Kegiatan

on 24 November 2020
  • Message of the Director

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah memberikan izin membuka kembali sekolah pada bulan Januari 2021.

Tapi syaratnya mendapatkan persetujuan dari Pemerintah Daerah, Komite Sekolah dan orang tua mengizinkan anaknya masuk sekolah. 

Setelah menjalani Belajar Dari Rumah (BDR) sejak bulan Maret 2020 memang efektivitas pembelajaran sangat rendah. Efektivitas belajar diukur dari peningkatan kompetensi, karakter dan literasi. Komponen kompetensi ada 3 komponen yaitu knowledge, skill dan attitude. 

Melalui online learning ketiganya tidak bisa maksimal. Dengan tatap muka langsung saja content pelajaran belum tentu siswa paham dengan baik apalagi online. Demikian pula skill yang harus praktek langsung. Attitude atau sikap juga butuh role model dan kasus nyata dalam kehidupan. Online learning sulit menfasilitasi itu semua dengan baik. 

Faktor ketidakefektifan disebabkan oleh 3 hal yaitu process, people dan technology. Proses pembelajaran butuh keterpaduan antara individual dan social learning. Belajar butuh interaksi antar peserta didik. Selain membantu meningkatkan pemahaman juga dapat membangun kemampuan kolaborasi dan komunikasi. Online learning sangat terbatas dalam hal kolaborasi dan komunikasi.

Lalu pada aspek people dan technology pelaksanaan online learning tidak bisa efektif karena keterbatasan infrastruktur teknologi dan tidak meratanya kemampuan guru dalam menggunakan ICT. Tidak semua daerah memiliki sinyal yang bagus untuk online learning. 

Lalu masih banyak orang tua yang tidak bisa menyiapkan sarana belajar online seperti smartphone dan laptop untuk anaknya karena keterbatasan ekonomi. Belum lagi muncul stress di siswa dan orang tua sampai terjadi kekerasan pada anak. Bahkan ada kasus siswa bunuh diri karena mengalami depresi. Selain itu juga mengubah perilaku siswa menjadi kehilangan learning habit. Tidak biasa lagi belajar dan hidup disiplin. 

Juga ada kekhawatiran orang tua memandang sekolah tidak penting lagi. Apalagi wabah covid memberi dampak ekonomi pada keluarga. Prioritas utama keluarga keluarga adalah mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bisa jadi orang tua memandang lebih penting menyuruh anak-anaknya membantu bekerja daripada belajar. Jika ini terjadi maka pada saat kondisi normal angka putus sekolah akan naik.

Dari paparan di atas maka wajar saja Kemendikbud memutuskan untuk membuka kembali sekolah dengan syarat yang lebih longgar dari pada sebelumnya. Tidak lagi zona hijau saja, tapi semua zona bisa buka sekolah asalkan ada izin dari Pemda dan Komite Sekolah serta orang tua sendiri.

Sebenarnya kebijakan ini masih sangat riskan jika melihat jumlah kasus positif setiap hari. Sampai hari ini total kasus harian masih di angka 4000 - 5000 orang. Namun sebarannya sudah tidak menyebar di banyak provinsi.  Kontribusi terbesar berasal dari provinsi di Pulau Jawa. 

Melihat angka ini provinsi di luar Jawa sebagian besar bisa kembali sekolah pada bulan Januari 2021. Ini cukup tepat karena infrastruktur teknologi di luar Jawa masih ketinggalan. Pulau Jawa relatif lebih bagus apalagi di kota besar. Jadi pulau Jawa masih bisa optimalkan online learning.

Akhirnya kita berharap kebijakan ini dijalankan secara hati-hati. Keselamatan dan kesehatan peserta didik harus jadi prioritas. Pemda baru boleh mengeluarkan izin setelah memastikan sekolah benar-benar siap menjalankan protokol kesehatan. Untuk itu assessment kesiapan harus dijalankan dengan baik dan ketat. 

Komite Sekolah sebagai perwakilan orang tua juga harus menjadi mitra konstruktif dan kritis sekolah. Pemda dan Komite Sekolah harus mencermati secara serius pada tahap perencanaan dan persiapan. Jika belum siap maka jangan diizinkan. 

Masih ada waktu lebih dari satu bulan. Mari siapkan diri jika memang serius ingin kembali masuk sekolah. Harapannya pendidikan kembali berjalan dan kesehatan dan keselamatan siswa juga dapat tetap dijaga.