Kegiatan

on 28 Juni 2021
  • Message of the Director

Dalam manajemen ada dua ungkapan terkait bagaimana proses pembelajaran (learning) pada organisasi. Pertama ialah learning organization. Apa artinya? Organisasinya yang belajar. Jadi ilmunya tinggal meskipun orang-orang di organisasi tersebut keluar atau pensiun.

Kedua yaitu organizational learning yaitu orang-orang di dalam organisasi tersebut yang terus-menerus belajar. Mereka tidak hanya bekerja tapi juga belajar dan berbagi ilmu. Apa yang dipelajari juga diaplikasikan.

Dunia telah berubah, sedang berubah dan terus menerus berubah. Yang dapat bertahan di era perubahan ini bukanlah yang paling kuat dan kaya, tapi yang paling mampu beradaptasi. Dapat merespon dengan cepat dan tepat perubahan yang terjadi di sekitarnya. Syaratnya adalah memiliki growth mindset, cara pandang yang bertumbuh, memiliki keinginan kuat untuk terus-menerus belajar hal baru. 

Demikian pula dengan organisasi. Jika ingin terus tumbuh, mampu beradaptasi dan merespon perubahan dengan cepat dan tepat maka harus menjadikan belajar atau learning sebagai nafasnya, kebiasaannya,  budayanya dan jalan hidup orang-orang yang ada di dalamnya. Learning organization dan organizational learning dalam organisasi tersebut harus hidup.

Cara membangun learning organization di mana organisasinya yang belajar yaitu dengan cara mengelola pengetahuan (knowledge management) yang ada di dalam organisasi. Langkah awal yaitu menentukan dan menemukan core excellence. Maksudnya kenali apa keunggulan utama dari organisasi Anda.  Apakah pada produksi, pelayanan, atau riset dan pengembangan.

Selanjutnya kenali core competence atau kompetensi inti yang dimiliki organisasi yang membuatnya berbeda dengan yang lain. Jika pelayanan tentu core competence-nya adalah customer delight atau excellence. Jika produksi tentu kompetensi intinya adalah process excellence. Jika pada riset dan pengembangan maka kompetensi intinya adalah innovation.

Kemudian kembangkan dan dokumentasikan pengetahuan terkait dengan kompetensi inti. Caranya yaitu menggali best practice yang selama ini dijalankan dan mendokumentasikannya. Tujuannya menjadikan pengetahuan yang tersembunyi (tacit knowledge) menjadi muncul dan bisa dipelajari oleh siapa saja (explicit knowledge). Akan sangat baik jika pengetahuan tersebut dikelola dalam system berbasis ICT.

Lebih jauh lagi apa yang menjadi core competence tersebut dimasukkan dalam sistem dan budaya organisasi. Sistem membuat keteraturan dan tindakan yang terstruktur dan terstandar. Budaya mendorong tumbuhnya kebiasaan sehari-hari yang melekat menjadi karakter bagi seluruh anggota organisasi.

Untuk membangun organizational learning di mana seluruh anggota organisasi sebagai manusia pembelajar yaitu menumbuhkan kesadaran dan budaya belajar. Gunakan pendekatan AIDA yaitu attention, interest, decision dan action. Bangun perhatian dan ketertarikan dengan promosi tentang pentingnya belajar sampai kapanpun. Jika sudah tertarik maka akan memutuskan untuk action menjadi manusia pembelajar.

Tentu action tersebut harus dapat difasilitasi dengan baik melalui program pembelajaran yang terstruktur dan sesuai dengan kebutuhan. Mulai dari fase perencanaan dengan menyusun individual development plan (IDP). Lalu fase pelaksanaan dengan menfasilitasi proses belajar yang terintegrasi antara formal, social dan  experiential learning. Fase evaluasi dan monitoring dilakukan untuk memastikan proses belajar memiliki dampak pada kinerja. Artinya ilmu yang dipelajari bermanfaat pada amal keseharian. Jika seluruh fase tersebut dijalankan maka learning culture akan tumbuh di organisasi. Akhirnya terciptalah organizational learning dan learning organization.

Oleh : Syamril, ST., M.Pd (Direktur Sekolah Islam Athirah)