Kegiatan

on 06 Oktober 2020
  • Message of the Director

Tentara Nasional Indonesia pada 5 Oktober 2020 Ulang Tahun yang ke 75. Perjalanan sejarah yang panjang mengawal

Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Hanya butuh kurang 2 bulan dari Proklamasi Kemerdekaan menuju lahirnya TNI. 

Sejarah TNI tidak bisa dipisahkan dengan pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun 1942-1945. Kebijakan Jepang merekrut pemuda Indonesia sebagai Pasukan Pembela Tanah Air merupakan embrio  adanya pasukan ketentaraan yang terlatih baik. 

Kelak saat perjuangan revolusi fisik, pasukan PETA ini yang menjadi tulang punggung di Badan Keamanan Rakyat yang berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat dan akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia. Dapat kita lihat pimpinan TNI pada masa awal kemerdekaan hampir semuanya hasil pendidikan militer di PETA. Itulah salah satu hikmah dan dampak penjajahan Jepang yang berguna dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Perjalanan TNI pasca perang kemerdekaan diwarnai berbagai dinamika. Munculnya pemberontakan seperti DI/TII, Permesta dan PRRI pemimpin dan penggeraknya  juga dari TNI yang membelot. Muncul ketidakpuasan atas kebijakan Pemerintah Pusat. Ada sebagian kelompok yang merasa diperlakukan tidak adil. Atau ada janji Pemerintah Pusat yang tidak dipenuhi  

Akhirnya ketidakpuasan itu memicu pemberontakan bersenjata. Namun TNI sebagai institusi pengawal negara berhasilkan memadamkan seluruh pemberontakan tersebut.   Salah satu yang terkenal di Sulsel yaitu TNI berhasil memadamkan DI/TII setelah pemimpinnya Qahar Muzakkar berhasil ditembak mati.

Perjalanan TNI masih terus diwarnai dinamika. Setelah pemberontakan berhasil dipadamkan, pada tahun 1960 an PKI melakukan penyusupan ke dalam tubuh TNI di Angkatan Darat, Laut dan Udara. Setelah berhasil menggalang kekuatan, PKI melakukan pemberontakan yang kedua kalinya setelah Indonesia merdeka.

Menggunakan kadernya di TNI maka pecahlah Gerakan 30 September  yang melakukan penculikan dan pembunuhan para jenderal. Namun kembali TNI berhasil mengatasinya. Bersama rakyat dan mahasiswa para pemberontak ditangkap. PKI dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang sampai sekarang.

Dari tahun 1965 sampai sekarang tidak ada lagi pembelotan pada kelompok di tubuh TNI. Fokus aktivitas TNI menjaga keutuhan NKRI dengan memadamkan gerakan separatisme seperti Gerakan Aceh Merdeka, Organisasi Papua Merdeka dan Gerakan Fretelin Timor Leste. GAM berakhir dengan perdamaian. Timor Leste selesai melalui referendum. Tinggal OPM yg masih merongrong NKRI. 

Pada masa Orde Baru, TNI dengan Dwi Fungsi ABRI masuk ke dalam sendi sendi kehidupan sosial dan politik sebagai anggota DPR/MPR, pejabat publik Bupati, Walikota dan Gubernur. Pada tahun 1998 melalui Gerakan Reformasi Dwi Fungsi ABRI dihilangkan. TNI kembali ke fungsi utamanya sebagai pertahanan negara. TNI berdiri di atas semua golongan dan tidak ikut dalam politik kekuasaan.

Kita berharap semoga dinamika pada Orde Lama, Orde Baru dan 22 tahun di Era Reformasi dapat semakin mendewasakan TNI dalam mengemban peran sebagai pengawal NKRI. Tentu dibutuhkan perhatian dari Pemerintah Pusat dan DPR agar TNI dapat mengemban tugasnya dengan tenang dan senang. Jangan sampai ada rasa perlakuan tidak adil dibandingkan dengan institusi lain seperti Kepolisian.

Jangan sampai ada ungkapan "TNI banyak tantangan, Kepolisian banyak tentengan". Untuk itu Pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan anggota TNI agar dapat hidup layak dan wajar. Dirgahayu TNI ke 75. Jayalah TNI, Jayalah Indonesia.