Kegiatan

on 25 Mei 2018
  • Message of the Director

Renungan Hari Ke-8 

Sahabat utama Rasulullah yaitu Abu Bakar.

Rasulullah pernah bersabda "jika iman seluruh orang beriman dihitung beratnya dengan diletakkan di satu tempat kemudian iman Abu Bakar pada tempat yang lain maka berat iman Abu Bakar masih lebih berat".

Apa yang membuat Abu Bakar demikian istimewa? Jika kita baca kehidupan Abu Bakar maka kita tidak akan menemukan penjelasan bahwa ibadah shalat atau puasa Abu Bakar lebih banyak daripada sahabat Nabi yang lain. Penjelasan yang ada yaitu infak Abu Bakar 100?ri seluruh hartanya. Saat ditanya oleh Rasulullah "apa yang engkau tinggalkan untuk anak istrimu?". Abu Bakar menjawab "Allah dan Rasul-Nya".

Kita juga menemukan cerita tentang suatu hari Rasulullah menanyakan 3 amalan dalam satu hari : menjenguk orang sakit, bersedekah dan mengantar orang yang meninggal ke pemakaman. Hampir semua mengerjakan satu atau dua amalan. Tapi hanya Abu Bakar yang melakukan ketiganya.

Ustadz Fakhrurrazi Anshar di dalam satu ceramahnya menceritakan tentang seorang ulama kontemporer dari Timur Tengah menulis buku yang berjudul "Amalan Hati". Pada buku tersebut diulas tentang Abu Bakar dan ditemukan jawaban keistimewaan Abu Bakar adalah karena amalan hatinya yang luar biasa.

Lebih lanjut Ustadz Fakhrurrazi menjelaskan bahwa tidak mungkin Abu Bakar mampu melakukan 3 amalan tersebut jika tidak memiliki hati yang bersih. Itu lahir dari amalan hati yang luar biasa.

Empati, peduli, menolong adalah amalan hati. Lebih lanjut lagi keyakinan "cukuplah Allah dan Rasul-Nya" juga adalah amalan hati. Berangkat dari keimanan dan tawakkal yang luar biasa.

Oleh karena itu mari senantiasa jaga amalan hati. Jaga niat dalam segala aktivitas. "Setiap kami menyetor hafalan ke syaikh kami waktu di Sudan maka yang selalu diingatkan adalah memperbaiki amalan hati", Ust. Fakhrurrazi bercerita lebih lanjut.

Teringat sebuah hadist tentang 3 orang yaitu mujahid, 'penghafal Al.Qur'an, dan dermawan. Kelak di akhirat mereka bertiga menagih surga kepada Allah. Tapi ternyata yang diberikan adalah neraka. Mengapa? Sang mujahid mengaku berjihad karena Allah. Tapi ternyata hanya untuk dikenal dan dikenang oleh manusia sebagai pahlawan. Sang penghafal Al Qur'an pun juga niatnya bukan karena Allah tapi ingin dipuji sebagai muhaffizh. Juga si dermawan. Hanya ingin dipuji sebagai orang yang suka memberi.

Semoga Ramadhan dengan ibadah puasa yang sangat rahasia antara hamba dan Allah melatih kita menguatkan amalan hati berupa ikhlas kepada Allah. Juga melatih empati, peduli dan berbagi pada sesama. Berbekal amalan hati tersebut kita dapat meraih qolbun salim sebagai bekal menghadap Allah saat harta dan anak-anak tak lagi bisa menjadi penolong.