Kegiatan

on 17 Januari 2018
  • Message of the Director

Berasal dari bahasa Bugis yang artinya Duduk Bersama. Tentu bukan asal duduk bersama seperti di warkop yang umumnya bicara tanpa jelas ujung pangkalnya. Ini adalah duduk bersama untuk memahami masalah yang ada agar dapat mencari solusi yang tepat

Tudang Sipulung bagi seorang pemimpin di sebuah organisasi atau lembaga menjadi wahana mendengar suara hati anggota atau staffnya. Bagi pemimpin daerah atau negara menjadi cara untuk menjaring aspirasi rakyat. Sekaligus ajang silaturrahim, membangun jembatan emosi dan hati. Syaratnya dilakukan dengan niat baik mencari masalah bukan pencitraan. 

Bagaimana caranya? Diperlukan tim yang serius untuk mengolah dan menganalisis dengan metode yang tepat agar aspirasi yang disampaikan dapat menjadi bahan perumusan program. Terdapat lima langkah yaitu koleksi, klasifikasi, seleksi, analisis dan rencana aksi. 

Langkah awal yaitu koleksi atau pengumpulan. Caranya dengan mencatat apa adanya semua aspirasi yang muncul. Buka telinga, hati dan pikiran. Dengarkan dengan sungguh-sungguh. Berikan empati dan apresiasi. Jangan dulu melakukan penilaian apalagi penolakan dan bantahan.  

Biasanya aspirasi yang berkembang sangat banyak dan beragam. Maka dibutuhkan langkah kedua yaitu klasifikasi. Langkah ini dilakukan dengan mengelompokkan aspirasi sesuai tema besar seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. 

Tentu saja aspirasi yang muncul biasanya hampir sama. Oleh karena itu perlu dilakukan langkah ketiga yaitu seleksi. Suara yang sama cukup diwakili oleh satu deskripsi. Bisa juga terdapat aspirasi yang mengada-ada dan tidak masuk akal. Maka perlu dilakukan eliminasi. 

Hasil dari seleksi aspirasi harus dianalisis untuk mencari urutan prioritas dan akar masalah serta hubungan kausalitas dari beragam masalah yang ada. Harapannya dapat dirumuskan PICA atau Problem Identification and Corrective Action sebagai rencana aksi  atau program kerja.

Memasuki masa verifikasi pendaftaran calon bupati, walikota dan gubernur se Indonesia maka para calon biasanya mulai sibuk keliling daerah pemilihan. Bukan kampanye atau sosialisasi tapi silaturrahim. Biasanya disertai dengan perkenalan, tanya jawab dan penyampaian aspirasi dari warga.

Tentu kita berharap silaturrahim atau tudang sipulung yang dilakukan oleh para kandidat bukan sekadar basa basi. Bukan semata tebar pesona dan umbar janji. Tapi murni untuk menjaring aspirasi. Dengan niat ingin menjadi khadimul ummah atau pelayan masyarakat maka para kandidat harus dapat menangkap masalah dan kebutuhan rakyat. Untuk selanjutnya menjadi bahan membuat program kerja yang akan dilaksanakan jika memenangkan pemilihan. Selamat Tudang Sipulung.