Kegiatan

on 30 Oktober 2017
  • Message of the Director

Perang Diponegoro 1825-1830 menghabiskan banyak dana milik Belanda. Untuk mengembalikannya maka digulirkanlah Tanam Paksa yang membuat rakyat Indonesia menderita. Hal ini membuat suasana politik di negeri Belanda pada masa itu banyak protes atas kesewenangan pemerintah di daerah jajahan. Maka lahirlah politik etis yang memberikan pendidikan pada pribumi sebagai balas budi. Ini juga merupakan cara penjajah untuk menyiapkan pribumi menjadi pegawai golongan rendah yang dapat digaji rendah.


Maka dibuatlah Sekolah Rakyat untuk level bawah dan Sekolah Khusus untuk anak bangsawan. Memang hasilnya sesuai rencana Belanda yaitu adanya pegawai pamong praja dari pribumi yang dapat menjadi pegawai Belanda dengan gaji lebih rendah dibandingkan mendatangkan pegawai dari Belanda. Anak-anak bangsawan pribumi yang memiliki potensi banyak yang bersekolah sampai ke negeri Belanda. Tentu harapannya mereka jadi pegawai level menengah Belanda di nusantara. Dan memang demikianlah adanya.

Kita kenal Soekarno, Hatta, Agussalim, Soetomo dan nama nama lain adalah putra bangsawan pribumi yang disekolahkan oleh Belanda. Harapannya mereka menjadi pegawai Belanda tapi pendidikan membuat mereka sadar akan kondisi bangsanya. Jadilah tokoh tokoh pergerakan yang kemudian menjadi lawan Belanda. Maksud semula menjadi teman malahan menjadi lawan. Itulah berkah tak terduga dari kebijakan penjajah Belanda pada masa itu.

Demikian pula pada masa penjajahan Jepang yang hanya 3,5 tahun. Kebutuhan pihak Jepang akan tentara yang banyak untuk melawan Sekutu tidak bisa dipenuhi oleh bangsa Jepang. Maka dilakukanlah rekrutmen tentara dari kalangan pribumi. Berbondong-bondonglah pemuda Indonesia menjadi tentara heiho atau Peta (pembela tanah air).

Jepang melatih kemiliteran para pemuda pribumi dengan harapan dapat melawan musuh Jepang pada Perang Dunia II. Maka jadilah pemuda Indonesia menguasai keterampilan perang militer. Setelah Jepang menyerah tanpa syarat akibat bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki dan tentara Belanda ingin kembali menguasai Indonesia dengan membonceng tentara Sekutu. Maka para pemuda yang telah dilatih militer oleh Jepang yang menjadi pembela Indonesia. Mereka berhimpun dalam berbagai laskar yang kemudian bersatu dalam Barisan Keamanan Rakyat (BKR) lalu menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang menjadi cikal bakal TNI.

Inilah berkah tak terduga dari penjajahan Jepang. Lahirnya kekuatan militer Indonesia. Bersama dengan berkah politik etis dari penjajah Belanda yang melahirkan pemimpin sipil dari tokoh pergerakan maka kemerdekaan Indonesia dapat dipertahankan pada masa Revolusi Fisik tahun 1945-1949. Penjajah membuat makar dan rencana untuk kepentingannya. Namun Allah memiliki rencana lain untuk kemerdekaan Indonesia. Dan sungguh itulah berkah yang luar biasa sehingga tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 "atas berkat rahmat Allah yamg Maha Kuasa... ".