Kegiatan

on 19 April 2021
  • Message of the Director

Ada kebiasaan di Indonesia jika masuk bulan Ramadhan maka di awal puasa sekolah libur. Puasa tahun ini siswa di Makassar libur selama sepekan.

Alasannya mungkin siswa perlu adaptasi sehingga libur jadi solusinya. Bagi karyawan, jam kerja juga berkurang. Jika di masa normal, masuk jam 8 pagi dan pulang jam 17. Pada bulan Ramadhan total jam kerja berkurang rata-rata 1 jam.

Kemudian di masyarakat ada pemahaman keagamaan bahwa tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Akibatnya mendorong untuk tidur yang banyak dan mengurangi aktivitas fisik dan kerja. Padahal hadist itu ternyata palsu. Kesimpulannya Ramadhan adalah bulan penurunan produktivitas dan masalahnya ada alasan rasional dan spiritual yang jadi pembenaran.

Bagaimana sebenarnya ajaran Islam tentang produktivitas di Ramadhan? Jika kita melihat sejarah kehidupan Rasulullah justru pada saat bulan Ramadhan produktivitas lebih tinggi. Selain dalam hal ibadah juga jihad. Bahkan Perang Badar yang mencekam karena 313 kaum muslimin menghadapi 1000 kaum kafir Quraisy terjadi di bulan Ramadhan. 

Jam tidur berkurang karena malam hari banyak beribadah dan siang hari berjihad atau bekerja. Sehingga keadaan Rasulullah dan sahabat digambarkan "siang ibarat singa dan malam ibarat rahib". Siang sibuk bekerja dan berjihad. Malam sibuk beribadah.

Langkah awal untuk menjaga dan meningkatkan produktivitas di bulan Ramadhan dapat dilakukan dengan membangun mindset yang benar tentang produktivitas dan Ramadhan. Jika ada pemahaman bahwa tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah maka sebenarnya aktivitas bekerja orang yang berpuasa tentu nilai ibadah dan pahalanya lebih besar. 

Ramadhan sebagai bulan mulia di mana ganjaran pahala dilipatgandakan maka seharusnya bukan dijalani dengan banyak berdiam diri atau tidur. Isi waktu dengan aktivitas positif. Jika ada aktivitas tidur di siang hari jangan terlalu lama dan tujuannya agar pada malam hari dapat beribadah dengan segar, tidak mengantuk.

Langkah kedua yaitu membuat target yang tinggi dan tekad yang kuat untuk menjalankannya. Ada ungkapan yang mengatakan "bahaya itu bukan karena menetapkan target yang tinggi dan gagal mencapainya. Bahaya itu justru saat menetapkan target yang rendah dan berhasil mencapainya". Target yang tinggi akan membuat kita fokus dan menggunakan waktu dengan baik. Jika ada waktu luang maka prioritas aktivitas adalah mencapai target.

Langkah ketiga yaitu buat kelompok atau komunitas untuk saling memotivasi dan mengingatkan. Ungkapan orang bijak mengatakan "jika ingin berjalan cepat maka jalanlah sendirian. Jika ingin berjalan jauh maka jalanlah bersama-sama". Kebersamaan akan membuat kita terus bersemangat. Bersama-sama akan memudahkan untuk mencapai target yang butuh waktu lama. 

Mari di bulan Ramadhan ini pasang target tinggi khususnya yang terkait ibadah. Selain puasa juga membaca Al Qur'an, shalat sunnah, berinfak dan lain sebagainya. Jika selama ini belum pernah khatam Al Qur'an dalam sebulan maka targetkan bisa dua kali tamat pada Ramadhan sekarang. Demikian pula dengan jenis ibadah lainnya. Ingat, target itu ibarat niat. Meskipun belum dijalankan sudah dapat pahala.

Demikian pula dengan target pekerjaan. Jangan jadikan Ramadhan sebagai alasan untuk menurunkan target kerja. Justru tanamkan dalam diri bahwa dengan konsep kerja ibadah maka pahala bekerja juga berlipat ganda sambil berpuasa. Semoga Ramadhan menjadi momentum untuk meningkatkan takwa dan karya. Selamat berpuasa. 

Oleh : Syamril, ST., M.Pd. (Direktur Sekolah Islam Athirah)