Kegiatan

on 19 Februari 2018
  • Message of the Director
Mana yang Anda pilih, "menjadi yang terbaik" atau "menjadi lebih baik"?
Biasanya orang yang semangat kompetisi dan berprestasinya tinggi akan memilih menjadi yang terbaik. Ada prestasi dan prestise. Mengalahkan orang lain. Apalagi di era persaingan seperti sekarang ini di mana manusia saling berlomba menjadi juara.

Perlombaan dalam hidup adalah sunnatullah. Sejak masih dalam proses pembuahan perlombaan sudah terjadi. Sel sperma jumlahnya ratusan juta berlomba untuk menuju sel telur yang jumlahnya hanya satu. Sel yang paling cepat dan kuat itulah yang menang.

Ternyata hal itu terus berlanjut sampai di kehidupan dunia. Semangat kompetisi dalam beraneka ragam jenis perlombaan. Sekolah, tempat kerja, olahraga dan lain sebagainya manusia ingin menjadi yang terbaik. Lahirlah tokoh-tokoh terbaik setiap tahun dalam berbagai bidang. Pesepakbola terbaik, petenis terbaik, pegolf terbaik adalah contoh olahragawan yang tiap tahun diumumkan untuk tingkat dunia. Lalu ada menteri terbaik yang diraih Sri Mulyani dari Indonesia.

Sebelum berkompetisi dengan orang lain setiap orang berkompetisi dengan dirinya sendiri. Tentu bukan menjadi yang terbaik tapi menjadi lebih baik. Seiring dengan perjalanan waktu kualitas dirinya semakin baik. Kemenangan diraih jika ada kemajuan antara kualitas dirinya pada masa sekarang lebih baik dibandingkan kemarin. Pepatah bijak mengatakan "siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka itulah orang yang beruntung".

Ada lima aspek yang perlu dicermati dalam diri kita masing-masing yaitu Spiritual, Emosional, Teknikal, Intelektual dan Aspirasional yang disingkat dalam kata SETIA. Spiritual terkait kualitas hubungan dengan Sang Pencipta. Bagi umat Islam yaitu kuantitas dan kualitas ibadah khusus seperti shalat, bacaan Al Qur'an, puasa dan lain sebagainya. Emosional yaitu kualitas hubungan dengan sesama manusia seperti keramahan, kesabaran, kebijaksanaan, kerendahhatian dan toleransi.

Teknikal terkait dengan tingkat kemampuan dan keterampilan dalam mengerjakan tugas. Tingkatannya yaitu pemula, mahir dan ahli. Intelektual yaitu wawasan umum dan keilmuan khusus dalam profesi atau pekerjaan apakah jadul atau zaman now. Lebih jauh lagi apakah mencintai mengembangkan dan memproduksi ilmu. Terakhir yaitu Aspirational. Ini terkait dengan visi, harapan atau impian. Visi yang berkembang terus berambisi meraih sesuatu yang membuatnya lebih baik dan bermanfaat.

Agar aspek SETIA itu dapat berkembang maka hindarilah rasa cepat puas dan merasa hebat. Tumbuhkanlah sikap 'hebat merasa' sehingga dapat merasakan apa yang masih kurang dalam diri yang perlu segera diperbaiki. Sering-seringlah introspeksi diri dan benchmarking kepada mereka yang lebih baik. Jangan jadi katak di bawah tempurung.

Jika telah menemukan area pengembangan diri maka bersungguh-sungguhlah belajar dan berlatih. Hadapi, hayati dan nikmati prosesnya dengan penuh kesabaran dan kesyukuran. Secara berkala periksa kemajuan, analisis masalah dan cari solusi terbaik. Jika salah segera perbaiki. Jika gagal segera ulangi sampai berhasil menjadi lebih baik.

Orang-orang sukses pasti menghadapi kesulitan, masalah dan rintangan. Jatuh bangun dalam kehidupan menjadi menu sehari-hari. Mereka tidak menyerah tapi terus berlatih sampai berhasil meraih prestasi. Penelitian pada orang-orang yang ahli dalam olahraga, keterampilan dan keilmuan tertentu ditemukan bahwa mereka berlatih minimal 10.000 jam baru mencapai level ahli.

Akhirnya jika proses menjadi lebih baik terus dilakukan pada seluruh aspek kemanusiaan kita maka insya Allah kita akan tumbuh menjadi manusia yang terbaik dunia dan akhirat. Manusia yang semakin bertakwa dan bermanfaat sesuai sabda Rasulullah Muhammad SAW "yang terbaik di antara kamu yaitu yang paling banyak bermanfaat untuk orang lain".