Kegiatan

on 12 Desember 2017
  • Message of the Director

Tanggal 10 Desember diperingati sebagai Hari Hak Asasi Manusia Internasional. Berawal dari dikeluarkannya Deklarasi Hak Asasi Manusia oleh PBB pada tanggal 10 Desember 1948. Intinya setiap manusia memiliki hak untuk hidup, merdeka, aman, kepemilikan dan lain sebagainya.


Dikeluarkannya Deklarasi HAM oleh PBB didasari oleh potret buram HAM dunia di era modern yang sangat memprihatinkan. Berawal dari penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa berkulit putih kepada bangsa Asia, Afrika, Amerika dan Australia berkulit warna. Sejak awal abad XVI sampai abad XX penjajahan terjadi di hampir seluruh penjuru dunia. Motivasi dasarnya yaitu penguasaan sumber daya alam. Kemudian berkembang menjadi perbudakan manusia. Eksploitasi tanpa batas yang tidak berperikemanusiaan.

Pada awal abad XX muncul kesadaran kemanusiaan di Barat yang menggugat praktek penjajahan. Mulailah penjajahan yang sedikit beradab dengan memberikan pendidikan yang terbatas kepada rakyat jajahan. Sampai akhirnya awal abad XX terjadi Perang Dunia I dan II yang berawal dari pertikaian sesama negara Eropa. Perang yang menimbulkan banyak korban dan eskalasinya ke seluruh penjuru dunia. Perang inipun tentu sangat banyak pelanggaran HAM.

Harapannya melalui PBB pelanggaran HAM tersebut bisa dihentikan. Namun apa yang terjadi? Ternyata potret buram HAM dunia masih terus berlanjut. Melalui PBB AS dan Sekutunya sebagai pemenang Perang Dunia II menobatkan diri sebagai Polisi Dunia, Anggota Tetap Dewan Keamanan. Apa yang terjadi? Pelanggaran HAM mereka berlanjut. Bahkan AS secara terang-terangan menggunakan hak vetonya di PBB untuk membela pelanggaran HAM Israel terhadap rakyat Palestina. Setiap Resolusi PBB yang ingin menghukum Israel karena pelanggaran HAM yang dilakukannya selalu saja diveto.

Berbeda jika pelanggaran HAM dilakukan oleh negara lain seperti saat Irak menginvasi Kuwait. Maka AS atas nama PBB dan HAM tampil sebagai polisi dunia. Irak pun diserang sampai porak poranda dan korban sangat banyak. Negaranya pun hancur.

Sangat berbeda saat Israel menginvasi Palestina dan menguasai sebagian besar tanah rakyat Palestina dan mengusir penduduknya sehingga harus menjadi pengungsi di negara lain. Bahkan kota Yerusalem yang menjadi wilayah Palestina dikuasai. Bukannya diserang seperti Irak yang menginvasi Kuwait. Malah AS mendukung Israel atas tindakannya tersebut. Pekan lalu AS mengumumkan pengakuannya secara resmi bahwa Yerusalem tanah hasil invasi sebagai ibukota Israel. Ini bukti yang terang benderang sebagai pendukung pelanggar HAM.

Melihat berbagai tindakan Barat khususnya AS dalam hal pelanggaran HAM dan pembelaan membabi buta terhadap Israel Sang Penjegal HAM maka sudah saatnya dunia Islam yang menjadi korban menunjukkan solidaritasnya. Sudah saatnya negara-negara Islam khususnya yang terhimpun dalam OKI merapatkan barisan dan membangun kekuatan diri.

Pengakuan AS terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel harus menjadi momentum untuk bersatu. Tunjukkan bahwa OKI bukan kumpulan macan ompong yang hanya bisa bersuara tapi tak bisa menggigit. Kekuatan ekonomi, politik dan akidah yang dimiliki oleh negara OKI harus menjadi bargaining power untuk menghadapi Israel dan AS sebagai pelindungnya.

Para Kepala Negara OKI akan berkumpul di Turki pada tanggal 13 Desember 2017. Kita menunggu semoga ada aksi nyata yang menggigit tidak sekadar mengaum. Semoga harapan itu bisa terwujud agar tidak ada lagi negara yang seenaknya melanggar HAM dan tidak ada yang bisa menghentikan. Amin.

Makassar, 11 Desember 2017