Kegiatan

on 27 Mei 2018
  • Message of the Director

Renungan Hari ke-11

Setiap suami istri pasti menginginkan anak. Jika pernikahan telah berjalan 6 bulan

dan belum ada tanda-tanda kehamilan maka mulai muncul pertanyaan dari keluarga, teman dan tetangga. Seiring waktu berjalan maka mulailah ditempuh berbagai cara baik ilmiah kedokteran maupun yang tradisional. Tentu juga ditempuh supra rasional seperti do'a, sedekah dan lain sebagainya. Tujuannya agar punya anak. Ada yang berhasil dan ada juga yang belum berhasil. Bagi yang berhasil terasa kebahagiaan yang luar biasa. Bagi yang belum berhasil, akan terus berusaha tanpa putus asa. Itulah anak, anugrah terindah dari Allah yang sangat dinantikan oleh sebuah keluarga. 

Anak selain anugrah juga amanah atau titipan. Anak hakikatnya bukan milik kita tapi milik Allah. Kita hanya menerima titipan. Saat dititipkan pertama kali, anak dalam keadaan fitrah, suci dan dibekali sifat hanif yaitu potensi untuk mengenal Allah. Di sinilah tanggung jawab orang tua untuk memberikan pendidikan yang terbaik agar fitrahnya terjaga, kehanifannya tumbuh sehingga menjadi anak yang shalih dan shalihah.  

Allah telah mengajarkan kurikulum pendidikan yang tepat di dalam Al Qur'an Surat Luqman. Hal pertama yang harus diajarkan yaitu tauhid "janganlah engkau mempersekutukan Allah". Itulah rukun Islam yang pertama yaitu syahadatain. Lebih rinci lagi diajarkan tentang Allah yang Maha Melihat, Maha Halus dan Maha Teliti terhadap segala perbuatan manusia. 

Pengajaran kedua yaitu melaksanakan shalat. Inilah rukun Islam yang kedua. Rasulullah memerintahkan untuk menyuruh anak shalat pada umur 7 tahun. Jika umur 10 tahun belum juga shalat maka boleh dipukul. Tentu bukan pukulan yang membahayakan. Tapi pukulan kasih sayang yang menyadarkan. Setelah tiga tahun latihan dan pembiasaan diharapkan sudah menjadi perilaku. Maka proses pembiasaan tersebut harus berjalan dengan baik.  

Pengajaran ketiga yaitu tanggung  jawab sosial dengan berdakwah dalam bentuk amar ma'ruf nahyi munkar. Anak tidak boleh egois, cuek dan tidak peduli dengan kondisi masyarakatnya. Maka anak perlu tahu kondisi dan dirangsang memberi solusi. Setelah itu eksekusi. Dalam pelaksanaan dakwahnya tentu saja dengan cara yang hikmah, sopan santun apalagi berdakwah kepada yang lebih tua. 

Materi pelajaran yang keempat yaitu membangun kesabaran dalam menghadapi takdir kehidupan. Hidup ada nikmat juga ada musibah. Agar semua menjadi kebaikan maka dibutuhkan sikap syukur nikmat dan sabar musibah. Itulah sikap mental muslim sejati.

Selanjutnya pelajaran kelima yaitu akhlak kepada sesama manusia yaitu tidak sombong / angkuh dan sopan santun. Allah berfirman "dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh... " Lebih lanjut Allah berfirman "dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu ..."

Itulah kurikulum pendidikan anak yang lengkap pada aspek aqidah, syariah dan akhlak. Jika ketiganya diajarkan dengan baik maka akan lahir anak shalih dan shalihah. Jika kelak kita sebagai orang tua telah meninggal dunia maka ada pahala yang terus mengalir yaitu anak shalih yang terus mendo'akan. 

Mari didik anak-anak kita sebagai karunia dan amanah dari Allah. Didiklah dengan pendidikan yang terbaik sesuai Al Qur'an dan Sunnah. Berikan keteladanan di rumah, cari lingkungan yang baik dan masukkan ke sekolah yang memperhatikan dunia dan akhiratnya. Sekolah yang tidak hanya mengejar nilai akademik tapi juga mengajarkan aqidah, Al Qur'an, sadar shalat, pembiasaan sunnah Rasul serta akhlaqul karimah. Semoga anak kita dapat menjadi 'abid (ahli ibadah), 'alim (cinta ilmu) dan mujahid (siap berjuang di jalan Allah) yang anggun, unggul dan cerdas.

Makassar, 27 Mei 2018