Kegiatan

on 10 Juni 2018
  • Message of the Director
Renungan Hari ke-24

Nilai UN tahun ini rata-rata nasional turun khususnya matematika di semua level.
Saat saya tanyakan ke beberapa kepala sekolah jawabannya hampir sama yaitu karena soal matematika yang HOTS. Apa itu HOTS? Dalam dunia pendidikan sekarang digalakkan HOTS (High Order Thinking Skill) yaitu berfikir level tinggi. Jadi bukan lagi hafalan, teori atau aplikasi sederhana. Tapi sudah ke analisis. Biasanya soalnya berbentuk studi kasus. Kalau di sekolah dinamakan soal cerita. 

Ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih belum terbiasa berfikir analitis dan kritis. Padahal itu merupakan ciri manusia pembelajar yang bisa menjadi inovator dan inventor. Maka wajar saja kita masih jadi bangsa pemakai. Bandingkan dengan Korea Selatan yang dalan sehari ada 300 temuan. Maka wajar juga jika Korea menjadi negara maju di bidang teknologi dan ekonomi. 

Bagaimana caranya Indonesia mengejar ketertinggalannya? Selain melalui dunia pendidikan dengan membiasakan siswa berpikir HOTS kita perlu juga menggali spirit keagamaan dalam Al Qur'an. 

Di dalam Al Qur'an ada banyak tantangan untuk menggunakan potensi akal. Ada lebih 300 ayat yang mendorong manusia untuk berfikir. Kata-kata "afalaa tatafakkaruun", "afalaa yanzhuruun", dan lain sebagainya yang mendorong manusia berfikir, memperhatikan, sebagai langkah awal analisis.

Selain itu di dalam Al Qur'an juga Allah memberikan signal ilahiyah tentang sains. Dr. Agus Purwanto menyebutnya ayat-ayat semesta. Menurut beliau terdapat sekitar 750 ayat Al Qur'an yang berbicara tentang sains. Secara ilmiah sudah banyak yang dibuktikan. Contohnya ayat "gunung-gunung sebagai pasak" di An Naba. Ilmu Geologi dan Geofisika menjelaskan fungsi gunung sebagai paku yang membuat dua atau lebih lempeng bumi yang berdekatan menjadi stabil. 

Adanya ayat-ayat semesta dalam Al Qur'an bukan berarti Al Qur'an adalah kitab sains. Lebih tepat disebut sebagai kitab sign seperti diungkapkan oleh Dr. Zakir Naik. Buku yang berisi tanda-tanda yang dapat memancing rasa ingin tahu untuk melakukan penelitian dan pembuktian.

Tentu saja semangatnya berbeda jika pemantiknya adalah Al Qur'an. Terasa spirit ilahiyah di dalamnya. Pada masa awal Islam sampai abad pertengahan hal itu telah terjadi. Maka lahirlah ribuan ilmuwan muslim kelas dunia. Ilmuwan yang menghafal Al Qur'an dan juga ahli sains dan matematika seperti Al Khawarizmi, Al Bantani, Al Biruni dan sebagainya. 

Sekarang ini di Indonesia sangat semarak Rumah Tahfizh yang siswanya khusus menghafal Al Qur'an. Selain itu di sekolah swasta islam seperti Athirah di Makassar juga menjadikan tahsin, tahfizh dan tadabbur Al Qur'an sebagai program unggulan. Terbukti sejak TK sudah hafal juz 30 dan lulus SD juz 28-30.

Tinggal mendorong melakukan tadabbur atau memahami lebih mendalam maksud ayat yang dihafal. Lebih baik lagi jika Al Qur'an dijadikan kurikulum inti dan diintegrasikan dengan seluruh mata pelajaran. Akan lahir generasi ulul albab yang memadukan zikir dan fikir sebagaimana ciri-cirinya dalam Al Qur'an Surat Ali Imron 190-191 : 
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang berakal (ulul albab). Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring dan memikirkan penciptaan langit dan bumi seraya berucap ya Tuhan kami tidaklah engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka".

Makassar, 9 Juni 2018