenggara harus berlaku adil. Peserta tetap beradab. Jaga persatuan dengan hikmah dan musyawarah untuk mewujudkan keadilan sosial. Mari hidupkan jiwa Pancasila di suasana kampanye Pilpres dan Pileg. Semoga tercipta suasana yang aman dan damai.