Kegiatan

on 27 Oktober 2020
  • Message of the Director

Krisis akibat Covid-19 masih terus berlanjut. Meskipun mulai ada penurunan jumlah yang terjangkit virus corona, namun tidak akan berhenti sampai vaksin ditemukan.

Lalu pertumbuhan ekonomi Indonesia dua kuartal sudah negatif. Kalla Group juga mengalaminya. Revenue dan profit turun drastis sehingga manajemen mengambil langkah efisiensi pada segala bidang agar roda perusahaan tetap berjalan. 

Bagaimana menghadapi itu semua? Pesan pak Solihin Jusuf Kalla di Townhall Meeting 2020, "kita harus bangkit, jangan duduk apalagi berbaring atau tidur". Jangan menyerah oleh keadaan sehingga duduk pasrah berdiam diri. Maka sangat tepat tema Ulang Tahun ke 68 pada tahun 2020 ini yaitu Bangkit Bersama Untuk Indonesia. 

Ustadz Adi Hidayat pada Kajian Virtual dalam rangka Ulang Tahun Kalla Group ke 68 berbagi kiat bangkit di masa sulit menurut ajaran agama. Hal pertama yang harus dimiliki yaitu mindset atau pola pikir dan paradigma positif. Ustadz Adi Hidayat berpesan "Mari memandang ujian ini sebagai jalan untuk menuju kesuksesan".  Bukankah mahasiswa yang akan wisuda harus terlebih dahulu melalui beragam ujian?

Allah menciptakan segala sesuatu di dunia ini berpasang-pasangan. Ada siang-malam, baik-buruk. Termasuk dalam diri manusia, ada sifat baik dan buruk. Adanya sifat buruk tujuannya bukan untuk membuat manusia jadi jahat. Akan tetapi sifat buruk menjadi katalis atau pendorong munculnya sifat baik. Contohnya sifat marah yang lawannya sabar. Suatu kondisi bisa saja membuat kita marah. Tapi melalui pengendalian diri yang baik akan mendorong munculnya sabar.

Demikian pula adanya kesulitan. Mari pandang ia sebagai katalis munculnya kemudahan. Bukankah dalam Al Qur'an di Surat Al Insyirah : 5-6 Allah berfirman bahwa "bersama kesulitan akan ada kemudahan, dan bersama kesulitan akan ada kemudahan". Ada penegasan dengan pengulangan.

Selanjutnya menurut Ustadz Adi Hidayat, hal kedua yang harus dimiliki yaitu kesungguhan yang bahasa Al Qur'an akar katanya yaitu jahada. Dari kata jahada muncul tiga kata yaitu ijtihad, jihad dan mujahadah. Ijtihad terkait dengan perencanaan. Melalui proses berfikir memetakan masalah, mencari akar penyebab dan merumuskan rencana solusi. Melihat dari berbagai sisi dan aspek sehingga dapat merumuskan solusi secara tepat. 

Kalla Group telah membangun tradisi ijtihad yang baik melalui KOSMO, PDCA, Improvement dan Inovasi. Lahirlah berbagai program di bidang finance, strategic, marketing, business development, human capital, ICT, digitalisasi bisnis proses dan lain sebagainya. 

Setelah ijtihad maka lanjut ke jihad. Jihad terkait dengan eksekusi atau tindakan secara sungguh-sungguh. Rencana tanpa aksi hanya jadi mimpi. Agar mimpi jadi kenyataan maka perlu eksekusi yang disiplin, konsisten dan persisten. Untuk itu perlu monitoring secara berkelanjutan melalui morning briefing, weekly meeting, mentoring atasan dan lainnya. 

Setelah ijtihad dan jihad maka perlu mujahadah yaitu perjuangan mengendalikan gejolak jiwa. Bisa jadi sekali aksi akan menemukan kegagalan. Dampaknya muncul frustasi dan putus asa. Di sinilah perlunya kesabaran. Merespon segala kendala dengan pantang menyerah. Gagal-ulangi, salah-perbaiki sampai berhasil.

Hal ketiga yang harus dimiliki yaitu tawakkal dengan mengembalikan segalanya kepada Allah. Tugas manusia adalah berusaha. Hasilnya di tangan Allah yang Maha Kuasa. Do'a menjadi senjata bagi orang yang beriman dan bertakwa. Bahwa dalam hidup ini ada hal yang rasional. Tapi juga ada yang supra rasional. Tidak ada yang mustahil jika Allah Yang Maha Penolong  membantu hamba-Nya.

Semoga Kalla Group dapat segera bangkit di masa sulit ini. Yakinlah bahwa ujian kesulitan bukan untuk menghancurkan. Tapi ia datang untuk membuat kita kuat dan siap meraih kesuksesan yang lebih besar. Bukankah Kalla Group telah membuktikannya selama ini?  

Pada setiap masa pergantian kepemimpinan puncak di Kalla Group selalu mengalami berbagai ujian dan tantangan. Cerita pak JK dan Bu Ima di Townhall Meeting 19 Oktober 2020. Pada saat pak JK mulai memimpin di tahun 1967, dampak transisi politik dari Orde Lama ke Orde Baru membuat perusahaan bermasalah sampai hanya ada satu orang karyawan yang masuk kantor. Lalu pada awal kepemimpinan bu Ima ada krisis moneter 1998. 

Berkat rahmat Allah itu semua berhasil dilalui. Bahkan setelah itu Kalla Group tumbuh menjadi lebih besar dan kuat. Kuncinya tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Kalla yaitu Kerja Ibadah, Apresiasi Pelanggan, Lebih Cepat Lebih Baik dan Aktif Bersama. 

Berkaca dari pengalaman tersebut maka hadirkan kelapangan dalam jiwa. Bersama kesulitan akan ada kemudahan. Selesai satu urusan, lanjutkan dengan urusan yang lain. Dan hanya kepada Allah kita menggantungkan harapan (Q.S. Al Insyirah : 5-8). Kerja keras, cerdas, ikhlas dan tawakkal. Mari Bangkit Bersama Untuk Indonesia. 

Makassar, 20 Oktober 2020

Syamril