Berita

on 18 Maret 2021
  • Message of the Director

Isra mi'raj adalah peristiwa diperjalankannya Nabi Muhammad SAW  dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa,

kemudian naik menembus tujuh langit hingga Sidratul Muntaha. Tujuan utamanya adalah untuk menerima perintah shalat 5 waktu.

Peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW mengandung hikmah yang sangat banyak. Salah satu diantaranya adalah dapat meningkatkan iman dan taqwa  kepada Allah SWT. 

Sebelum  di Isra mi'rajkan Nabi mengalami kesedihan yang sangat dalam. Karena dua orang yang sangat dicintai meninggal. Yang pertama Abu Thalib paman Nabi Muhammad SAW. Kemudian St. Khadijah Istri Rasulullah. 

Kenapa Nabi bersedih? Karena keduanya mempunyai peran yang sangat besar dalam kehidupan dan dakwah Rasulullah. Selain kedekatannya kepada Abu Thalib. Dia adalah sosok yang disegani yang  melindungi Rasulullah sehingga memuluskan dakwa Rasulullah SAW.  Demikian juga St Khadijah istri tercinta, yang mencintai Nabi dalam suka dan saat-saat kritis, mendampingi Nabi dalam jihad yang berat, bahkan rela menyerahkan diri dan hartanya untuk membantu dakwah Rasulullah.

Bahkan sebelum kematian Abu Thalib dan St. Khadijah. Ayahnya meninggal ketika masih dalam kandungan. Kemudian ibunya meninggal beberapa tahun setelah Nabi lahir. Kemudian dipelihara oleh neneknya Abdul Muttalib itupun meninggal. Kemudian dipelihara oleh pamannya Abu Thalib.

Mereka semua meninggal. Supaya Nabi hanya menggantungkan harapannya kepada Allah SWT. Melalui Isra Mi’raj Allah memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaranNya kepadanya. Agar Nabi Muhammad SAW tidak bersedih. Dan  semakin meningkatkan imannya dan menggantungkan sepenuhnya hidupnya kepada Allah SWT.

Dalam kehidupan sehari-hari ada orang yang imannya hanya sekedar penghias bibir, tidak melaksanakan perintah Allah. Ada juga yang hanya sekedar identitas, biasa di sebut dengan islam KTP. Bahkan ada yang sama sekali, tidak beriman kepada Allah. Tidak percaya bahwa dunia dan segala apa yang ada di dalamnya adalah ciptaan dan milik Allah. Bagi dia, penciptaan langit dan bumi itu hanya proses seleksi alam saja. Bahagia atau tidak, sejahtera atau miskin itu tergantung pada kerja keras dan kecakapan diri sendiri. 

Teringat cerita tentang seorang santri cerdas, yang mendapat beasiswa pendidikan luar negeri, sebutlah Eropa atau Amerika. Setelah pendidikan selesai. Dia balik ke negerinya dan menemui Kyainya. Kemudian dengan angkuh berkata kepada sang Kyai bahwa dahulu ada tiga hal yang diajarkan kepada kami (santri).  Pertama, Tuhan itu ada. Kedua, takdir itu ada. Ketiga setan masuk neraka. Ternyata semua itu tidak benar. Kalau Tuhan ada, mana buktinya, tidak bisa dilihat. Mendengar hal itu sang Kyai marah dan menampar keras santri tersebut. Santri berkata mengapa Kyai menampar saya. Itulah jawaban ketiga pertanyaanmu, kata Kyai. 

Dalam keadaan merasakan nyeri dan sakitnya tamparan. Santri berkata apa hubungan pertanyaan saya dengan tamparan Kyai. Kata Kyai, kamu berkata bahwa Tuhan tidak ada karena tidak bisa dilihat. Rasa sakit akibat tamparan saya, tidak bisa dilihat tapi kamu rasakan, bukan?. Seperti itu keberadaan Tuhan, tidak bisa dilihat tetapi bisa dirasakan bahwa Dia ada, tegas Kyai. Kemudian kamu bilang takdir tidak ada. Kata Kyai kepada santri. Pernahkah kamu berpikir bahwa jika bertemu dengan Kyai, akan mendapat tamparan. Kata santri tidak. Itulah takdirmu, tambah Kyai. Kemudian kamu berkata apa gunanya setan masuk neraka. Neraka terbuat dari api. Setan juga dibuat dari api. Kalau dibakar, setan pasti tidak akan merasa sakit. Kemudian Kyai berkata waktu saya tampar tadi kamu merasakan sakit. Padahal pipi dan tanganku sama terbuat dari kulit. Demikian juga setan pasti akan  merasakan kesakitan dan panasnya api neraka. 


Demikian juga kisah tentang Tukang Cukur yang mengatakan kepada pelanggannya bahwa Tuhan itu tidak, karena banyak orang hidup dalam kemiskinan. Lalu setelah itu, pelanggan berpikir bagaimana cara yang tepat untuk meyakinkan Tukang Cukur  itu, bahwa Tuhan ada. Hingga menemukan solusinya dengan membawakan orang yang berambut gonrong. Pelanggan lalu berkata, di dunia ini tidak ada Tukang Cukur. Kata Tukang Cukur, buktinya baru saja saya cukur kamu. Kata pelanggan, kalau ada Tukang Cukur, mengapa masih ada orang yang berambut gonrong. Kata Tukar Cukur, itu salah dia, tidak mau datang untuk dicukur. Lalu pelanggan berkata demikian juga halnya dengan orang miskin itu. Dia mengalami kesulitan tetapi tidak mendatangi atau mendekati Allah untuk memohon jalan keluar dari kesulitannya itu. 

Melalui Isra Mi’raj ini, semoga semakin yakin tentang keberadaan dan kekuasaan Allah swt. serta menjadikan Allah swt sebagai pemberi jalan keluar dari semua masalah dan kesulitan yang dihadapi. Sebagaimana halnya dengan apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW. 

Wallahu a’lam.

Makassar, 18 Maret 2021

Patris Hasanuddin