Kegiatan

on 25 Mei 2018
  • Message of the Director
Renungan Hari Ke-10 Mari kita bahas dulu apa itu jujur. Jujur secara umum bisa dimaknai
sesuainya perkataan dan perbuatan. Juga bisa diartikan apa yang tampak di ucapan dan perbuatan sama dengan yang di dalam hati. Dari dua definisi di atas yang sulit ujiannya yaitu sesuainya yang tampak dan yang di dalam hati.

Mari kita tes kejujuran kategori dua. Saat kita berprestasi atau berhasil dan dipuji orang lain kita spontan mengatakan alhamdulillah yang artinya segala puji hanya untuk Allah. Apakah sesuai ucapan dengan isi hati kita? Apakah benar tidak ada lagi keinginan kita untuk dipuji oleh orang lain? Jangan jangan malah kita lebih sering ingin dipuji dari pada memberi pujian kepada orang lain. Kita juga sering ucapkan kalimat "laa ilaaha illa Allah". Tiada ilah selain Allah. Apakah benar hanya Allah yang mendominasi hidup kita. Hanya Allah yang menjadi tujuan kita. Jangan jangan kita masih menjadikan harta, tahta dan syahwat cinta sebagai tujuan hidup. Mendominasi pikiran, perasaan dan perbuatan sehingga sering menghalalkan segala cara meski melanggar syariah.

Kita juga sering mengucapkan kata Allaahu Akbar yang artinya Allah Maha Besar. Maknanya manusia sebagai makhluk itu kecil seberapa besar pun kekayaan, pangkat dan kekuasaannya. Untuk itu manusia tidak layak untuk sombong dan bangga diri. Mari periksa diri kita apakah sudah tidak ada kesombongan di dalamnya. Jika masih ada artinya kita belum jujur karena lisan dan hati tidak sesuai.

Lalu kita juga ucapkan "laa hawla wa laa quwwata illaa billaah" yang artinya tiada daya dan kekuatan selain dari Allah. Jujurkah kita dengan pernyataan ini? Jangan-jangan banyak kekuatan syetan dalam diri kita, bisa berupa jimat, jampi-jampi, perdukunan. Jika ada masalah kita lebih mengandalkan kekuatan syaitan. Kita lupa pada Allah. Padahal kita berikrar bahwa tiada daya dan kekuatan selain hanya dari Allah.

Mari introspeksi diri dan melakukan penghayatan terhadap kalimah thayyibah yang sering kita ucapkan. Lalu bertekadlah mengamalkannya agar terjadi kesesuaian antara perkataan, perbuatan dan isi hati. Itulah manusia jujur. Golongan shiddiqin yang kelak di surga bersama para Nabi dan Rasul.

Makassar, 25 Mei 2018