Kegiatan

on 09 Agustus 2018
  • Message of the Director

Akhir-akhir ini Indonesia banyak ditimpa musibah dan bencana. Mulai dari tenggelamnya kapal di Danau

Toba dan Selayar lalu yang masih jadi bahasan dunia yaitu gempa bumi 7 skala Richter di Lombok yang merenggut ratusan korban jiwa dan kerugian material ratusan Milyar rupiah. 

Musibah atau bencana dapat dikategorikan atas tiga jenis yaitu bencana karena kesalahan manusia, bencana karena kejadian alam (bencana alam) dan bencana karena kombinasi manusia dan alam. 

Kejadian tenggelamnya kapal di Danau Toba merupakan human error dan menyalahi prosedur kapasitas maksimal penumpang. Akibatnya kapal tenggelam. Berbeda dengan bencana di Lombok NTB. Itu adalah bencana yang di luar kendali manusia. Itu adalah karena perilaku alam. Gempa, gunung meletus, tsunami adalah kejadian alam yang di luar faktor kelalaian manusia. 

Ada juga musibah yang merupakan kombinasi alam dan manusia. Contohnya banjir dan tanah longsor. Perilaku manusia yang merusak alam seperti penebangan hutan mengakibatkan air tak ada yang menahan. Jika langsung ke sungai dalam jumlah yang banyak maka terjadi banjir. Jika melewati bukit maka terjadilah longsor. 

Menghadapi musibah khususnya  bencana alam atau kombinasi alam dan manusia dapat diibaratkan seperti menghadapi anjing galak. Ada tiga tindakan yang bisa dilakukan yaitu lari, beri makanan dan panggil tuannya.  

Tindakan pertama menghadapi anjing galak yaitu lari artinya menyelamatkan diri. Bisa di saat musibah terjadi. Bisa juga sebelum terjadi dengan membuat early warning system, konstruksi bangunan anti gempa, latihan dan simulasi bencana dan tindakan persiapan lainnya. Di negara maju seperti Jepang sangat siap dan terlatih menghadapi bencana. Indonesia perlu banyak belajar dan melakukan perbaikan. 

Tindakan kedua menghadapi anjing galak yaitu memberi makanan. Maksudnya bersahabat dengan alam melalui perbaikan lingkungan seperti penghijauan dan membuat regulasi yang jelas, tegas dan konsisten dengan melarang perusakan lingkungan dan memberi hukuman yang berat bagi mereka yang melanggar.  Kondisi di Indonesia masih perlu banyak pembenahan. Biasanya baru semangat kalau ada bencana. Jika kondisi sudah normal maka lupa lagi melakukan perbaikan. Apalagi hukum tidak tegas. Masih ada permainan dan sogokan kepada penegak hukum. 

Tindakan ketiga menghadapi anjing galak yaitu memanggil tuannya. Anjing galak penjaga rumah pasti ada tuannya. Meskipun anjing itu galak tapi sangat takut dan menuruti perintah pemilik atau tuannya yang tiap hari memberinya makanan. Jika datang berkunjung ke rumah yang ada anjing galaknya maka telpon dulu pemilik rumah agar menjinakkan anjingnya. 

Alam ini pun juga ada pemilik dan penguasanya yaitu Allah. Agar alam menjadi ramah dengan manusia maka kita harus punya hubungan yang baik dengan Allah. Mari jaga iman dan takwa kita dengan melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Mari banyak berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari musibah dan bencana. 

Mari introspeksi diri. Kejadian musibah dan bencana yang beruntun ini apakah ujian atau teguran dari Allah. Jika hubungan kita dengan Allah baik maka ia adalah ujian yang akan meningkatkan kelas kita di sisi Allah. Jika hubungan kita tidak baik di mana banyak pelanggaran syariah dan perbuatan dosa maka itu adalah teguran agar kita kembali kepada Allah.  

Jangan sampai musibah dan bencana itu sebagai azab atau siksa. Kapan itu terjadi? Jika sudah sering diberi peringatan tapi tidak pernah dihiraukan. Semoga kita terhindar dari kategori ini. Maka mari kembali ke jalan yang benar.