Kegiatan

on 08 Maret 2021
  • Message of the Director

Bagi yang pernah ikut Pramuka pasti hapal dengan ungkapan ini "suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan".

Itu adalah salah satu dari Dasa Dharma Pramuka. Pesannya agar setiap insan pramuka memiliki pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik, benar dan suci.

Ungkapan itu juga menjelaskan bahwa manusia memiliki tiga hal yang harus dijaga yaitu pikiran, perkataan dan perbuatan. Tidak hanya dijaga kesuciannya tapi juga keselarasannya. Artinya pikiran, perkataan dan perbuatan harus sejalan. Jika perkataan dan perbuatan sejalan maka itulah kejujuran. Misalnya seorang saksi yang jujur mengatakan sesuai yang disaksikan. Seseorang yang jujur mengatakan apa adanya sesuai dengan yang diperbuat. Jika ia mengatakan yang tidak dilakukan, tidak sesuai kenyataan maka itu adalah dusta atau kebohongan.

Kejujuran merupakan sifat baik yang universal, lintas negara dan agama. Orang Bugis mengatakan "taro ada taro gau". Orang Inggris mengatakan "walk the talk". Semua agama juga mengajarkan untuk berlaku jujur dan tidak berbohong. Semua orang juga suka kejujuran. Bahkan orang jahat juga tidak suka kebohongan meskipun dia suka berbohong. Kepala perampok tidak ingin ada anggotanya sesama perampok yang tidak jujur. Itu akan berbahaya karena orang pembohong akan mudah berkhianat. Bisa jadi dapat banyak harta rampokan tapi dilaporkan sedikit.

Apalagi di masyarakat yang beradab. Kejujuran sangat didambakan di tengah sulitnya kehidupan. Jika kejujuran telah ditegakkan maka negara akan aman, tenteram dan damai. Kejahatan seperti pencurian akan sirna karena orang yang jujur tidak akan mengambil yang bukan haknya. 

Melihat kondisi Indonesia di mana kejujuran masih jadi barang langka maka wajar saja belum bisa jadi negara yang aman, tenteram dan damai. Untuk itu mari kita mulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat sampai tingkatan negara. Berusahalah menjadi orang jujur yang suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Selaras antara perkataan dan perbuatan.

Bagi mereka yang jadi kepala keluarga jadilah kepala keluarga yang jujur. Setia pada istri dan menjadi teladan kebaikan pada anak-anak. Bagi yang menjadi guru, dosen dan ustadz jadilah pendidik yang jujur. Jangan mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakan. Ingat ancaman Allah yang sangat benci kepada orang yang mengatakan apa yang tidak dikerjakan. 

Bagi mereka yang jadi pedagang dan pengusaha, jadilah pedagang dan pengusaha yang jujur. Jangan mengurangi takaran timbangan. Jangan menipu konsumen untuk mengambil keuntungan secara serakah. Jangan bersekongkol dengan penguasa untuk merugikan rakyat. Jangan membuat kartel untuk menguasai dan mempermainkan pasar.

Bagi mereka yang menjadi politisi dan wakil rakyat jadilah politisi dan wakil rakyat yang jujur. Dengarkan aspirasi rakyat. Jangan khianati mereka. Perjuangkan aspirasi rakyat bukan aspirasi dan kepentingan partai.

Bagi mereka yang menjadi pemimpin di masyarakat dari tingkat RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi dan Negara maka jadilah pemimpin jujur, walk the talk, taro ada taro gau. Tunaikan apa yang dijanjikan kepada rakyat. Jangan korupsi dan manipulasi anggaran untuk keuntungan pribadi, keluarga dan kelompok. 

Semoga segera terwujud Indonesia tanpa ada lagi pemimpin yang ditangkap KPK. Seluruh pemimpinnya jujur sehingga KPK pun bubar karena tak ada lagi pekerjaan. Mungkinkah itu terwujud? Tiada yang mustahil.