Kegiatan

on 24 Mei 2021
  • Message of the Director

Bayangkan ada orang bertamu ke rumah Anda. Berhubung sudah larut malam akhirnya minta menginap. Anda sebagai tuan rumah yang baik dengan niat menghormati tamu pun mengizinkan.

Ajaran agama juga menganjurkan demikian dan tamu bisa menginap sampai tiga hari.

Saat menginap tamu ini tiba-tiba berulah. Mengaku rumah Anda adalah rumahnya karena tanah tempat rumah Anda didirikan adalah tanah leluhurnya ribuan tahun yang lalu. Tidak hanya mengaku secara verbal tapi juga mulai memaksakan secara fisik. Dengan menggunakan kekerasan dia mengancam Anda sebagai pemilik rumah.  Diberi ultimatum untuk pergi.

Jika tidak pergi maka akan diusir dengan paksa bahkan diancam dengan senjata. Anda tentu tidak terima dan melakukan protes serta perlawanan. Namun aneh, karena melawan Anda dicap sebagai penjahat. Anda pun terpaksa pergi dan rumah Anda dikuasai oleh dia yang semula bertamu ke rumah Anda.

Anda kemudian protes ke pemerintah setempat. Berhubung orang yang menguasai rumah Anda punya dana dan lobby yang kuat, pemerintah malah meminta Anda merelakan rumah Anda diambil. Anda akhirnya putus asa dan tidak bisa lagi berbuat apa apa. Anda harus pergi dan mengungsi.

Itulah pemisalan kondisi Palestina dan Israel. Awalnya orang-orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia khususnya dari Eropa datang ke Palestina meminta bantuan dan tempat tinggal karena mengalami perlakuan buruk pada Perang Dunia I. Orang Palestina menerima dengan baik dan tangan terbuka. Namun seiring dengan waktu saat jumlah mereka semakin banyak dan memiliki kekuatan keuangan dan senjata yang kuat maka orang-orang Yahudi memproklamasikan negara Israel di atas tanah Palestina.

Orang-orang Palestina diusir dan tanahnya dirampas. Mereka yang melawan bahkan banyak yang dibunuh. Orang-orang Palestina yang melawan dan ingin merebut kembali tanahnya disebut teroris. Orang-orang Palestina mengadu ke PBB. Namun aneh, lembaga PBB tidak bisa berbuat apa-apa. Malah membiarkan dan membenarkan tindakan Israel. 

Israel diakui sebagai negara dan Palestina harus mengalah. Agar tercipta perdamaian maka PBB meminta Palestina berkorban. Land for peace, tanah untuk perdamaian. Akhirnya jadilah bangsa Palestina menjadi tamu di negerinya sendiri. Pemilik negeri yang terjajah oleh Israel.  Perlahan-lahan terus diusir dan digusur seperti yang terjadi di Abu Jarrah Yerusalem Timur. 

Dunia diam. Amerika Serikat diam. Israel semakin membabi buta. Kaum muslimin yang sedang i'tikaf di masjid Al Aqsa pada malam ke 27 diserang. Bahkan terjadi kebakaran. Melihat kondisi itu para pejuang Hamas dari Jalur Gaza memberi ultimatum. Jika Israel tidak berhenti maka akan diserang. 

Akhirnya terjadilah perang. Hamas menembakkan ribuan rudal ke Israel dan dibalas dengan serangan udara menggunakan ratusan pesawat tempur. Ratusan warga Gaza jadi korban. Ribuan luka parah dan kehilangan tempat tinggal. Dunia turun tangan. Indonesia mengutuk dan mengatakan Palestina satu-satunya bangsa yang masih dijajah di muka bumi ini. Mesir menjadi penengah akhirnya terjadi gencatan senjata.

Kita berharap semoga gencatan senjata berlangsung lama agar korban tidak terus bertambah. Tentu lebih jauh lagi kita berharap dunia bersikap adil. Hak Palestina harus diberikan. Israel yang melanggar harus diberi hukuman. Apakah itu mungkin terjadi? Selama PBB masih dikuasai AS rasanya masih jauh dari harapan. Tapi semoga ada keajaiban. 

Oleh : Syamril, ST., M.Pd.