Kegiatan

on 16 Agustus 2021
  • Message of the Director

Jika dilakukan pengukuran index kebahagiaan pada seluruh penduduk dunia maka dapat dipastikan terjadi penurunan antara sebelum dan sesudah pandemi covid. Hal ini dapat dimaklumi karena pandemi telah menebarkan rasa takut, khawatir, sedih, cemas bahkan stress dan depresi.

Tentu kita tidak ingin pandemi covid menurunkan kebahagiaan kita. Bagaimana caranya agar bisa tetap bahagia di masa pandemi? 

Prinsipnya adalah bahagia itu merupakan respon dari peristiwa. Maksudnya kondisi apapun manusia dapat memilih responnya sendiri. Itulah keunggulan manusia, mampu memilih respon. Bukan otomatis ada stimulus - respon tapi stimulus - berpikir - respon. Kondisi yang buruk manusia bisa tetap bahagia jika dapat memandangnya dengan pola pikir dan mindset positif.

Arfan Pradiansyah dalam buku The Seven Laws of Happiness menyebutkan ada 3 jenis kebahagiaan yaitu personal, sosial dan spiritual. Bahagia personal sangat ditentukan oleh kondisi internal kita, tidak ditentukan oleh orang lain. Ada 3 syarat agar manusia bisa tetap bahagia dalam kondisi apapun yaitu syukur, sabar dan sederhana.

Syukur itu fokus pada yang ada, bukan yang tidak ada. Pada masa pandemi syukur dengan makna di atas sangat penting. Pada saat ada yang hilang dari diri kita maka tentu masih banyak yang tetap ada.  Jika fokusnya pada yang masih ada maka tentu tetap bersyukur dan bahagia.

Jika dampak pandemi kita kehilangan pekerjaan maka tetaplah bersyukur karena masih ada nikmat kesehatan. Semoga dengan modal kesehatan kita dapat kembali mencari pekerjaan. Jika dampak pandemi kita kehilangan kesehatan maka tetaplah bersyukur karena kita masih diberi umur kehidupan. Semoga dengan umur tersebut kita ada kesempatan berobat dan akhirnya sembuh. Carilah 1001 alasan untuk tetap bersyukur dalam kondisi apapun. Fokus pada yang ada bukan yang tidak ada.

Jika syukur kita fokus pada yang ada maka dampaknya akan mudah untuk bersabar dalam kondisi cobaan seberat apapun. Apalagi jika ditambahkan dengan fungsi waktu hidup kita. Jika umur kita 40 tahun maka dua tahun di masa pandemi itu hanya 5?ri kehidupan kita. Ada 95?ri umur kita yang tanpa pandemi. 

Jika syukur dan sabar sudah ada dalam diri maka kita memandang masalah akan sederhana. Tidak panik, tidak banyak ketakutan dan kecemasan yang berlebihan. Tetap dapat berfikir rasional dan tidak rumit dalam melihat masalah.

Selanjutnya jenis bahagia kedua yaitu social happiness melalui memberi, mengasihi dan memaafkan. Prinsipnya adalah melepaskan itu membahagiakan. Saat kita memberi berbagi harta kepada orang lain maka kita melepaskan diri dari keserakahan. Pada saat mengasihi maka kita memberikan perhatian dan cinta. Saat kita memaafkan maka kita melepaskan rasa dendam. Itu semua memberikan dampak  kebahagiaan. Pada masa pandemi ini carilah orang yang lebih susah dari kita dan berilah bantuan sesuai kemampuan. Saat memberi nikmati kebahagiaan karena bisa berbagi. Bahagia karena membahagiakan orang lain.

Selanjutnya jenis bahagia ketiga yaitu spiritual happiness. Kuncinya adalah tawakkal atau pasrah kepada Allah atas segala yang terjadi. Tugas manusia adalah berusaha. Hasilnya ada pada ketentuan Allah. Jika tawakkal tertanam kuat dalam jiwa maka segalanya akan indah. 

Menghadapi pandemi covid-19 tugas kita adalah menerapkan protokol kesehatan agar terhindar dari virus. Jika terpapar maka tugas kita adalah berobat sesuai ketentuan dokter. Jika disertai dengan rasa tawakkal maka akan tercipta ketenangan dalam jiwa yang membuat kita tetap bahagia. Semoga dengan syukur, sabar, berbagi dan tawakkal kita tetap bahagia di masa pandemi.