Kegiatan

on 20 Mei 2018
  • Message of the Director


Keislaman kita dapat dilihat dari dua sisi yaitu fisik dan ruhaniah.

Dari sisi fisik bisa tampak pada pakaian. Jika ada perempuan memakai hijab atau cadar maka dapat dipastikan dia adalah muslimah. Jika ada laki laki yang memakai gamis, peci atau sorban maka dapat dipastikan itu adalah muslimin.  

Selain dari sisi fisik bisa juga tampak pada perilaku ritual ibadahnya. Jika ada orang yang pergi ke masjid shalat berjamaah, ikut pengajian, membaca Al Qur'an, melaksanakan umroh dan haji, membayar zakat dan infak maka dapat dipastikan dia adalah orang Islam. 

Apakah keislaman hanya cukup sampai pada fisik dan perilaku ritual? Ternyata tidak cukup. Harus juga tampak pada perilaku sosial. Bagaimana perlakuan dia pada keluarga, teman, tetangga, anak yatim, fakir miskin bahkan pada hewan dan tumbuh-tumbuhan. Inilah aspek akhlakul karimah. 

Pendusta agama bukan hanya yang menyekutukan Allah serta mendustakan Rasulullah. Tapi juga orang yang memiliki perilaku anti sosial seperti tergambar di dalam Al Qur'an surat Al Ma'un ayat 1-3 : 

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin."

Jadi pakaian dan ritual belum cukup sebagai gambaran keislaman. Harus nampak pada perilaku sosial. Bahkan lebih lanjut lagi pada ayat 4 - 7 : 

"Maka celakalah orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya', dan enggan memberikan bantuan". 

Orang yang shalat pun masih celaka karena lalai, riya' dan pelit. 

Pada ayat ini tampak ciri keislaman yang bersifat ruhaniah yaitu ikhlas sebagai lawan dari riya'. Ikhlas berbasis tauhid bahwa segala perbuatannya semata-mata karena Allah. Penampilan fisik islami, ritual ibadah yang dijalankan, perilaku sosial kedermawanan yang dilakukan semua ikhlas karena Allah. Bukan karena ingin dilihat (riya') dan dipuji oleh orang lain. Bukan karena pencitraan. 

Dia lakukan itu semua karena pengenalannya kepada Allah (ma'rifatullah). Dia tahu bahwa menutup aurat, beribadah ritual dan menolong sesama adalah perintah Allah. Maka dijalankannya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Dia tak peduli dengan komentar dan penilaian manusia. Yang dia kejar adalah penilaian dan keridhaan Allah.


Ma'rifatullahnya membuat dia tahu bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Maka dikasihi dan disayanginya makhluk Allah yang ada di bumi. Itu semua sebagai wujud cintanya kepada Allah. Semoga dengan itu dia berharap Allah pun juga Mencintainya. 

Itulah esensi ibadah dan keberislaman. Tidak hanya aspek lahiriah dengan penampilan dan perbuatan fisik yang tampak. Tapi juga aspek batiniah perbuatan hati yang rahasia hamba dan Allah yaitu keikhlasan. 

Seluruh amaliah ibadah di bulan Ramadhan yang banyak dilakukan seperti puasa, shalat dan tadarus Al Qur'an melatih kita mengenal Allah (ma'rifatullah). Puasa tanpa pengawasan manusia dan hanya Allah yang Maha Mengawasi. Shalat menghadap Allah dan berdialog dengan-Nya. Tadarus Al Qur'an membaca kalamullah (perkataan Allah). Semoga itu semua membuat kita meyakini kehadiran Allah dan merasakan kedekatan dengan-Nya sebagaimana firman Allah di rangkaian ayat puasa Al Baqarah 186 : 

"Dan apabiila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. ... 

Makassar, 4 Ramadhan 1439 H  / 20 Mei 2018