Kegiatan

on 07 Mei 2018
  • Message of the Director

Bada shalat subuh di masjid Jabal Rahmah Girimekar Permai Bandung,

pengurus mengumumkan akan ada ustadz yang siap membimbing setoran hafalan sambil perbaiki bacaan Al Qur'an. Program ini sudah berjalan lama. Seingat saya tahun lalu saya juga pernah ikut saat bermalam di rumah mertua.

Menurut saya program ini sangat bagus untuk membantu jamaah menambah hafalan dan memperbaiki bacaan al Qur'an. Tapi kok pesertanya sedikit sekali. Jamaah yang shalat subuh ada lebih dari 100 orang. Yang ikut cuma 8 orang termasuk saya sebagai musafir. Peserta lain karena peserta rutin sudah bawa hafalan pekan ini untuk disetorkan. Saya sambil menunggu giliran mencoba menghafal lagi hafalan yang sudah mulai sedikit lupa. Alhamdulillah menunggu sekitar 30 menit bisa menghafal lagi.

Setelah kami semua setor hafalan maka pak ustadz pun melanjutkan dengan kajian surat Al Qadr. Inilah tulisan kajiannya. Apa yang anda ingat kalau mendengar surat Al Qadr? Pasti malam kemuliaan yaitu malam lailatul qadr. Malam yang lebih baik daripada 1000 bulan. Malam itu sangat dinantikan untuk beribadah karena pahalanya lebih baik daripada 1000 bulan pada malam lainnya. Maka muncullah istilah "berburu lailatul qadr" pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan khususnya di malam ganjil.

Mengapa malam itu sangat mulia? Dijelaskan dalam surat Al Qadr karena malam itu diturunkan Al Qur'an. Jadi malam itu mulia karena Al Qur'an. Begitu mulianya Al Qur'an malam turunnya saja jadi mulia. Dibawa oleh makhluk langit yang paling mulia yaitu malaikat Jibril. Diturunkan pada manusia paling mulia yaitu Muhammad SAW. Mungkinkah kemuliaan itu juga diraih oleh kita ummat Muhammad SAW? Tentu sangat mungkin. Syaratnya kita harus memuliakan Al Qur'an.

Caranya banyaklah berinteraksi dengan Al Qur'an. Membacanya dengan tartil sesuai makhorijul huruf dan ilmu tajwid. Agar bisa membaca dengan tartil maka tidak bisa belajar sendiri. Harus berguru pada ustadz yang tepat. Belajar membaca tidak hanya mendengarkan tapi juga didengarkan. Terkadang kita merasa sudah benar. Tapi saat didengarkan oleh orang lain baru ketahuan kalau ada yang salah. Itulah pentingnya berguru. Jangan malu ketahuan belum bisa membaca Al Qur'an dengan benar. Justru dengan ketahuan masalahnya akan dibantu oleh ustadz untuk membenarkannya. Banyak orang dewasa yang malu belajar Al Qur'an dari dasar karena malu. Malu ketahuan masih banyak salahnya. Padahal dengan terus malu tidak akan membuatnya bisa. Malu hanya mempertahankan ego yang tidak perlu.

Setelah tilawah yaitu tahfizh atau menghafal Al Qur'an. Cobalah untuk menambah hafalan meskipun hanya satu atau dua ayat tiap pekan. Saat menghafal usahakan sambil mentadabburi atau menghayati apa yang dihafal. Dengan demikian akan terasa Al Quran meresap ke dalam jiwa. Di akhir kajian pak ustadz bercerita tentang anak anak Palestina di tengah desingan peluru dan suara bom mereka tetap semangat menghafal Al Qur'an. Seolah suara senjata itu dianggap biasa dan tak boleh mengganggu mereka menghafal Al Quran. Mengapa demikian? Mereka yakin bahwa harapan terakhir mereka untuk meraih kemuliaan yaitu Al Qur'an.

Berinteraksi dengan Al Qur'an membuat mereka dapat tetap tenang di tengah kondisi kehidupan yang tidak aman. Mendengar kisah itu saya jadi terharu. Kita di Indonesia dengan kondisi aman dan tenang malah jadi lalai dan jarang interaksi dengan Al Quran. Interaksi lebih banyak dengan mobile phone karena kena nomo phobia (no mobile phobia). Cemas jika jauh dan lama tak bersama mobile phone. Anak-anak Palestina kena noqu phobia (no Al Quran phobia). Cemas jika lama tidak membaca atau membuka Al Quran.

Sebagai penutup pak ustadz berpesan agar sebelum memasuki bulan Ramadhan siapkan diri untuk dekat dengan Al Quran. Buatlah target mau khatam berapa kali. Buatlah target hafal berapa ayat. Semoga dengan itu semua kita juga bisa kena noqu phobia dan sembuh dari nomo phobia. Amin