Kegiatan

on 18 Desember 2017
  • Message of the Director
Prof. Dr. Maman A. Djauhari Guru Besar Matematika ITB pernah berucap "selama ini kita hanya konsumen ilmu masih jarang jadi produsen ilmu". Apa maksudnya? Apa yang kita pelajari adalah ilmu yang teorinya dibuat dan dikembangkan orang lain. Sangat jarang kita temukan teori yang dipelajari di sekolah dan perguruan tinggi buatan orang Indonesia.

Apa akibatnya? Kita pun juga hanya menjadi konsumen dari hasil ilmu pengetahuan yaitu teknologi. Indonesia adalah pasar yang paling besar dari smartphone, motor, mobil dan produk teknologi lainnya. Trilyunan rupiah dana rakyat Indonesia setiap tahunnya yang keluar ke negara produsen teknologi seperti Jepang, Korea, Amerika, Eropa dan sebagainya.
Apa penyebabnya kita lebih banyak menjadi konsumen teknologi? Sebabnya karena kita belum mampu memproduksi ilmu pengetahuan. Apa buktinya? Kita bisa lihat dari jumlah karya ilmiah orang Indonesia yang terbit di jurnal kelas dunia. Bisa juga dilihat dari jumlah buku yang terbit dan merupakan karya orang Indonesia. Dibandingkan dengan negara lain maka Indonesia masih berapa di level bawah.
Apa sebabnya masih sedikit karya di jurnal ilmiah atau buku karangan orang Indonesia? Ada dua aspek yang bisa ditinjau yaitu kultur / budaya dan ekonomi-politik. Aspek kultur ilmiah terkait budaya ilmiah di lembaga pendidikan. Aspek ekonomi-politik terkait keberpihakan dan dukungan finansial terhadap usaha produksi ilmu pengetahuan.
Tingkatan budaya terkait ilmu ada 5 level yaitu menyenangi ilmu, memahami ilmu, mencintai ilmu, mengembangkan ilmu dan memproduksi ilmu. Urutan tersebut merupakan sebab akibat. Akan mudah memahami ilmu jika kita senang. Akan mudah mengembangkan ilmu jika kita mencintainya. Akhirnya akan mudah memproduksi ilmu jika sudah tumbuh budaya mengembangkan ilmu.
Faktor yang sangat menentukan agar tumbuh rasa senang dan cinta ilmu yaitu pendidik (guru, ustadz, dosen). Dibutuhkan pendidik yang memiliki passion yaitu gairah yang tinggi sehingga menjalankan tugas mendidik dengan senang dan bahagia.
Faktor kedua yang membangun produsen ilmu yaitu budaya menulis. Kondisi negeri kita budaya menulis masih rendah. Masyarakat kita lebih kuat budaya bicaranya. Dalam dunia pendidikan pun demikian. Guru, dosen dan ustadz masih banyak menggunakan waktunya untuk berbicara di kelas, ruang seminar, masjid dan sebagainya. Masih jarang yang menggunakan waktunya untuk menulis.
Mengapa pendidik jarang yang menulis? Karena tidak terbiasa. Mengapa tidak terbiasa? Karena tidak ada sistem yang memaksa pendidik untuk menulis. Pada tingkatan persekolahan guru tidak diwajibkan membuat bahan ajar sendiri. Guru tinggal menggunakan buku yang dibuat oleh penerbit. Padahal sering terjadi buku dari penerbit tidak cocok 100?ngan kondisi aktual.
Faktor lain yang juga jadi sebab pendidik kurang semangat menulis yaitu rendahnya penghargaan finansial terhadap penulis. Royalti untuk penulis hanya sekitar 10%. Jika buku yang tebalnya 200 halaman harga 50 ribu rupiah dicetak 1000 buah maka royalti jika buku itu habis terjual yaitu lima juta rupiah. Menulisnya membutuhkan waktu berbulan-bulan. Bandingkan jika dosen, guru atau ustadz menjadi narasumber seminar atau pelatihan. Satu hari bisa dapat honor 5 juta rupiah. Jadi lebih banyak yang memilih menjadi pembicara daripada penulis.
Oleh karena itu untuk mendorong tumbuhnya produksi ilmu maka pemerintah harus memberikan insentif khusus kepada para pendidik dan ilmuwan yang menulis. Jangan hanya mengandalkan royalti dari penerbit. Negara Maju yang produktif dalam produksi ilmu tidak lepas dari dukungan dan kebijakan pemerintahnya.
Tentunya tak bisa dilupakan fondasinya yaitu membangun budaya ilmiah. Indikator utamanya yaitu tumbuhnya sikap senang dan cinta ilmu sehingga tumbuh kreativitas dalam mengembangkannya. Kuncinya membangun kebiasaan membaca dan menulis. Budaya literasi sejak dini.
Makassar, 18 Desember 2017