Kegiatan

on 29 September 2020
  • Message of the Director

Pekan ini ada dua hari bersejarah yaitu Gerakan 30 September dan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 1965. Partai Komunis Indonesia melakukan makar yang kedua kalinya sejak Indonesia merdeka. Pertama pada tahun 1948 di Madiun. 

Gerakan komunisme di manapun di belahan dunia ini memiliki pola yang sama yaitu kekerasan dan menghalalkan segala cara demi merebut kekuasaan. Sebagai ideologi anti Tuhan maka wajar saja demikian. Tentu tidak mengenal konsep dosa-pahala, surga-neraka. Bagi komunis hidup ini hanya di dunia. Capailah segala keinginan dan hadapi semua tantangan dengan cara apapun. Halalkan segala cara.

Maka terjadilah berbagai revolusi di beberapa negara yang memakan korban jutaan jiwa manusia. Di Rusia yang dulu melahirkan Uni Sovyet dengan pemimpinnya yang terkenal yaitu Lenin dan Stalin. Lalu di China pun demikian. Korea, Vietnam, Kamboja juga korban jutaan jiwa. Itulah bukti nyata komunis yang menganut ideologi kekerasan. 

Peristiwa di Indonesia pada tahun 1948 dan 1965 pun demikian. Syukur Alhamdulillah Indonesia masih dalam lindungan Allah. Mahasiswa, ummat Islam dan tentara dapat bersatu melawan komunis yang pada tahun 1960-an telah melakukan teror kepada rakyat yang berbeda paham dan menjadi lawan politiknya.


Apakah setelah komunis tumbang pada Oktober tahun 1965 mereka menjadi hilang dari bumi Indonesia. Ternyata tidak. Sebagai ideologi tetap ada. Penggerak dan pendukungnya juga masih terus bergerak. Tentu yang berbeda adalah cara bergeraknya. 

Belajar dari sejarah bahkan sejak sebelum kemerdekaan, ada 3 pola gerakan komunis yang masih terus berjalan sampai sekarang. Sering disingkat dengan IPA yaitu infiltrasi, pembusukan dan adu domba. 

Pada masa sebelum merdeka yang jadi korbannya yaitu Syarikat Islam. Melihat SI gerakan yang terus tumbuh di seluruh bumi Nusantara maka komunis melakukan penyusupan atau infiltrasi. Mereka yang anti Tuhan menyusup ke Syarikat Islam, organisasi yang berdasarkan agama.

Masuk bukan hanya sebagai anggota bahkan sampai menjadi pengurus inti. Tentu butuh kemampuan luar biasa untuk menyembunyikan jati diri. Bukan saja kamuflase bahkan memasukkan ajaran komunis dalam tubuh Syarikat Islam. Dampaknya SI pecah menjadi golongan merah dan putih. Golongan merah dipimpin oleh komunis.

Setelah berhasil menyusup maka langkah selanjutnya yaitu melakukan pembusukan. Maksudnya membuat fitnah yang dapat membangun citra buruk bagi lembaga yang disusupinya. Akhirnya terjadi polarisasi dan perpecahan. Langkah terakhir yaitu adu domba. Sesama anggota yang berbeda paham dan pendapat dibenturkan sehingga pecah.

Pola IPA (infiltrasi, pembusukan, adu domba) masih terus berlangsung sampai sekarang. Rakyat Indonesia khususnya umat Islam harus hati-hati jika melihat ada gerakan yang terus menonjolkan perbedaan paham bukan persamaan. Apalagi jika mulai "mengkafirkan" golongan lain yang berbeda. Itu adalah langkah pembusukan sebelum akhirnya mengadu domba sesama rakyat atau ummat Islam.

Semoga kita semua tetap waspada dan tidak melupakan sejarah. Mari tetap jaga Pancasila dari bahaya laten komunis. Caranya menjadi warga Indonesia yang Pancasilais. Berketuhanan, berperikemanusiaan, menjaga persatuan, musyarawah dan mewujudkan keadilan sosial dengan melawan kemiskinan karena itu salah satu celah pintu masuk ajaran komunisme.