Kegiatan

on 14 Oktober 2021
  • Message of the Director

Selama dua pekan ini siswa SMP dan SMA di Kota Makassar sudah mulai belajar dari sekolah. Bahkan di beberapa Kabupaten di Sulsel telah berjalan sejak awal September 2021.

Masih ada pembatasan jumlah siswa yaitu 1/3 sampai 1/2 dari total. Juga durasi waktu belajar maksimal 3 jam. Oleh karena itu dinamakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT). 

Selain itu di Kota Makassar juga ada pembatasan sekolah tingkat SMP yang masih tahap ujicoba dengan memilih beberapa sekolah negeri dan swasta sebagai pilot project. Untuk SMA semua sekolah boleh masuk secara terbatas dengan syarat memenuhi protokol kesehatan. Di daerah lain ada yang sudah masuk dari tingkat SD sampai SMA. 

Perguruan Tinggi juga mulai masuk kuliah secara terbatas. Beberapa kampus besar seperti Unhas sudah mengeluarkan keputusan akan masuk secara offline pada awal November 2021. Ini semua didasarkan pada data penderita covid yang terus menurun. 

Tadi pagi saya sempat berkunjung ke SMA Athrah Bukit Baruga melihat proses belajar PTMT ini. Para guru menceritakan tingginya antusiasme siswa. Jadwal apel pagi jam 7.30 pagi. Sudah banyak yang tiba di sekolah jam 7 pagi. Terlihat semangat dan kerinduan siswa untuk kembali bersekolah secara normal. Juga ada cerita siswa yang belum pernah ketemu langsung dengan wali kelasnya. Selama ini bertemu via online. Saat ketemu offline harus memastikan dulu dengan menyebut nama gurunya.

Pekan sebelumnya saat berkunjung ke SMP Athirah Bukit Baruga juga ada keanehan. Siswa baru yang masuk tahun lalu sudah lebih satu tahun tidak ketemu teman-temannya. Jadi sekarang siswa lama tapi masih baru. Kalau siswa lama pada tahun sebelumnya, baru bertemu setelah 1,5 tahun maka banyak perubahan fisik yang terjadi. Badan semakin tinggi dan besar. Kadang sulit dikenali secara sekilas  

Pendidikan bukan hanya aktivitas intelektual tapi juga sosial, fisikal, emosional dan spiritual. Bertemunya siswa secara langsung dengan guru dan teman-temannya akan membangun sisi sosial dan emosional siswa. Adanya interaksi meskipun tetap menjaga prokes itu juga bagian dari pendidikan khususnya aspek sosial dan emosional. 

Pada masa pandemi covid saat siswa belajar dari rumah. Sebagain waktunya habis dalam kesendirian bersama komputer atau gadget. Di rumah bersama kakak dan orang dewasa lainnya tentu tidak sesuai dengan keadaan psikologisnya. Orang dewasa sibuk dengan aktivitas dan pekerjaan. Atau bersama adiknya yang berbeda umur cukup jauh. Juga berbeda aktivitasnya. Tentu itu semua berdampak pada perkembangan kecerdasan emosional siswa.

Menurut Daniel Goleman, kecerdasan emosional kontribusinya sebesar 80?lam menentukan kesuksesan anak di masa depan. Salah satu cara mengasahnya yaitu melalui interaksi sosial. Melalui interaksi siswa dapat mengenali emosi dirinya dan orang lain. Juga dapat menyesuaikan diri secara sosial, adaptif dalam bergaul. Lebih jauh lagi dapat memiliki rasa peduli dan empati. Jauh dari egois dan mementingkan diri sendiri. Itu akan membuatnya mudah membantu orang lain. Juga dapat berkomunikasi dan berkolaborasi dalam tim.

Belajar dari rumah secara online yang telah dijalani selama ini tetap memiliki manfaat. Ini membuat kita memiliki kemampuan untuk belajar menggunakan teknologi untuk belajar di mana saja dan kapan saja. Kita juga tahu dan mampu menjalankan cara belajar  baru dengan sumber belajar  yang berlimpah di internet.

Diharapkan dengan pengalaman itu pembelajaran di sekolah akan ada perubahan. Tidak hanya mengandalkan guru dan buku paket serta pertemuan tatap muka semata. Belajar dapat dilakukan secara mandiri asinkron melalui Learning Management System.

Harapannya pembelajaran tatap muka betul-betul bermakna. Pembelajaran yang tidak hanya mengejar sisi kognitif pengetahuan tapi juga sikap dan keterampilan. Pembelajaran yang membangun 4C yaitu communication, collaboration, creativity dan critical thinking disertai computational thinking dengan teknologi digital. Itulah kompetensi untuk sukses di masa depan.