Kegiatan

on 22 Mei 2018
  • Message of the Director

Ada dua orang karyawan di perusahaan pembuat rumah (developer)

berminat pensiun dini setelah bekerja selama 20 tahun. Maka mereka berdua menghadap ke atasannya sambil membawa surat permohonan. Setelah menyampaikan maksudnya maka atasannya mengatakan "anda berdua boleh pensiun dini. Tapi mohon bantu saya untuk membangun dua rumah baru. Tolong masing-masing dari Anda menjadi mandor dari satu rumah. Semoga 3 bulan rumah itu selesai. Dan setelah itu Anda boleh pensiun".

Mereka berdua setuju. Cuma respon kejiwaan keduanya berbeda. Karyawan pertama berucap "karena ini proyek terakhir saya maka saya akan bangun rumah yang terbaik. Semoga menjadi kenangan yang indah bagi atasan saya di akhir masa tugas saya". Karyawan kedua lain lagi ucapannya "karena ini proyek terakhir saya maka saya akan bangun seadanya. Toh tidak ada lagi penilaian kinerja setelah ini. Saya sudah langsung pensiun".

Mulailah mereka membangun masing-masing satu rumah. Satu pekan, satu bulan dan akhirnya tiga bulan waktu kerja berlalu. Rumah pun selesai. Maka menghadaplah mereka berdua ke atasannya sambil membawa kunci rumah yang telah dibangun. Alangkah kagetnya mereka saat atasannya berkata "saya ingin memberikan hadiah kepada Anda atas kesetiaan Anda selama 20 tahun bekerja di sini. Hadiahnya adalah rumah yang telah Anda bangun. Ambillah kunci rumah itu dan rumah itu jadi milik Anda".

Karyawan pertama bersyukur sambil berucap "Alhamdulillah saya telah membangun rumah yang terbaik. Sekarang saya bisa menempatinya bersama keluarga dan hidup nyaman di masa pensiun saya". Karyawan kedua dengan penuh penyesalan berkata "saya menyesal membangun rumah asal jadi. Kualitasnya kurang bagus. Jika saya tinggali bisa membahayakan saya karena konstruksinya tidak sesuai standar. Coba kalau saya bangun dengan baik, saya akan punya rumah yang akan saya tinggali dengan tenang ".

Cerita di atas adalah gambaran kehidupan dunia dan akhirat kita. Membangun rumah ibarat amal ibadah kita di dunia. Pensiun adalah kematian. Menempati rumah hasil kerja itulah kehidupan akhirat. Apa yang dilakukan di dunia ini akan mendapat balasan di akhirat. Jika melakukan yang terbaik balasannya pun juga terbaik. Allah berfirman : "Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya" (Q.S. Az-Zalzalah : 7-8).

Mari lakukan amal ibadah yang terbaik di sisa umur yang Allah masih berikan. Sungguh itu semua untuk kita juga. Bukan untuk kemuliaan Allah. Agar dapat melakukan yang terbaik maka bayangkanlah itu amal ibadah kita yang terakhir. Seperti seorang terpidana mati yang akan segera dieksekusi. Dia meminta waktu untuk shalat yang terakhir sebelum dibawa ke ruang eksekusi. Maka tentu dia akan shalat yang terbaik. Khusyu' dan berdo'a penuh linangan air mata agar shalatnya diterima dan dosanya diampuni.

Kita tidak pernah tahu akhir kehidupan kita. Kematian bisa datang kapan saja. Maka coba bayangkan setiap akan shalat itu adalah shalat yang terakhir. Semoga dapat membantu kita menjadi khusyu'. Kita juga tidak dapat menjamin kita masih ketemu Ramadhan tahun depan. Bisa jadi ajal telah datang menjemput. Oleh karena itu mari bertekad Ramadhan tahun ini sebagai Ramadhan yang terbaik. Isi hari-harinya dengan amal ibadah yang terbaik. Puasa, shalat, tilawah Al Qur'an, infak, sedekah, zakat dan amal ibadah lainnya mari lakukan dengan sebaik-baiknya. Semoga kita menjadi manusia yang dirindukan oleh surga.

Makassar, 5 Ramadhan 1439 H