Kegiatan

on 10 November 2020
  • Message of the Director

Hari ini 10 November adalah Hari Pahlawan. Mengenang peristiwa pertempuran heroik para pejuang kemerdekaan melawan tentara Sekutu yang dipimpin oleh Inggris di Surabaya.

Juga ada tentara Belanda yang mencoba membonceng tentara Sekutu agar kembali bisa menguasai dan menjajah Indonesia. Berbekal senjata ala kadarnya hasil rampasan dari tentara Jepang bahkan ada yang menggunakan bambu runcing, para pejuang berhasil mengalahkan tentara Sekutu bahkan Jenderal Mallaby tewas dalam pertempuran.

Bisa dibayangkan tentara Sekutu pemenang Perang Dunia II dengan persenjataan lengkap kalah oleh para pejuang dengan senjata sederhana. Bahkan jenderal pasukan Sekutu tewas di medan pertempuran. Apa yang menjadi kunci kemenangan para pejuang kemerdekaan pada masa itu? Kuncinya dapat disingkat dalam kata KIDS. Apa itu? Ada 4 kunci yaitu keyakinan, ikhtiar, do'a dan sabar.

Para pejuang punya keyakinan bahwa berperang melawan penjajah adalah jihad fii sabilillah. Apalagi para ulama telah mengeluarkan Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 yang kemudian dikenang sebagai Hari Santri Nasional. Keyakinan ini berwujud dalam ungkapan hidup mulia atau mati syahid. Menjadi semboyan para pejuang yaitu Merdeka atau Mati.

Keyakinan yang kokoh lahir dari iman dan takwa kepada Allah. Intinya adalah kesadaran bahwa hidup ini memiliki misi atau tugas suci dan mulia. Apa itu? Menegakkan kebenaran, keadilan, persamaan dan kemerdekaan. Termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 " .. penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan". Berjuang menegakkan itu semua adalah jihad atau berjuang di jalan Allah. Oleh karena itu tidak ada rasa takut karena yakin jika mati dalam perjuangan adalah syahid dan balasannya surga.

Selanjutnya keyakinan saja tidak cukup. Perlu ikhtiar yang sungguh-sungguh. Keyakinan melahirkan keberanian. Ikhtiar wujudnya strategi yang tepat dan eksekusi yang cepat. Jadi berani saja tidak cukup, harus penuh perhitungan. Berperang dengan strategi yang lahir dari analisis kondisi lapangan. Keterbatasan persenjataan melahirkan strategi gerilya yang membuat musuh kewalahan. Keberanian dan strategi yang tepat inilah yang kemudian berbuah kemenangan di berbagai medan pertempuran.

Setelah keyakinan dan ikhtiar kunci selanjutnya adalah do'a yaitu memohon pertolongan kepada Allah. Sebelum para pejuang berangkat ke medan laga maka dilepas oleh do'a ulama. Saat di medan juang, do'a juga menjadi senjata.

Ada kisah yang sangat populer di mana Jenderal Soedirman dan pasukannya telah dikepung oleh tentara Belanda. Tidak mungkin lagi menyelamatkan diri. Maka Jenderal Soedirman memerintahkan seluruh pasukannya duduk berzikir dan berdo'a kepada Allah. Apa yang terjadi? Pertolongan Allah turun. Jenderal Soedirman dan pasukannya tidak terlihat oleh tentara Belanda. Akhirnya mereka pun selamat.

Keyakinan, ikhtiar dan do'a harus dilengkapi dengan kesabaran. Penderitaan, kelaparan dan kelelahan menjadi menu sehari-hari para pejuang. Keterbatasan logistik harus dihadapi dengan menghemat  bahan makanan. Perjalanan yang jauh masuk keluar hutan sangat melelahkan. Berkat kesabaran itu semua dapat dilalui.

Semuanya kemudian menjadi mudah karena dukungan dari rakyat. Mereka dengan sukarela berbagi makanan kepada para pejuang. Juga menjadi mata-mata untuk mencari informasi kekuatan musuh. Berbekal itu semua semangat tak pernah goyah dan akhirnya perjuangan berbuah kemenangan.

Itulah refleksi singkat pada Hari Pahlawan 10 November 2020 ini. Pada masa sekarang ini kita mencari pahlawan abad XXI. Pahlawan yang siap berjuang memajukan bangsa. Siap berkorban pikiran dan tenaga untuk mengisi kemerdekaan. Berbekal keyakinan, ikhtiar, do'a dan sabar. Semoga lahir pahlawan baru Indonesia.

Makassar, 10 November 2020 

Syamril