Kegiatan

on 30 Juli 2020
  • Message of the Director

Satu persatu negara maju yang selama ini ekonominya stabil mulai kena resesi. Singapura dan Korea Selatan telah mengumumkan ekonomi negaranya mengalami resesi akibat dampak Covid. Selama ini kedua negara tersebut sangat kuat karena ekonominya mengandalkan teknologi dan jasa.

Ternyata juga tetap kena dampak ekonomi yang parah.

Dalam skala korporasi beberapa perusahaan besar juga mulai bertumbangan. Umumnya perusahaan yang produknya bukan kebutuhan primer tapi ke tersier. Produsen barang- barang branded dan life style bukan lagi kebutuhan prioritas  sehingga penjualan menurun drastis.

Bagaimana dengan Indonesia? Alhamdulillah sampai saat ini masih bisa bertahan. Apa yang membedakan Indonesia dengan negara lain? Kata kuncinya diversity atau keberagaman sumber ekonomi.

Pepatah kuno mengatakan "jangan menyimpan telur dalam satu keranjang". Jika keranjang itu jatuh maka seluruh telur akan pecah. Jadi resikonya sangat tinggi. Berbeda jika telur disimpan dalam banyak keranjang. Jika satu keranjang jatuh maka masih ada telur di keranjang lain yang aman.

Singapura hanya punya dua keranjang yaitu jasa dan wisata. Kebetulan semua keranjang itu jatuh karena Covid. Maka  pecahlah semua telurnya. Dampaknya ekonomi negara masuk dalam krisis yang dalam berupa resesi.

Indonesia beruntung karena punya banyak keranjang. Selain jasa dan wisata juga ada pertanian yang merupakan kebutuhan pokok. Itu tidak akan kena dampak Covid karena menjadi prioritas utama di masa sekarang ini.

Indonesia juga beruntung karena jumlah penduduknya besar. Ekonomi dapat berputar dari perputaran belanja dalam negeri untuk pemenuhan kebutuhan rakyat. Meskipun daya beli menurun namun masih dapat menjaga pertumbuhan ekonomi tidak sampai jatuh sangat jauh.

Bagi perusahaan agar bisa bertahan maka harus mencari keranjang yang kuat dan tidak mudah jatuh kena dampak covid. Kuncinya perlu berinovasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Inovasi menurut beberapa sumber adalah penemuan yang berbeda dari yang sudah ada baik gagasan, metode, alat, produk, jasa dan lainnya. Tidak sekadar berbeda tapi juga diterima oleh masyarakat, diterapkan dan memberikan kemanfaatan ekonomi dan sosial.

Pemicu dari inovasi adalah persoalan dan masalah. Inovasi itulah yang menjadi solusinya. Contohnya saat banyak pasien covid di rumah sakit yang membutuhkan ventilator. Rumah sakit tidak bisa siapkan karena harga mahal sampai 300 jutaan. Maka beberapa kampus melakukan penelitian. Salah satunya adalah Vent-I (Ventilator Indonesia) karya ITB dan UNPAD. Harga hanya 20 jutaan.

Inovasi tidak selalu harus baru. Ciri utama inovasi adalah ada perbedaan. Tapi tidak asal beda. Harus ada manfaat. Harus lebih baik, lebih cepat dan kalau bisa lebih murah. 

Semoga masalah karena covid ini dapat memicu dan memacu kreativitas kita untuk berinovasi dalam segala bidang sehingga kita tetap dapat bertahan dan terhindar dari resesi.